Jumat, 29 Juni 2012

Love is Fool


Tittle               : Love is Fool
Part                 : 1
Genre             : Romance
                          Friendship
Cast                : Park Jiyeon
                          Lee Jieun
                          Kim Jongin
                          Yang Yoseob
                          Lee Chanhee            



            Anyeong! Park Jiyeon, itulah namaku. Aku hanyalah seroang gadis biasa yang mungkin bermimpi untuk suatu hal yang tak pasti, memang terasa begitu rumit. Aku bersekolah di Chunhan high school yang letaknya cukup jauh dari rumahku. Saat ini aku berada di grade 12B bersama dengan sahabat kecilku, Lee Jieun. Biasanya dia di panggil dengan julukan IU. Aku juga tak tahu kenapa orang-orang memanggilnya IU. Mungkin karena parasnya yang cantik dan dalam bahasa daerah di Indonesia disebut ayu. IU dan aku bukanlah sosok yang populer di kalangan siswa-siswi Chunhan high school. Kami hanyalah dua siswi yang terbilang populer dengan caranya sendiri. Kami tidak banyak berprestasi, tidak banyak mengikuti kegiatan klub, bahkan tidak banyak masuk ke dalam organisasi. Namun, IU dan aku terbilang cukup ramah pada siapapun, karena itulah kami cukup di kenal di kalangan teman-teman sepermainan.
           
            Banyak kesamaan yang ada pada diriku dan IU, mungkin hal itulah yang membuat kami mampu mempertahankan persahabatan kami sejak 14 tahun yang lalu. Dulu orangtua kami yang seringkali mengajak kami pergi ataupun bermain bersama. Orangtuaku dan orangtua IU adalah sahabat sejak mereka berada di senior high school. Oleh karena itu, mereka ingin persahabatan mereka dilanjutkan oleh anak-anak mereka. Rumah kami pun juga berdekatan, jadi kami sering berangkat atau pun pulang sekolah bersama.
           
            Saat ini, aku dan IU sedang masuk dalam sebuah jaring kehidupan anak remaja sewajarnya. IU menyukai salah seorang siswa yang berada dalam satu kelas yang sama dengan kami. Namanya Yang Yoseob, dia adalah ketua siswa di Chunhan high school ini. Menurutku, dia pria yang baik. Walaupun ia seorang ketua siswa, ia tak pernah sedikitpun terlihat angkuh ataupun membanggakan dirinya. Ia jauh lebih bersahabat dan seringkali lebih memilih untuk berkumpul bersama teman-teman dekatnya di banding harus terus berada di ruang ketua siswa. Pantas saja kalau hampir setiap gadis di Chunhan high school ini menyukainya. Selain terlalu banyak pesaing, kendala lain yang menghalang IU adalah Yoseob baru saja mengenalnya dan mereka tidak dekat. Ditambah lagi dengan posisi IU yang seringkali gugup jika berada di depan Yoseob.

            “Park Jiyeon!!” panggil beberapa anak yang berlintas di depan kelasku.

            Aku pun langsung mencari siapa pemilik suara tersebut. Ah, mereka hanya anak-anak dari kelas atas yang seringkali iseng menjodohkan salah satu temannya denganku. Dia adalah Lee Chanhee, atau biasa di panggil Chunji. Ia berada di grade 12D. Aku juga tak mengerti apa yang terjadi sehingga aku bisa berskandal dengannya. Jujur saja, Chunji adalah pria yang tampan, dia juga memiliki banyak teman, ditambah lagi ia masuk dalam kategori pria populer di Chunhan high school ini. Tapi, tunggu dulu! Bukan berarti aku menyukainya, aku tak mengenalnya dengan baik.

            “Park Jiyeon, Lee Chanhee mencarimu. Ia bilang, ia merindukanmu!” teriak teman-temannya yang sengaja berhenti di depan kelasku.
            “Jiyeon~ah, Chunji mencarimu.” ujar Yoseob dengan evilaughnya.
           
            Aku hanya tersenyum mendengar teriakan teman-teman Chunji dan ucapan Yoseob. Memang sulit untuk mengelak akan rumor seperti ini, bagiku inilah yang akan kami kenang jika kami sudah lulus di kemudian hari. Alangkah buruknya jika kami menginggalkan Chunhan high school ini tanpa suatu memori yang cukup menggemaskan. Lagipula, rumor seperti ini juga tidak berdampak buruk pada diriku sendiri ataupun pada Chunji. Terlihat di wajahnya bahwa ia baik-baik saja dengan semua ini.
           
            Setelah beberapa menit berlalu, kudengar suasana di depan kelasku sudah cukup tenang. Aku dan IU pun memutuskan untuk pergi ke kantin karena perut kami yang sudah terasa kosong sejak tadi. Kami melewati koridor panjang untuk menuju kantin yang letaknya di ujung koridor. Seperti inilah suasana di luar ketika jam istirahat tiba, padat sekali. Aku dan IU terpaksa berdesak-desakan untuk mendapat satu kantong French Fries dan dua gelas Chocolate Iced. Kami duduk di salah satu bangku panjang yang belum terisi penuh. Namun, bangku kami terlihat semakin padat ketika Chunji dan teman-temannya memutuskan untuk duduk di bangku yang sama dengan kami.

            “Jiyeon~” panggil salah satu temannya yang berada tepat di depanku.
            “Wae?”
            “Mmm… Hanya pesan itu?”
            “Ne. Aku tak mau terlihat gemuk di depanmu.” ujarku yang mulai pembicaraan dengan beberapa gombalan manis.
           
            Mendengar ucapanku yang mungkin terlalu tiba-tiba, mereka tertawa bersama dan mampu membuat sebagian siswa di kantin ini melihat ke arah kami. IU yang berada di sampingku pun ikut tertawa bersama mereka sambil sedikit terbatuk karena tersedak French Fries yang hampir saja ia telan.

            “Anio~ Walaupun kau gemuk, aku akan tetap menyukaimu.” ujar Chunji yang mulai terbawa dengan semua ini.
            “Tapi, Jiyeon. Mengapa kau meminum Chocolate Iced? Itu terlalu manis untuk ukuran wajahmu yang sudah sangat manis.” balas temannya yang lain.

            Aku dan IU mulai tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan mereka yang semakin menjadi-jadi. Lalu, kami pun sempat sejenak untuk melanjutkan kegiatan kami menghabiskan French Fries dan Chocolate Iced di hadapan kami. Kami cukup menikmatinya dengan lahap sebelum beberapa suara yang tak asing di telingaku dapat menghentikan aktivitasku dan IU dalam menghabiskan makanan kami.

            “Kai, bergabung dengan kami saja.” ajak Chunji.
            “Khmm…” deru IU sambil mendorong tanganku.

            Yah, alasan mengapa sikap IU seperti itu adalah karena Kai atau lebih tepatnya Kim Jongin akan bergabung bersama di meja kami. Dan satu-satunya tempat yang tersisa adalah di sebelah kananku. Dan kau tahu? Jantungku berdegup lebih kencang dibanding detak jantung normal biasanya. Kim Jongin… Sebuah nama yang akhir-akhir ini terus berputar di otakku. Entahlah, dia pria yang terlihat dingin, namun aku tahu dia bukanlah orang yang seperti itu jika dengan orang-orang yang sudah lama ia kenal. Tinggi badannya juga mampu melindungiku dari sengatan matahari. Kai tidak termasuk dalam kategori pria populer di Chunhan high school, namun ia cukup populer di pikiranku.

            Kai berada di grade 12A. Aku mengenalnya karena ketika kami berada di grade 11, kami mengikuti klub softball. Namun, setelah kami memasuki grade 12 ini, ia mengundurkan diri dari klub tersebut. Bisa dibilang aku tertarik karena sikapnya yang seringkali berbeda dengan siswa-siswa yang lain. Diantara teman-temannya, ia terlihat paling diam dan tak banyak bicara. Tapi, aku merasa sangat sulit untuk mencoba menyapanya terlebih dahulu, karena ia tak pernah memperhatikan apa yang terjadi di sekelilingnya. Bahkan, beberapa kali aku mencoba tersenyum padanya, ia tak memperhatikanku. Memang sakit rasanya… Tapi, jika kami berada pada jarak yang relative dekat, ia juga tak segan-segan mengajakku berbicara.

            “Jamkaman!! Kau duduk sebelah sini saja, biar aku yang duduk di samping Jiyeon.” ujar Chunji mencegah Kai yang hampir saja duduk di sampingku.
            “Maklum saja, Kai. Orang yang sedang jatuh cinta memang sering bertindak aneh.” ledek salah satu temannya dan diikuti gelak tawa dari yang lainnya, sedangkan Kai hanya tersenyum.
            “Gwenchana. Kau di sini, aku di situ.” jawab Kai sambil berdiri kembali.
            “Anio, anio! Aku gugup jika berada di sampingnya.” tolak Chunji dengan wajah yang dibuat tersipu.

            DEG!! Jantungku berhenti sejenak ketika Kai benar-benar telah sempurna duduk di sampingku. Memang dia memberi jarak yang cukup jauh, namun tetap saja detak jantungku tak bisa aku kontrol. Chunji dan teman-temannya kembali bergurau, sedangkan Kai yang terlihat sendirian menikmati makanannya. Aku juga turut diam sambil berusaha menenangkan perasaanku, sedangkan IU terlihat sedang tersenyum meledek ke arahku. Ia memang seorang teman yang sama sekali tidak bisa membantuku dalam mengatasi hal seperti ini, maka dari itu aku seringkali balas dendam dengan menggunakan Yoseob sebagai bahan ledekan.

            “Ya, Chunji! Habiskan makananmu, jangan perhatikan Jiyeon terus.” ledek salah satu temannya sambil menepuk pundak Chunji. Pada saat itu juga aku langsung membuang pandanganku pada Kai dan ternyata ia juga sedang memperhatikan ke arahku. Karena gugup aku langsung kembali menatap teman-teman Chunji.
            “Kalian tak tahu siapa yang ada di sampingku? Dia… Nae namjachingu.” ujarku dengan nada yang sedikit kupelankan.
            “MWORAGO?” teriak Chunji dan teman-temanny bersamaan.

            Kai hanya menahan tawanya ketika mendengar ucapanku. Ia tahu bahwa aku memang seringkali melakukan hal ini, bahkan pada siapapun. Sedangkan IU yang berada di sampingku terkekeh kecil dan aku hanya memasang wajah paling manisku pada teman-teman Chunji. Setelah membuat mereka semua tercengang, aku meninggalkan kantin dan kembali ke dalam kelas bersama IU. IU berkali-kali menepuk pundaku dan kembali mengingat apa yang baru saja terjadi. Ia bilang aku memang paling handal dalam hal ini. Tentu saja, daripada aku harus gugup di samping Kai dan tak tahu harus berkata apa, lebih baik aku membuat lelucon yang sebenarnya memang kalimat yang ingin aku miliki. Namun, mereka semua tentu tak dapat membedakan mana kalimat yang tulus dari hatiku ataupun candaan.

            Kami kembali ke dalam kelas yang masih terlihat kosong, mungkin siswa yang lain masih menghabiskan jam istirahat mereka. Kulihat Yoseob sedang duduk sendiri di bangkunya. Aku mengajak IU untuk menghampirinya, namun IU menolakku. Tapi aku tak menghiraukan tolakannya dan memastikan langkahku mengarah pada bangku yang berada di depan Yoseob. Dan terpaksa, IU mengikuti dari belakang. Kulihat Yoseob sedang menggambar sebuah gravity pada buku gambar A3nya. Ia memang sering menghabiskan waktunya untuk membuat gambar ataupun lukisan. Terang saja, ia masuk dalam klub lukis dan di dalam biodatanya ia juga menuliskan bahwa ia suka dalam hal melukis. Yoseob menghentikan aktivitasnya sejenak dan memperhatikan aku dan IU yang tengah memperhatikannya.

            “Waeyo? Kalian seperti pengamat seni yang kutemui kemarin, dan ia sungguh menyebalkan.” ujarnya.
            “Dan apa kau pikir kami menyebalkan?” tanyaku.
            “Kurang lebih begitu.”
            “Ya! Yang Yoseob!” ujarku dengan nada yang sedikit kunaikkan.
            “Kalau mau berteriak jangan di telingaku.”
            “Kau ini menyebalkan sekali. Sebenarnya siapa yang menyebalkan? Kami atau kau?”
            “Entahlah, hidup itu terkadang memang sulit dimengerti.”
            “Tak ada hubungannya.” ujar IU yang dilanjutkan dengan kami memasang ekspresi datar.
            “Eh, kau menggambar huruf L? Lee Jieun?” godaku dan IU mendorong tubuhku.
            “Memangnya yang menggunakan huruf awalan L hanya IU?”
            “Lalu siapa?”
            “Death Note.” ujarnya dengan nada yang dibuat sedikit meraung.
            “Itu tidak seram, babo.” balas IU memukul pundak pundak Yoseob.

            Tak berapa lama kemudian bel tanda usai istirahat pun telah berbunyi. Aku dan IU bergegas kembali ke tempat duduk kami masing-masing. Pelajaran kali ini cukup membosankan, karena songsaengnim yang mengajar kami pun memang sangat berpengalaman dalam membuat setiap siswanya jenuh dengan apa yang ia ajarkan. Beberapa siswa sudah terlihat mulai mengantuk, bahkan beberapa dari mereka sudah meletakkan kepalanya di atas meja. Aku dan IU justru senang melihat pemandangan yang seperti ini, karena jujur saja melihat wajah mereka yang terlihat menahan kantuk sungguh membuat kami tertawa kecil dan menghilangkan rasa kantuk. IU mengeluarkan ponsel dari sakunya dan memotret beberapa siswa dengan ekspresi wajah lesu dan kantuk. Aku dan IU terkekeh pelan sambil terus mengambil gambar secara diam-diam. Terang saja, di antara 24 siswa lainnya, hanya Yoseob yang terlihat masih bersemangat, namun tetap saja ia tak memperhatikan songsaengnim yang sedang menjelaskan di depan kelas. Ia justru melanjutkan gravity yang ia buat ketika jam istirahat tadi.

            Aku memegang ponsel IU dan menghentikan aktivitasnya memotret siswa yang lain, lalu aku melempar pandangan pada Yoseob yang terlihat sangat serius dengan karyanya. IU mengerti maksudku dan memotret Yoseob. Yoseob terlihat begitu lucu dengan kedua alisnya yang disatukan dan pensil yang diputar-putar. Kami yang duduk di belakang Yoseob pun langsung menyentuh pundak Yoseob dari belakang dan menunjukkan hasil potretan IU. Yoseob sedikit terkejut dan nyaris saja memukul wajahku, namun aku berhasil menghindarinya. Ia kemudian kembali mencoba merampas ponsel dari tangan IU, namun IU bergegas memasukannya ke dalam sakunya. Yoseob memasang wajah kesal dan kembali melanjutkan gambarnya dengan sedikit gumaman yang tidak terdengar jelas di telingaku.

            Setelah cukup bersenang-senang mengambil gambar dari teman-teman yang terlihat lelah, bel tanda pulang sekolah pun telah berbunyi. Beberapa siswa yang telah tertidur tadi langsung terbangun dan kami semua bergegas merapikan buku-buku yang berserakan di atas meja. Ketua kelas langsung saja memimpin doa dan kami keluar kelas satu persatu. Hari ini aku dan IU tidak langsung pulang ke rumah, aku ada klub softball dan IU ada klub musik. Jangan salah duga, IU mempunyai suara emas sehingga dia memutuskan untuk bergabung dalam klub musik. Ia juga sering mewakili Chunhan high school dalam beberapa kompetisi musik.

            “IU, kau akan ke ruang musik sekarang?” tanya Yoseob.
            “Ne, waeyo?”
            “Boleh aku pergi bersamamu? Ada beberapa hal yang ingin kusampaikan pada klub musik.”
            “Mmm… Ne.” balas IU sedikit gugup.

            Aku tersenyum kecil kepada IU dengan wajahnya yang perlahan mulai memerah. Aku meninggalkannya dan bergegas menuju lapangan untuk softball yang berada tidak jauh dari kelasku. Masih belum banyak siswa yang hadir, namun aku telah melihat Chunji dan salah seorang temannya tengah duduk pada bangku panjang di tepi lapangan. Chunji memang masuk ke dalam klub yang sama denganku. Ia adalah pemain utama sekaligus ketua dalam klub kami, berkatnya klub kami sering mendapat penghargaan dalam beberapa kompetisi. Aku memutuskan untuk duduk dengan beberapa anggota klub yang lain. Kemudian tak lama, tiba-tiba Chunji menepuk pundakku dari belakang. Aku melihat ke arahnya, namun tak ada respon darinya. Aneh sekali… Aku kembali berbincang-bincang dengan anggota klub yang lain dan membicarakan tentang kompetisi yang akan kami hadapi minggu depan, untung saja Chunhan high school terpilih sebagai tuan rumah, jadi kami tak perlu pergi dari lingkungan sekolah dan pula dukungan akan klub kami juga pasti akan sangat banyak. Chunji memberikan beberapa rancangan acara yang harus kami persiapkan untuk kompetisi minggu depan. Hari ini pelatih kami berhalangan hadir, sehingga Chunji memimpin semuanya.

            “Kita harus lakukan yang terbaik untuk minggu depan, untuk masalah menang ataupun tidak itu adalah urusan terakhir. Apapun yang terjadi, lakukan yang terbaik. Ini kan rumah kita sendiri, kalau kita melakukan suatu yang buruk pasti kita akan malu sekali, bukan? Jangan lupa jaga sikap, itulah hal yang terpenting. Untuk apa kita menang kalau sikap kita kosong. Lalu, walaupun nantinya pendukung kita pasti yang terbanyak, jangan berbesar hati dan merendahkan klub lain, hal itu jauh akan mengurangi point kita. Untuk pertemuan kali ini pelatih tidak dapat hadir, tetapi kita semua tetap harus berlatih. Namun, kali ini kita berlatih dengan santai. Oke?” jelas Chunji.
            “Ne, araseo!”
            “Baiklah, ganti pakaian kalian dan langsung mengambil posisi di lapangan.”

            Kami semua langsung menuju ruang ganti pakaian dan segera kembali ke lapangan. Kami memulai beberapa latihan sebelum Chunji menyadari ada seseorang yang tengah mengambil beberapa gambar kami yang tengah berlatih. Orang itu tak lain adalah Yoseob dan Kai. Entah bagaimana mereka berdua ada di sini. Seingatku tadi Yoseob pergi bersama IU menuju ruang musik. Lalu, apa yang di lakukan Kai dengan sebuah kamera di tangan kanannya dan ia tengah menempelkan wajahnya pada kamera untuk mengambil beberapa gambar.

            “Yang Yoseob, Kim Jongin! Apa yang kalian lakukan di sana? NO PHOTOGRAPHY!!!” teriak Chunji memecahkan suasana tenang di tengah lapangan.
            “Untuk dokumentasi!” teriak Yoseob.
            “APA??” Chunji semakin mengeraskan suaranya.
            “DOKUMENTASI!!” balas Yoseob.
            “KE SINI KAU! AKU TIDAK MENDENGARMU!” ujar Chunji sambil memberikan tanda untuk mereka menghampirinya.

            Kurasa, ada yang salah dengan telinga Chunji. Aku saja dapat mendengar setiap kata dari mulut Yoseob dengan baik. Yoseob dan Kai pun terpaksa mengikuti perintah Chunji. Mereka berjalan pelan sambil terus mengambil gambar suasana di lapangan. Kai tersenyum kecil dan sengaja mengambil beberapa gambar dari Chunji yang tengah melipat kedua tangannya di depan perut.

            “YA! Hentikan pengambilan gambar sebelum aku mengijinkan!” teriak Chunji kembali.
            “Dasar kau tuli! Ini untuk dokumentasi!” balas Yoseob.
            “Oh, kalau begitu… Teman-teman! Kita sudahi saja latihan ini, mari kita berfoto bersama!” ujar Chunji.
            “Kau gila? Lebih memilih berfoto dibanding dengan berlatih?” tanyaku.
            “Ini jarang terjadi, Jiyeon.” balasnya santai.
            “Kau ini pria, mana ada pria yang suka sekali berfoto. Dasar pria multigender!” ujarku sambil merapikan rambutku.
            “Untuk apa kau merapikan rambutmu?” tanya Yoseob.
            “Kau tidak dengar? Chunji bilang kita akan berfoto.” jawabku dengan bola mata yang sedikit kubulatkan.

            Chunji dan Yoseob langsung memandangku dengan tatapan cukup mengerikan, sedangkan Kai melihat sekilas ke arahku dan kembali mengatur kameranya. Sesuai dengan intruksi dari Chunji, semua anggota klub berkumpul bersama dan berpose bersama. Sebenarnya, yang dimaksud dengan dokumentasi oleh Yoseob bukanlah kegiatan berfoto bersama seperti ini, namun beberapa gambar yang sengaja diambil ketika kami melakukan aktifitas. Mungkin karena kami semua cukup jenuh jika harus terus berlatih, jadi kami mendukung keputusan Chunji untuk melakukan foto bersama seperti ini. Selama pengambilan gambar, kami semua cukup berisik saling mengatur posisi dan berebut untuk posisi di tengah yang selalu saja di tempati oleh Chunji. Yoseob yang sedari tadi memperhatikan kami juga turut angkat bicara dan tak segan-segan mengomel pada kami semua. Berbeda sekali dengan orang yang saat ini tengah berdiri di samping Yoseob yang lebih memilih untuk diam sambil terus memposisikan kameranya, interaksinya dengan yang lain hanyalah sebuah senyum kecil.

            Berbagai pose sudah kami lakukan, sampai pada waktunya sebuah ide cemerlang muncul di benak Chunji untuk individual’s photo. Hhh… Tenang saja, album kami akan segera keluar. Album klub softball Chunhan high school. Terpaksa kami semua mengikuti imajinasi Chunji yang sedikit tidak masuk akal, karena ia berkata foto ini sekalian untuk foto pada kartu anggota tahunan. Tapi, setauku jika untuk foto pada kartu anggota, kami biasa menggunakan foto dengan pose yang cukup resmi, tidak seperti ini. Tapi mungkin karena ketua klub kami ini cukup unik, dia akan membuat sesuatu yang jauh berbeda dari apa yang ada pada tahun-tahun sebelumnya. GREATlah… Sebuah perkembangan yang mendasar. Semua anak berpose satu persatu sesuai dengan pose andalan mereka masing-masing, hingga tiba pada saatku dan aku memilih untuk berpose di tengah lapangan sambil membawa tongkat softball dan kaki kiriku kusilangkan di depan kaki kananku.

            “Gelap.” ujar Kai.
            “Biar saja, memang wajahnya yang terlalu gelap.” balas Yoseob santai.
            “YA! Kau harus mengambil gambar yang baik untuk Jiyeon. Carikan posisi yang bagus dengan sinar yang cukup bagus pula untuk kulit putihnya.” atur Chunji.
            “Gomawo, Lee Chanhee. Kau sangat perhatian denganku, aku tak tau harus membalasnya dengan apa.” ujarku dengan wajah berseri-seri.
            “Tidak perlu, balas saja dengan cintamu.” Chunji tersipu malu dan bersembunyi di belakang pundak Yoseob, Yoseob pun mendorongnya.
            “Mianhae, Lee Chanhee… Aku memang menyukaimu, namun aku sudah bersama Kim Jongin.” balasku.
            “ANDWAE!!!” teriak Yoseob dan Chunji bersamaan.

            Melihat mereka berdua yang saling memeluk satu sama lain dengan isak tangis yang dibuat-buat membuat semua yang ada di sini tertawa terbahak-bahak, terkecuali aku dan Kai. Aku sengaja memasang wajah iba pada mereka dan Kai hanya tersenyum, dan kau tahu? Aku tak suka melihatnya tersenyum seperti ini! Membuatku semakin mabuk. Akhirnya untuk mengakhiri kegiatan paling dramatis ini, Kai memintaku untuk pindah posisi berdiri di bawah pohon yang berada di tepi lapangan. Ia memintaku bersandar pada pohon dan membiarkan tongkat softball aku sandarkan ke tanah sembari tangan kananku memegangnya. Kaki kiriku kembali bersilang di depan kaki kananku. Kai memperhatikanku, tidak… Ia tidak melakukan ini pada anggota yang lain. Sedari tadi, ia hanya membiarkan setiap anak berpose sesuai keinginannya, namun denganku ia mengatur segalanya. Ia benar-benar mengikuti perintah Chunji. Ia berjalan mendekat ke arahku, dan membuatku terpaksa berubah dari posisiku.

            “Bagaimana jika tangan kirimu tetap memegang tangan kananmu?” ujarnya.
            “Ahhh… Araseo! Seperti ini?” tanyaku sembari mengikuti apa yang ia inginkan.

            Ia hanya merespon pertanyaanku dengan sebuah anggukan dan kembali menjauh untuk segera mengambil gambarku. Tanpa terasa kami telah menghabiskan waktu kami selama 2,5 jam. Kulihat IU sudah duduk di bangku penonton, aku pun melambaikan tangan padanya. Aku berpamitan pada Chunji untuk pulang terlebih dahulu, namun Chunji justru menyudahi kegiatan latihan ini. Aku langsung saja menghampiri IU yang sedari tadi menungguku sendirian. Ia memberikan sebotol air mineral padaku, dan kami pun meninggalkan lapangan. Kali ini kami memilih untuk pulang menggunakan bus. Namun, di depan gerbang Chunji dan Kai melintas dengan sepeda motor besarnya yang membuat suara riuh. Chunji menghentikan motornya di depan kami, dan Kai yang berada di belakangnya pun turut berhenti. Chunji membuka kaca helm yang menutupi wajahnya.

            “Park Jiyeon, Lee Jieun! Kalian tidak dijemput seperti biasa?” tanya Chunji.
            “Waeyo? Kau akan mengantar Jiyeon pulang? Lalu kau tega membiarkanku pulang sendiri?” tanya IU sedikit membentak.
            “Kan ada Kai, kau pulang saja bersamanya. Kai, kau mau mengantar IU, kan?” tanya Chunji yang disambut dengan anggukan Kai.
            “Mmm… Aku denganmu saja, biar Jiyeon bersama Kai. Aku tak mau kau berbuat suatu hal yang buruk pada Jiyeon, lagipula aku juga tak mengenal Kai.” IU tersenyum licik padaku dan langsung naik ke motor Chunji.
            “YA! Apa-apaan ini? Turun kau! Aku ingin bersama Jiyeon. YA! LEE JIEUN!!!” bentak Chunji sambil menggoyangkan motornya memaksa IU untuk turun.

            IU tersenyum padaku dan memberikan sinyal padaku untuk segera pergi bersama Kai. Aku dengan ragu langsung menghampiri Kai yang hanya melihat ke arahku dengan ekspresi standarnya. Aku tersenyum kecil padanya dan memastikan apakah aku boleh naik ke motornya, ia hanya mengangguk dan menolehkan kepalanya ke belakang yang memberiku isyarat untuk segera naik.

            “LEE JIEUN!!! TURUN KAU SEKARANG JUGA!” Chunji masih berteriak-teriak.
            “YA! Kau bisa diam tidak? Jiyeon juga tak mau bersamamu! Sudah cepat jalan!” IU memukul punggung Chunji.
            “Arraseo!” Chunji mematikan mesin motor dan turun dari motornya.
            “Jika kau tidak mau turun dari motor ini, aku akan memakai motor Kai.”

            Chunji menghampiri aku dan Kai. Ia menyuruh Kai untuk memakai motornya, Kai pun tak bisa menolak permintaanya. Ia turun dari motornya dan pergi bersama IU. Alhasil aku tertinggal bersama dengan Chunji. Apa Chunji tak bisa membaca pikiranku? YA!!! LEE CHANHEE! Ingin sekali kudorong kau dari motor ini hingga terjatuh, tapi aku teringat kalau kau terjatuh, aku pun akan ikut terjatuh. Oleh karena itu, aku urungkan kembali niat jahatku. Sepanjang perjalanan aku melihat ke arah IU dan Kai, IU memasang wajah cemas dan berkali-kali berkata “Mianhae” padaku, dan aku pun berkali-kali berkata “Gwenchana” padanya. Karena ini memang bukan salahnya, melainkan dampak dari perbuatan Chunji yang semena-mena. Aku juga melihat ke arah Kai yang tengah melihat ke arahku. Tatapan kami bertemu! Aku langsung saja mengalihkan pandanganku pada jalanan yang saat itu tengah ramai karena bertepatan dengan para pekerja yang telah usai dengan kegiatan kantornya.

            Sepanjang perjalanan, Chunji banyak bertanya-tanya padaku. Mulai dari pekerjaan kedua orangtuaku, kakak laki-lakiku, sampai pada apa yang sering aku lakukan di rumah. Cukup pusing untuk menjawab pertanyaan yang terus ia lontarkan. Chunji memang pria yang susah sekali menutup mulutnya, ia selalu saja berisik di manapun ia berada dan dengan siapapun. Inilah yang membuat ia banyak mempunyai  teman dan masuk dalam kategori pria populer di Chunhan high school. Kurasa ia juga cukup menghibur karena setiap kata yang ia ucapkan sering out of topic, dan justru hal itu yang membuatku tertawa kecil. Di sisi lain, kulihat IU dan Kai hanya diam. Tentu saja, dengan teman-teman dekatnya saja Kai tak mau banyak bicara, apalagi dengan IU yang belum pernah ia kenal sebelumnya. Mungkin Kai hanya melihat IU dari berbagai penampilannya di sekolah sebagai seorang penyanyi, namun ia tak pernah bercakap-cakap dengan IU.

            Setelah kami melewati keramaian di tengah kota Seoul, kami telah masuk ke dalam kompleks perumahanku dan IU. Aku meminta Chunji untuk mengantarkanku ke rumah IU, karena jarak rumah kami tidak jauh, aku bisa pulang nanti malam. Lagipula aku dan IU memang sudah terbiasa bermain di rumah satu sama lain hingga larut malam, bahkan kami sering menginap. Chunji dan Kai mengantar kami hingga depan rumah IU. Kami turun dari motor dan IU mempersilakan kami semua untuk masuk terlebih dahulu. Dari raut wajah Kai, aku bisa membaca ia merasa keberatan jika harus berhenti sejenak di rumah IU, namun aku tahu ia tak berani menolak. Kami semua pun masuk ke ruang tamu IU yang cukup luas dan sudah terasa seperti rumah sendiri bagiku. IU pergi menuju kamarnya untuk berganti pakaian, sedangkan aku menuju dapur untuk mengambil beberapa camilan dan minuman untuk Chunji dan Kai yang sudah terlihat sangat lelah.
           
            “Lantas, kau nanti bagaimana?” tanya Chunji.
            “Rumahku dekat sekali dari sini, aku di Blok B.”
            “Jalan?” tanya Kai.
            “Ne. Kalau tidak juga aku bisa meminta IU untuk mengantarku.”

            Sembari menunggu IU, kami menikmati beberapa camilan yang telah kuambil dari dapur tadi. Kami juga melihat-lihat foto yang tadi kami ambil ketika berlatih. Sembari melihat foto-foto tersebut, kami tertawa kecil melihat beberapa ekspresi beberapa anggota yang cukup unik. Di samping itu, orangtua IU belum tiba di rumah, jadi mereka tidak segan-segan. Tak lama kemudian, IU turun dari kamarnya dan bergabung bersama kami. Ketika waktu menunjukkan pukul 5:28pm, Kai dan Chunji pamit untuk pulang karena suasana di luar rumah sudah mulai gelap. Aku dan IU mengantarkan mereka ke depan rumah dan menunggu sampai mereka menghilang dari pandangan kami. Kami memutuskan untuk menghirup udara segar dari depan rumah, akhirnya kami pun duduk di atas bangku hijau yang berada di taman depan. Seperti biasa, bahan percakapan kami adalah Yoseob dan Kai. Aku sempat bertanya apa saja yang Kai bicarakan dengan IU selama perjalanan, namun seperti yang kuduga Kai hanya diam.

            Karena tak terlalu banyak yang bisa kami bicarakan tentang Kai, kami membicarakan Yoseob. Memang banyak sekali yang bisa dibicarakan darinya, mulai dari tindakan konyolnya, keanehannya, hingga kebodohannya. Memang yang banyak terlihat dari Yoseob hanyalah beberapa tindakan konyolnya, namun walaupun seperti itu, tetap saja sahabatku yang satu ini cinta mati dibuatnya. Dari dulu, selera IU akan seorang pria memang setipe dengan Yoseob. Baginya, pria yang seperti itu sangat menyenangkan. Tapi menurutku, aku jauh lebih senang menganggap orang-orang itu sebagai temanku. Jadi aneh rasanya kalau saja memiliki hubungan khusus dengan pria yang terbiasa bertindak konyol.

            Aku dan IU kembali melanjutkan perbincangan bertemakan Yoseob dan kemudia entah angin apa yang tiba-tiba merontokkan otak kami sehingga kami mengganti tema yang semula tentang Yoseob menjadi tentang Chunji. IU hanya iseng menebak apa yang sebenarnya Chunji pikirkan, namun kurasa Chunji memanglah orang yang seperti itu. Untuk semua yang ia lakukan padaku, aku yakin ia juga melakukannya pada orang lain. Chunji adalah seorang pria yang memiliki sikap nyaris sama sepertiku, jadi kurasa aku sedikit banyak mengerti apa yang ada dipikirannya. Dan kurasa, Chunji adalah seorang pria yang akan merubah sikapnya menjadi dingin ataupun pendiam jika ia benar-benar berada di sekitar orang yang ia kagumi.

            “Araseo… Kurasa benar apa yang kau katakan. Dan aku memang benar-benar bisa melihat Chunji pada dirimu.” ujar IU.
            “Mworago?”
            “Kurasa kau memang ditakdirkan bersamanya. Jangan sok tahu akan perasaannya! Kau bilang ia tidak memiliki rasa apapun padamu hanya karena ia tetap bersikap konyol di depanmu? Kau tak berkaca pada dirimu sendiri? Walaupun kau menyukai Kai, tetap saja kau bersikap konyol di depannya, hanya untuk menutupi semuanya. Benar, kan? Jadi, kurasa ia menyukaimu.”
            “Jangan sok tahu!”
            “Kau jauh lebih sok tahu! Pulang sana, dasar makhluk sok tahu!”
            “Orang sok tahu jangan menyalahkan orang lain yaa… Atas dasar apa kau menyuruhku untuk pulang? Kau pikir ini rumah siapa?”
            “Rumahku. Waeyo?”

            Wajah IU terlihat seperti meledekku, aku pun bangkit dari tempatku duduk dan masuk ke dalam rumah untuk mengambil tasku yang aku letakkan di ruang tamu tadi. Kemudian aku menarik tangan IU untuk mengantarku pulang. Kami hanya berjalan kaki, karena di luar sudah tak ada matahari yang menyengat, lagipula hanya butuh waktu 3 menit untuk tiba di rumahku. Setibanya di rumah, IU berpamitan untuk langsung pulang karena tak lama lagi orangtuanya akan tiba di rumah. Aku memperhatikan IU yang mulai berjalan sendirian hingga ia menghilang dari pandanganku. Usai itu, aku masuk ke dalam rumah dan tak lupa mengucapkan salam pada umma-appaku yang tengah asyik melihat televisi di ruang keluarga, sedangkan oppaku, kurasa ia ada di dalam kamarnya. Aku masuk ke kamarku dan bergegas mandi karena badanku sudah terasa kotor dan terlihat kumal. Setelah cukup lama membersihkan diri, aku membanting tubuhku di atas kasur dan meraih ponsel yang kuletakkan di meja sebelah kasurku. Kulihat ada 2 pesan baru… Pesan pertama dari Lee Chanhee yang berisi “Park Jiyeon =]” dan satu pesan lagi dari Yang Yoseob berisi “Jiyeon~ah”. Kalau Chunji, ia memang sering mengirim pesan seperti itu, tapi Yoseob? Untuk apa? Karena aku cukup penasaran dengan maksud dan tujuan Yoseob mengirim pesan padaku, aku pun mengabaikan pesan dari Chunji.
           
            “Waeyo?” balasku pada Yoseob.
           
            Namun setelah cukup lama aku menunggu, tak ada balasan darinya dan aku pun memilih untuk memejamkan kedua mataku.

Jumat, 25 Mei 2012

LOVELY GIFT




Di atas adalah beberapa hadiah dari temen-temenku. Mulai dari temen SD Pringapus, SD Klaten, SD Karangasem, sampe SMP Ungaran. Sebelumnya makasih banget yaa buat semua temenku yang udah bersedia ngasih hadiah-hadiah itu buat aku. Aku juga nggak nyangka ternyata banyak banget hadiah-hadiah dari temen-temenku. Honestly, ini membuktikan kalo aku terkenal banget di kalangan temen-temen. Jujur, sebenernya ada beberapa hadiah lagi yang nggak bisa aku tampilin atau aku tunjukin di sini. Bukan, bukan karena hadiahnya daleman, tapi di karenakan beberapa hadiah sudah aku lupa dan sebagian lagi udah aku pake buat keperluan lain. Dan maaf banget yaa kalo nanti aku salah dalam mengingat hadiah dari siapa-siapa aja, soalnya terlalu banyak dan aku sering salah inget dalam mengamati ini itu dari siapa. Soalnya rata-rata hadiah hampir setipe dan rata-rata dari temen SD. Jujur, waktu pertama mereka kasih aja aku udah nggak inget dari siapa-siapa aja. Soalnya beberapa di titipin orang tuaku waktu ambil rapot, dan beberapa tidak di beri nama pengirimnya. Tapi, satu hal yang pasti hadiah-hadiah itu dari temen-temen deket aku. Tapi, yang lebih pasti lagi aku nggak inget siapa-siapa aja yang deket sama aku (teman yang tidak baik). Sebenernya sampe SMP kelas 3, aku masih nyimpen beberapa surat dan kertas pembungkus yang mereka sertakan di dalam hadiah, tapi beberapa waktu silam (karena terlalu banyak kertas di kamarku) akhirnya sebagian di buang. Mungkin beberapa dari mereka terbuang.
Langsung aja deh, mulai dari hadiah pertama dari temen-temenku di Klaten.


 Mug ini dari temen aku yang paling deket waktu di Klaten, Fauzia Jauhara. Aku nggak inget pastinya ekspresi waktu dia ngasihin, tapi seinget aku dia ngasih ini waktu aku mau pindah ke Solo.


Gantungan boneka dari Inna (aku lupa nama panjangnya). Entah angin atau apa yang membuatnya memberikan gantungan boneka ini, yang jelas waktu itu lagi nggak ada perayaan apa-apa. Terus ada lagi satu hadiah dari Inna yang nggak bisa aku ambil gambarnya (karena udah aku pake), yaitu stiker gambar Donal Duck (kalo nggak salah inget).

Hadiah ini juga nggak bisa aku tayangin gambarnya, karena waktu itu pernah aku pake dan terus lepas. Gelang warna merah muda dari Mutiara Adnin Hilmy.

Kemudian yang selanjutnya adalah hadiah dari temen-temenku di Solo yang mereka berikan waktu aku pindah ke Semarang.


Photo frame yang berisi dengan jam ini dari temen deketku waktu di Solo, Amanda Angger. Dia ngasih ini waktu aku udah nggak sekolah di sana, tapi aku masih di daerah Solo. Waktu itu aku pas nginep di sebuah Mess, terus dia dateng ke Mess itu dan ngasih ini ke aku. Aku inget banget di dalamnya ada surat panjang banget (aku lupa isinya), dan warna dari kertas surat itu hijau.


Jam unyu dengan Love di tengahnya ini dari Annisa, kalo nggak salah nama panjangnya Annisa Rahmawati (maklum, waktu di Solo ada 3 Annisa). Dia ngasih ini nggak langsung ke aku. Waktu itu ceritanya pas orangtuaku ambil rapot, nah dia titipin ke orang tuaku. Waktu itu aku udah nggak di Solo, aku udah di Semarang.


 Photo frame warna biru yang di dalamnya udah di isi foto aku waktu masih jadul ini adalah pemberian dari Denia, aku lupa nama panjangnya. Kalo yang ini, aku lupa dia ngasihnya kapan dan di mana. Yang jelas, frame ini selalu ada di atas mejaku.


 Photo frame dengan hiasan seni laut di sampingnya dengan fotoku yang unyu di dalamnya ini adalah pemberian dari Luluk, lupa nama panjangnya. Aku juga lupa kapan dia ngasihnya, yang pasti waktu aku mau pindah. Frame ini juga selalu terpajang di atas mejaku.


Jam hijau dengan dua rumah ini adalah pemberian dari… dari siapa yaa? SUMPAH GUE LUPA!!! Kalo nggak salah inget nih yee, dari Wahyu. Eh, namanya Wahyu bukan yaa?? BUKAN! BUKAN! AKU LUPA NAMANYA!!! Gue inget mukanya, tapi namanya siapa yaa? Ya Tuhan, beri hamba petunjuk-Mu. Tunggu dulu, tunggu dulu.. Atau ini dari Annisa Rahmawati yee?? Terus yang jam biru Love itu dari siapa doonk? ADUH, GUE LUPA!!! Hhhmm… (setelah berpikir keras) Dari Diaz bukan yee?? LUPA!! NYERAH!! (buat hadiah yang satu ini maaf~ banget yaa… aku lupa. aku nggak bermaksud ngelupain, tapi apa daya kalo ingatanku tu cetek banget. faktor usia kali yee?? MAAF BANGET YAA…)


Boneka harimau ini sebenernya bukan dari temen aku, tapi dari temen kakakku (kebukti banget kan kalo aku emang tenar banget) namanya mba Wanda. Waktu itu temen kakakku lagi pergi ke mana gitu (lupa lagi), terus pas pulang dia bawa oleh-oleh ini. Terus dia titipin ke kakakku buat di kasihin ke aku. Bayangin nggak perasaan kakakku waktu itu? Yang temennya siapa, yang di kasih oleh-oleh siapa. Tapi, kakakku juga dapet oleh-oleh sih, cuma nggak segede gini, kalo nggak salah inget oleh-oleh buat kakakku tuh makanan…


Ini adalah hadiah dari temen-temenku SD Pringapus waktu aku ulang tahun.

Komik di atas adalah pemberian dari 3 temen deketku waktu SD di Pringapus, yaitu Isna (Isna Letidia Putri) , Riska (Riska Zulia Anggraeni) , sama Mella (maaf, lupa nama panjangnya). Dan tau nggak isi komiknya gimana? SUMPAH MESUM BANGET!! SECARA GUE MASIH SD KELAS 6 UDAH DI JEJELIN BEGINIAN. MAU DI BAWA KE MANA GENERASI MUDA KITA???!!!!


Kemudian yang terakhir adalah temen-temen SMP aku tercintaa~~


Tas boneka pudel itu merupakan pemberian dari Ulfah (Ulfah Noor Hasanah) , Hemas (Hemas Citra Maharani) , sama Ayu (Ayu Ardhani) waktu ulang tahunku kelas 1 SMP. Pertama kali dapet nih tas boneka, aku seneng banget. Tapi setelah di pikir ulang, kapan gue mau make tas boneka gini yee?? Soalnya aku jarang banget kalo pergi-pergi bawa tas. Akhirnya setelah melalui proses pemikiran yang panjang, sekarang justru tas ini sebagai andalan kalo aku lagi pergi-pergi (soalnya nggak ada tas lain).


Jam hijau di sertai tanggalan di sampingnya ini dikasih sama Hemas waktu ulang tahunku kelas 1 SMP. Nah lohh… Bingung kan kenapa Hemas ngasih 2 hadiah? Udah ngasih tas boneka, kenapa masih ngasih ini? Waktu itu aku juga sempet bingung beberapa saat, namun Hemas langsung menjelaskannya secara jelas “Ini hadiah individu dari aku”. Ohhyaayaa… Makasih banget yaa, Hem udah ngasih dobel.


Kucir biru dengan kupu-kupu gede ini dari Ayu waktu ulang tahunku kelas 1 SMP. Bingung juga kan kenapa Ayu ngasih 2? Alasan yang di utarakan Ayu pun sama dengan Hemas “Hadiah individu dari aku”. Aduuuh, makasih banget yaa… Sampe pada ngasih dobel gini. Sebenernya waktu itu Ayu nggak cuma ngasih ini, dia ngasih yang lain juga, tapi seperti biasa “aku lupa barangnya apa”.

Hadiah yang juga nggak bisa aku tayangkan gambarnya dan merupakan hadiah paling kampret yang pernah aku terima adalah coklat dari anak-anak eL-cHi (Sara Amalia Sadendra, Ulfah Noor Hasanah, Tasa Sekar Faragita, dan Tita Della Arimbi). Mereka waktu itu ngasih coklat pas hari ulang tahunku kelas 2 SMP. Mereka nggak ngasih langsung ke aku, mereka nyuruh adik kelas ngasih itu ke aku dan tau nggak adek kelasnya bilang apa?? Tuh adek kelas mau aja di bodohin sama mereka buat bilang “Mba Yondi, ini dari Mas Reza”. KAMPRET  TINGKAT DEWA!!! Waktu pertama denger mereka bilang gitu, gue mikir… Lama banget sambil masang muka bego. Lalu gue memastikan “Dari siapa de?”, dan mereka dengan ragu 45 menjawab “Dari Mas Reza Ketua OSIS”. Akhirnya aku pasrah dan menerimanya begitu saja. Dan eL-cHi kemudian kembali ke kelas sambil ngeliatin coklatku “Dari siapa, Yon?”, sebenernya waktu itu aku udah ngeliatin mereka dengan pandangan nggak enak dan berkata “Masa dari Reza?”. Kemudian mereka serentak menjawab “Ciyeee~”. INI NGGAK MUNGKIN BANGET!!! Dan beberapa hari kemudian mereka tanya “Coklatnya udah kamu makan, Yon?” dan aku dengan sotoynya menjawab “Belum”, padahal tuh coklat udah abis gue telen. Nb : jangan tanya siapa itu Reza.


Boneka babi yang unyu-unyu banget ini, aku dapetin dari anak-anak eL-cHi beberapa hari setelah kejadian kampret sebelumnya. Mereka tau banget kalo aku pengen banget boneka babi (tapi pengennya di kasih, kalo beli ogah). Dan pertama kali mereka ngasih ini ke aku dengan wajah yang malu-malu kucing (gue juga bingung kenapa mereka yang malu). Dan mata gue tuh langsung berbinar pas liat nih boneka. Tak lama setelah aku menerima nih boneka sambil aku elus-elus, mereka bilang “Coklat yang kemarin dari kita”. SUDAH GUE DUGA!!! Dan rasanya GUE PENGEN BUNUH TUH BONEKA BABI!!! Tapi karena aku udah terlanjur jatuh hati sama nih boneka, aku suruh aja nih boneka menemaniku setiap tidur.
Yang aku mau ceritain bukan lagi boneka babinya, tapi liat deh jam tangan cokelat itu. LUCU BANGET HLOOO… Itu juga dari eL-cHi waktu ulang tahunku kelas 3 SMP. Aku suka banget sama nih jam, soalnya nggak tau kenapa… menurut aku gambarnya tuh lucu banget, dan yang paling aku suka adalah karena ini dari eL-cHi. Dan seperti biasa, waktu mereka ngasihin ini ke aku, mereka yang malu-malu kucing gitu. Pertamanya waktu aku mau keluar buang sampah si Sara manggil-manggil “Eh, Yondi…” terus aku noleh, dan mereka ketawa bareng-bareng. Aku pun melanjutkan langkahku, sekarang gantian Tasa yang panggil-panggil. Pas aku noleh mereka malah ketawa lagi. Aku berjalan lagi, terus Ulfah manggil-manggil, terus ketawa lagi. Gitu terus sampe kiamat. Akhirnya setelah kumelihat mereka berunding, dengan malu-malu mereka ngasih itu sambil bilang “Happy Birthday yaa..”


Boneka stroberi yang unyuuuuu~ banget ini aku dapet dari eL-cHi juga. Waktu itu ceritanyakan ada Widya Wisata ke Jakarta, karena suatu hal yang nggak bisa aku ceritakan di sini (karena menyangkut masa depanku), aku terpisah dari rombongan. Dan pas pulang, mereka ngasih aku oleh-oleh boneka yang aku kasih nama Gembel ini. Bukan, bukan karena yang ngasih mukanya mirip gembel, tapi karena bulu dari boneka ini gembel banget. Yang jelas aku seneng banget banget banget sama boneka ini. Aku nggak nyangka di acara mereka yang lagi seneng-seneng Widya Wisata, mereka masih sempet mikirin oleh-oleh buat aku. Makasih banyak yaa.. dan boneka ini juga selalu bersanding di atas kasurku bersama dengan boneka babi.


Photo frame dengan beruang warna coklat ini aku dapet dari Ulfah waktu aku ulang tahun kelas 1 SMA. Waktu itu kita pas mau main liat Cosplay di DP Mall. Sebelumnya kan aku ngajak si Ulfah, terus dia tanya “Kamu mau kado apa, Yon?”. Nah loh, aku bingung… Ini sebenernya mau nonton Cosplay atau mau main kado-kadoan? Terus aku dengan sotoynya menjawab “Nggak usah, fah…” Abis itu tibalah aku di DP Mall, terus sempet beberapa lama nunggu Ulfah sampe dia datang. Terus kita menghabiskan waktu dengan berfoto-foto sama Cosplay yang ada. Eh, pas aku mau pulang si Ulfah manggil “Yondi, bentar dulu”. Terus dia ngeluarin sesuatu dari dalam tasnya yang sudah terbungkus rapi dengan kertas kado “Happy Birthday yaa…” Yaa ampun, aku nggak sampe mikir dia bakal ngasih hloo… Secara kita udah beda sekolah, tapi dia masih inget dan masih nyempetin buat ngasih hadiah buat aku. Makasih banget yaa, Fah…




Yaah, itu tadilah cerita di balik hadiah-hadiah yang aku dapat dari temen-temenku. Aku nggak nyangka banget kalo aku tuh sebegitu terkenalnya.
Walaupun aku terkenal banget, tapi ini semua bukan karena ketenaranku, tapi karena kepedulian teman-teman sama temennya yang kasihan ini. Makasih banget buat kalian semua… SEMUANYA!!! MAKASIH BANGET BANGET BANGET… Kalian masih mau peduli sama aku yang jelas-jelas nggak peduli sama kalian. Hehehehehehee…
JUST KIDDING!!
Semua yang aku tulis di atas banyak yang aku lebay-lebayin, kecuali tentang ketenaranku.