Minggu, 06 November 2011

~ Sejarah Perkembangan Komputer ~





Generasi Pertama
Dengan terjadinya Perang Dunia Kedua, negara-negara yang terlibat dalam perang tersebut berusaha mengembangkan komputer untuk mengeksploit potensi strategis yang dimiliki komputer. Hal ini meningkatkan pendanaan pengembangan komputer serta mempercepat kemajuan teknik komputer. Pada tahun 1941, Konrad Zuse, seorang insinyur Jerman membangun sebuah komputer, Z3, untuk mendesain pesawat terbang dan peluru kendali.
Pihak sekutu juga membuat kemajuan lain dalam pengembangan kekuatan komputer. Tahun 1943, pihak Inggris menyelesaikan komputer pemecah kode rahasia yang dinamakan Colossus untuk memecahkan kode rahasia yang digunakan Jerman. Dampak pembuatan Colossus tidak terlalu memengaruhi perkembangan industri komputer dikarenakan dua alasan. Pertama, Colossus bukan merupakan komputer serbaguna(general-purpose computer), ia hanya didesain untuk memecahkan kode rahasia. Kedua, keberadaan mesin ini dijaga kerahasiaannya hingga satu dekade setelah perang berakhir.
Usaha yang dilakukan oleh pihak Amerika pada saat itu menghasilkan suatu kemajuan lain. Howard H. Aiken (1900-1973), seorang insinyur Harvard yang bekerja dengan IBM, berhasil memproduksi kalkulator elektronik untuk US Navy. Kalkulator tersebut berukuran panjang setengah lapangan bola kaki dan memiliki rentang kabel sepanjang 500 mil. The Harvard-IBM Automatic Sequence Controlled Calculator, atau Mark I, merupakan komputer relai elektronik. Ia menggunakan sinyal elektromagnetik untuk menggerakkan komponen mekanik. Mesin tersebut beropreasi dengan lambat (ia membutuhkan 3-5 detik untuk setiap perhitungan) dan tidak fleksibel (urutan kalkulasi tidak dapat diubah). Kalkulator tersebut dapat melakukan perhitungan aritmatik dasar dan persamaan yang lebih kompleks.
Perkembangan komputer lain pada masa kini adalah Electronic Numerical Integrator and Computer (ENIAC), yang dibuat oleh kerjasama antara pemerintah Amerika Serikat dan University of Pennsylvania. Terdiri dari 18.000 tabung vakum, 70.000 resistor, dan 5 juta titik solder, komputer tersebut merupakan mesin yang sangat besar yang mengonsumsi daya sebesar 160kW.
Komputer ini dirancang oleh John Presper Eckert (1919-1995) dan John W. Mauchly (1907-1980), ENIAC merupakan komputer serbaguna (general purpose computer) yang bekerja 1000 kali lebih cepat dibandingkan Mark I.
Pada pertengahan 1940-an, John von Neumann (1903-1957) bergabung dengan tim University of Pennsylvania dalam usaha membangun konsep desain komputer yang hingga 40 tahun mendatang masih dipakai dalam teknik komputer. Von Neumann mendesain Electronic Discrete Variable Automatic Computer (EDVAC) pada tahun 1945 dengan sebuah memori untuk menampung baik program ataupun data. Teknik ini memungkinkan komputer untuk berhenti pada suatu saat dan kemudian melanjutkan pekerjaannya kembali. Kunci utama arsitektur von Neumann adalah unit pemrosesan sentral (CPU), yang memungkinkan seluruh fungsi komputer untuk dikoordinasikan melalui satu sumber tunggal. Tahun 1951, UNIVAC I (Universal Automatic Computer I) yang dibuat oleh Remington Rand, menjadi komputer komersial pertama yang memanfaatkan model arsitektur Von Neumann tersebut.
Baik Badan Sensus Amerika Serikat dan General Electric memiliki UNIVAC. Salah satu hasil mengesankan yang dicapai oleh UNIVAC dalah keberhasilannya dalam memprediksi kemenangan Dwilight D. Eisenhower dalam pemilihan presiden tahun 1952.
Komputer Generasi pertama dikarakteristik dengan fakta bahwa instruksi operasi dibuat secara spesifik untuk suatu tugas tertentu. Setiap komputer memiliki program kode biner yang berbeda yang disebut "bahasa mesin" (machine language). Hal ini menyebabkan komputer sulit untuk diprogram dan membatasi kecepatannya. Ciri lain komputer generasi pertama adalah penggunaan tube vakum(yang membuat komputer pada masa tersebut berukuran sangat besar) dan silinder magnetik untuk penyimpanan data.

Generasi Kedua
Pada tahun 1948, penemuan transistor sangat memengaruhi perkembangan komputer. Transistor menggantikan tube vakum di televisi, radio, dan komputer. Akibatnya, ukuran mesin-mesin elektrik berkurang drastis.
Transistor mulai digunakan di dalam komputer mulai pada tahun 1956. Penemuan lain yang berupa pengembangan memori inti-magnetik membantu pengembangan komputer generasi kedua yang lebih kecil, lebih cepat, lebih dapat diandalkan, dan lebih hemat energi dibanding para pendahulunya. Mesin pertama yang memanfaatkan teknologi baru ini adalah superkomputer. IBM membuat superkomputer bernama Stretch, dan Sprery-Rand membuat komputer bernama LARC. Komputer-komputer ini, yang dikembangkan untuk laboratorium energi atom, dapat menangani sejumlah besar data, sebuah kemampuan yang sangat dibutuhkan oleh peneliti atom. Mesin tersebut sangat mahal dan cenderung terlalu kompleks untuk kebutuhan komputasi bisnis, sehingga membatasi kepopulerannya. Hanya ada dua LARC yang pernah dipasang dan digunakan: satu di Lawrence Radiation Labs di Livermore, California, dan yang lainnya di US Navy Research and Development Center di Washington D.C. Komputer generasi kedua menggantikan bahasa mesin dengan bahasa assembly. Bahasa assembly adalah bahasa yang menggunakan singkatan-singakatan untuk menggantikan kode biner.
Pada awal 1960-an, mulai bermunculan komputer generasi kedua yang sukses di bidang bisnis, di universitas, dan di pemerintahan. Komputer-komputer generasi kedua ini merupakan komputer yang sepenuhnya menggunakan transistor. Mereka juga memiliki komponen-komponen yang dapat diasosiasikan dengan komputer pada saat ini: printer, penyimpanan dalam disket, memory, sistem operasi, dan program.
Salah satu contoh penting komputer pada masa ini adalah 1401 yang diterima secara luas di kalangan industri. Pada tahun 1965, hampir seluruh bisnis-bisnis besar menggunakan komputer generasi kedua untuk memprosesinformasi keuangan.
Program yang tersimpan di dalam komputer dan bahasa pemrograman yang ada di dalamnya memberikan fleksibilitas kepada komputer. Fleksibilitas ini meningkatkan kinerja dengan harga yang pantas bagi penggunaan bisnis. Dengan konsep ini, komputer dapat mencetak faktur pembelian konsumen dan kemudian menjalankan desain produk atau menghitung daftar gaji. Beberapa bahasa pemrograman mulai bermunculan pada saat itu. Bahasa pemrograman Common Business-Oriented Language (COBOL) dan Formula Translator (FORTRAN) mulai umum digunakan. Bahasa pemrograman ini menggantikan kode mesin yang rumit dengan kata-kata, kalimat, dan formula matematika yang lebih mudah dipahami oleh manusia. Hal ini memudahkan seseorang untuk memprogram dan mengatur komputer. Berbagai macam karier baru bermunculan (programmer, analis sistem, dan ahli sistem komputer). Industr piranti lunak juga mulai bermunculan dan berkembang pada masa komputer generasi kedua ini.

Generasi Ketiga
Walaupun transistor dalam banyak hal mengungguli tube vakum, namun transistor menghasilkan panas yang cukup besar, yang dapat berpotensi merusak bagian-bagian internal komputer. Batu kuarsa (quartz rock) menghilangkan masalah ini. Jack Kilby, seorang insinyur di Texas Instrument, mengembangkan sirkuit terintegrasi (IC : integrated circuit) di tahun 1958. IC mengkombinasikan tiga komponen elektronik dalam sebuah piringan silikon kecil yang terbuat dari pasir kuarsa. Pada ilmuwan kemudian berhasil memasukkan lebih banyak komponen-komponen ke dalam suatu chip tunggal yang disebut semikonduktor. Hasilnya, komputer menjadi semakin kecil karena komponen-komponen dapat dipadatkan dalam chip. Kemajuan komputer generasi ketiga lainnya adalah penggunaan sistem operasi (operating system) yang memungkinkan mesin untuk menjalankan berbagai program yang berbeda secara serentak dengan sebuah program utama yang memonitor dan mengkoordinasi memori komputer.

Generasi Keempat
Setelah IC, tujuan pengembangan menjadi lebih jelas: mengecilkan ukuran sirkuit dan komponen-komponen elektrik. Large Scale Integration (LSI) dapat memuat ratusan komponen dalam sebuah chip. Pada tahun 1980-an, Very Large Scale Integration (VLSI) memuat ribuan komponen dalam sebuah chip tunggal.
Ultra-Large Scale Integration (ULSI) meningkatkan jumlah tersebut menjadi jutaan. Kemampuan untuk memasang sedemikian banyak komponen dalam suatu keping yang berukurang setengah keping uang logam mendorong turunnya harga dan ukuran komputer. Hal tersebut juga meningkatkan daya kerja, efisiensi dan keterandalan komputer. Chip Intel 4004 yang dibuat pada tahun 1971membawa kemajuan pada IC dengan meletakkan seluruh komponen dari sebuah komputer (central processing unit, memori, dan kendali input/output) dalam sebuah chip yang sangat kecil. Sebelumnya, IC dibuat untuk mengerjakan suatu tugas tertentu yang spesifik. Sekarang, sebuah mikroprosesor dapat diproduksi dan kemudian diprogram untuk memenuhi seluruh kebutuhan yang diinginkan. Tidak lama kemudian, setiap piranti rumah tangga seperti microwave, oven, televisi, dan mobil dengan electronic fuel injection (EFI) dilengkapi dengan mikroprosesor.
Perkembangan yang demikian memungkinkan orang-orang biasa untuk menggunakan komputer biasa. Komputer tidak lagi menjadi dominasi perusahaan-perusahaan besar atau lembaga pemerintah. Pada pertengahan tahun 1970-an, perakit komputer menawarkan produk komputer mereka ke masyarakat umum. Komputer-komputer ini, yang disebut minikomputer, dijual dengan paket piranti lunak yang mudah digunakan oleh kalangan awam. Piranti lunak yang paling populer pada saat itu adalah program word processing dan spreadsheet. Pada awal 1980-an, video game seperti Atari 2600 menarik perhatian konsumen pada komputer rumahan yang lebih canggih dan dapat diprogram.
Pada tahun 1981, IBM memperkenalkan penggunaan Personal Computer (PC) untuk penggunaan di rumah, kantor, dan sekolah. Jumlah PC yang digunakan melonjak dari 2 juta unit di tahun 1981 menjadi 5,5 juta unit di tahun 1982. Sepuluh tahun kemudian, 65 juta PC digunakan. Komputer melanjutkan evolusinya menuju ukuran yang lebih kecil, dari komputer yang berada di atas meja (desktop computer) menjadi komputer yang dapat dimasukkan ke dalam tas (laptop), atau bahkan komputer yang dapat digenggam (palmtop).
IBM PC bersaing dengan Apple Macintosh dalam memperebutkan pasar komputer. Apple Macintosh menjadi terkenal karena memopulerkan sistem grafis pada komputernya, sementara saingannya masih menggunakan komputer yang berbasis teks. Macintosh juga memopulerkan penggunaan piranti mouse.
Pada masa sekarang, kita mengenal perjalanan IBM compatible dengan pemakaian CPU: IBM PC/486, Pentium, Pentium II, Pentium III, Pentium IV (Serial dari CPU buatan Intel). Juga kita kenal AMD k6, Athlon, dsb. Ini semua masuk dalam golongan komputer generasi keempat.
Seiring dengan menjamurnya penggunaan komputer di tempat kerja, cara-cara baru untuk menggali potensial terus dikembangkan. Seiring dengan bertambah kuatnya suatu komputer kecil, komputer-komputer tersebut dapat dihubungkan secara bersamaan dalam suatu jaringan untuk saling berbagi memori, piranti lunak, informasi, dan juga untuk dapat saling berkomunikasi satu dengan yang lainnya. Jaringan komputer memungkinkan komputer tunggal untuk membentuk kerjasama elektronik untuk menyelesaikan suatu proses tugas. Dengan menggunakan perkabelan langsung (disebut juga Local Area Network atau LAN), atau [kabel telepon, jaringan ini dapat berkembang menjadi sangat besar.

Generasi Kelima
Mendefinisikan komputer generasi kelima menjadi cukup sulit karena tahap ini masih sangat muda. Contoh imajinatif komputer generasi kelima adalah komputer fiksi HAL9000 dari novel karya Arthur C. Clarke berjudul 2001: Space Odyssey. HAL menampilkan seluruh fungsi yang diinginkan dari sebuah komputer generasi kelima. Dengan kecerdasan buatan (artificial intelligence atau AI), HAL dapat cukup memiliki nalar untuk melakukan percapakan dengan manusia, menggunakan masukan visual, dan belajar dari pengalamannya sendiri.
Walaupun mungkin realisasi HAL9000 masih jauh dari kenyataan, banyak fungsi-fungsi yang dimilikinya sudah terwujud. Beberapa komputer dapat menerima instruksi secara lisan dan mampu meniru nalar manusia. Kemampuan untuk menterjemahkan bahasa asing juga menjadi mungkin. Fasilitas ini tampak sederhana. Namun fasilitas tersebut menjadi jauh lebih rumit dari yang diduga ketika programmer menyadari bahwa pengertian manusia sangat bergantung pada konteks dan pengertian ketimbang sekedar menterjemahkan kata-kata secara langsung.
Banyak kemajuan di bidang desain komputer dan teknologi yang semakin memungkinkan pembuatan komputer generasi kelima. Dua kemajuan rekayasa yang terutama adalah kemampuan pemrosesan paralel, yang akan menggantikan model non Neumann. Model non Neumann akan digantikan dengan sistem yang mampu mengkoordinasikan banyak CPU untuk bekerja secara serempak. Kemajuan lain adalah teknologi superkonduktor yang memungkinkan aliran elektrik tanpa ada hambatan apapun, yang nantinya dapat mempercepat kecepatan informasi.
Jepang adalah negara yang terkenal dalam sosialisasi jargon dan proyek komputer generasi kelima. Lembaga ICOT (Institute for new Computer Technology) juga dibentuk untuk merealisasikannya. Banyak kabar yang menyatakan bahwa proyek ini telah gagal, namun beberapa informasi lain bahwa keberhasilan proyek komputer generasi kelima ini akan membawa perubahan baru paradigma komputerisasi di dunia.



Kamis, 03 November 2011

NUMBER 1 - BIGBANG







Let me introduce myself!

BIGBANG. Yeah~
Are you ready for the show~!!!

I’ll be ready in an hour, jump in the shower

Crisp and clean now I got the power
Blasting music from my speakers
T-shirts fresh, brand new sneakers

Ready to flow, ready to go,

Ready for the spot light, ready for the show
Let me tell you something that you already know
I’m a hardworking man and I work for my fans.

Girl, I love your style, love your smile

Wish that you could be
Only mine, be only mine (fa’sho)
I can’t let it go, I don’t know
What you’re doin’ to me (yeah)
You’re so fine (yeah uh huh) , oh you’re so fine (let’s go)

Gettin’ hot in the club, I can see they want some more

(I will give you more; I’m your number one)
Once I get up I will rock, never stop, you can be sure
(Yeah you can be sure; I’m your number one)
I, (uh) you know I (yes) you know I (yo)
I’m your number one. (I’m your number one)

Crazy hot, mad party

Shorty drop it low for me
You can keep me company
You look sweet smell like honey

I need a girl who is in it for me.

Not for the money, not for the fame,
Not for the glory, not for the name.
It ain’t easy as long as you’re sayin’ this…

“Boy I love your style, I love your smile

Wish that you could be
Only mine be only mine (fa’sho)
I can’t let it go, I don’t know
What you’re doin’ to me
You’re so fine, ooh you’re so fine”

Gettin’ hot in the club, I can see they want some more~

(I will give you more; I’m your number one)
Once I get up I will rock, never stop, you can be sure~
(Yeah you can be sure; I’m your number one)
I, (you know I) you know I, (yeah you know I) you know I
I’m you’re number one

We jump, jump, jump to the ceiling (everybody in the place c’mon now)

We jump, jump, jump what a feeling, feeling~
We jump, jump, jump to the ceiling, ceiling (once again BIGBANG c’mon)
We jump, jump, jump, what a feeling, feeling~

Gettin’ hot in the club [yeah], I can see they want some more~ [you want some more]

(I will give you more [I give you more]; I’m your number one)
Once I get up I will rock [rock rock rock] , never stop, you can be sure~ [you can be sure]
(Yeah you can be sure; I’m your number one)

Gettin’ hot in the club, I can see they want some more~ (oh its getting hot in here~)

(I will give you more; I’m your number one)
Once I get up I will rock, never stop, you can be sure~
(Yeah you can be sure; I’m your number one)
I, (you know I) you know I, (yeah you know I) you know I
I’m you’re number one (I’m.your.number.one)




Love's Target V





Tittle               : Love’s Target
Eps.                 : 5
Genre             : Romance
                          Friendship
Cast                : Park Jiyeon
                          Jang Wooyoung
                          Ok Taecyeon
                          Lee Junho
                          Hwang Chansung
  Nichkhun Horvejkul
                          Ham Eunjung
                          Park Sunyoung
                          Lee Junsu
                          Jeon Boram
                          Park Soyeon
                          Lee Qri
                          Ryu Hwayoung
                          Hyun SunYoo *nongol lagi nih orang…*
                         (akhirnya semua cast udah nongol XD)



Nichkhun POV

PRANKK!!
Langsung saja mataku mencari dari mana asal suara yang sudah merusak suasana ini. Ternyata, di sebelah meja kami berdiri seorang gadis buruk rupa yang dengan bodohnya menjatuhkan gelas dari tangannya.
“Kau Nichkhun, bukan? Dia kekasihmu?” tanyanya tak percaya sembari menunjuk ke arah Jiyeon.
Aku tetap bersikap tenang dan berusaha tersenyum.
“Kuharap begitu.”
“Oppa…” rengek gadis itu.
Entah apa yang dia pikirkan. Dia terus menatapku dengan wajah yang sok manis dan mata yang sudah berkaca-kaca. Aku pikir, dia hanyalah fans gilaku. Makanya, dia tidak terima melihatku mengatakan cinta dengan seorang gadis. Yah, aku benci dengan fans macam ini! Seorang fans yang tak merelakan idolanya memilih sesuatu yang dia sukai. Bukankah seorang fans itu harus mendukung setiap hal yang dilakukan idolanya? Aku sungguh membenci fans macam ini. Dia sudah menghancurkan suasana, dan sekarang dia merengek di depanku! Cihh~ dia pikir aku peduli?
“Ya, gwenchana? Wae guraeyo?” tanya Jiyeon pada gadis itu.
“Kau mengapa mendekati oppaku?! Kau tak boleh merebutnya dari fans-fansnya! Dia milik kami!”
GOOD JOB! Fans sialan! Kau tak akan selamat pulang dari restoran ini! Kau telah berhasil membuat Jiyeon membisu dengan wajah ketakutan.

Aku sudah tak dapat lagi menutupi kekesalanku. Aku bangkit dari dudukku dan berdiri mendekati gadis itu.
“YA! Aku tau kau adalah fansku. Tapi kumohon kau jangan berteriak di depannya! Kau tau sopan santun tidak? Dengar yaa… bukan dia yang mendekatiku, tapi aku yang mendekatinya! Kalau kau memang seorang fans yang benar-benar menyukaiku, biarkan aku jalani kehidupan pribadiku!”
Aku bersikap sok pahlawan di depan Jiyeon. Sebenarnya, sangat memuakkan jika harus membela seorang gadis macam Jiyeon. Tapi, setidaknya dengan begini Jiyeon akan yakin dengan perasaanku.
“Oppa… mianhae, aku tak mau mengecewakan semua fansmu.”
Jiyeon bangkit dari duduknya dan meninggalkanku begitu saja.
“YA! KAU MENGHANCURKAN SEMUANYA!” aku berteriak tepat di depan wajah gadis itu dan berlari menyusul Jiyeon yang pastinya belum terlau jauh.

Aku keluar dari restoran dan melihat ke sana  kemari. Sosok Jiyeon kulihat berada di tengah-tengah kerumunan. Dia berjalan dengan kepala tertunduk. Aku mempercepat langkahku dan berusaha meraih tangannya.
“Jiyeon~ah. Jebal, dengarkan aku. Aku minta maaf atas kejadian tadi. Fansku memang berharga, tapi kau jauh lebih berharga bagiku.”
“Oppa, tidak hanya masalah fansmu tadi. Tapi… aku hanya menganggapmu sebagai kakakku. Mianhae…”
Aku melepaskan genggaman tanganku. Menyebalkan sekali! Gadis ini berani menolakku? SIALAN! Aku benci malam ini! Aku sudah membuang waktuku hanya untuk mengambil hatinya. Tapi apa balasan darinya? SIALAN!!!

Dengan wajah kesal aku menatap matanya. Dia terlihat bingung dan tak tau harus berbuat apa. Saat ini, aku ingin sekali memukul wajahnya yang sok manis itu! Tapi, aku tak mungkin melakukannya di tempat umum seperti ini. Apalagi semua orang sedang melihat ke arahku.
“Jiyeon~ah, Nichkhun~ssi!” panggil seorang lelaki bersama dengan seorang gadis yang keluar dari kerumunan ini.
Aku sangat mengenal wajahnya. Kalau tidak salah ingat, namanya Wooyoung. Lelaki yang sama sekali tidak tampan yang beberapa kali berusaha mendekati Jiyeon.
“Kalian sedang apa? Kau tak takut berada di keramaian seperti ini, Nichkhun~ssi?”
“Oppa, mianhae. Aku pergi dulu…” ujar Jiyeon melangkah meninggalkan kami.
Aku langsung menarik tangan Jiyeon dengan kasar dan berbisik di telinganya.
“Park Jiyeon~ssi! Sejujurnya, aku tidak membutuhkanmu. Jadi, jangan salah paham dan jangan ceritakan ini pada siapapun!” aku mendorongnya dan pergi meninggalkannya.


Jiyeon POV

Aku tak mengerti dengan perkataan yang Nichkhun bisikkan di telingaku. Apa maksudnya? Dia mempermainkanku?
“Wae gurae? Jiyeon, kau beruntung sekali bisa dekat dengan Nichkhun. Wooyoung~ah, aku mau berfoto dengannya. Temani aku!” pinta kekasih Wooyoung.
“Pergi saja sendiri.” Jawab Wooyoung oppa malas.
“Baiklah, tunggu aku yaa…” dia pun meninggalkan kami dan menghampiri Nichkhun.
“Kajja!”
Wooyoung oppa menarik tanganku dan meninggalkan kekasihnya begitu saja.

11 hari kemudian…
Akhir-akhir ini, perasaanku sering tak menentu. Ok Taecyeon, mengapa aku selalu memikirkannya? Apa aku menyukainya? Tapi aku belum bisa melupakan Wooyoung oppa.
“Kau menyukai Ok Taecyeon, bukan?” tanya Eunjung devil.
“Entahlah… tapi aku masih mengharapkan Wooyoung oppa.”
“Aku tau, perasaanmu kepada Taecyeon dan Wooyoung itu sama. Walaupun sepertinya perasaan cintamu pada Wooyoung jauh lebih besar. Tapi, waktumu sudah hampir tiba Jiyeon. 5 hari lagi, sudah tepat 3 minggu setelah hubunganmu dengan Chansung berakhir. Jika kau belum mendapatkan kekasih, maka tamatlah riwayatmu.”
“Kau sungguh akan bertindak setega itu?”
“Janji tetap janji. Makanya, nyatakan perasaanmu pada Taecyeon besok. Bukankah besok hari karnaval. Mungkin itu hari di mana kau terakhir kalinya bertemu dengan Taecyeon. Kau dan dia kan hanya berhubungan sebagai panitia saja. Jadi, sudah pasti setelah karnaval usai, mungkin kau akan jarang sekali bertemu dengan Taecyeon.”
“Tapi, kenapa aku harus menyatakan perasaanku terlebih dahulu? Aku juga tak tau dengan perasaan Taecyeon terhadapku.”
“Aduh, Jiyeon… memangnya salah jika seorang wanita menyatakan perasaannya terlebih dahulu? Karena kau tidak tau perasaan Taecyeon, maka kau tanyakan padanya. Jadi kau akan mendapat kepastian darinya. Percayalah dengan saranku, tapi terserah saja jika kau ingin mati.”

Aku diam sejenak. Benar yang di katakana devil ini. Waktuku tinggal 5 hari, dan kesempatanku untuk benar-benar bertemu Taecyeon tinggal besok pagi. Apa aku harus benar-benar menyatakan perasaanku besok?
“Baiklah…”
“Begitu doonk… tapi, jangan kecewa jika dia tidak menerimamu. Aku yakin, sesuatu yang lebih baik akan menghampirimu.” Ujar devil itu kemudian menghilang.

Pagi hari…
Pagi ini aku sangat bersemangat. Selain aku akan menyatakan perasaanku, hari karnaval ini juga sangat aku tunggu-tunggu. Akhirnya perjuanganku dan teman-teman yang lain membuahkan sesuatu yang cukup memuaskan. Kita tinggal menunggu acara berjalan lancar dan tanggapan dari orang-orang yang sangat memuaskan. Hari ini aku memakai kaos yang sama dengan yang dipakai oleh panitia-panitia yang lain. Mengenakan celana panjang dan sepatu sneaker. Aku menggulung rambutku ke atas dan mengikatnya dengan pita.
Karena ini hari yang sangat istimewa bagiku, umma mengantarkanku ke kampus. Kebetulan juga umma masuk kerja sekitar pukul 9, jadi masih ada banyak waktu untuk mengantarku ke kampus.

Setibanya di kampus, aku dan teman-teman yang lain langsung merapikan tempat dan menata-nata semua kebutuhan. Para MC yang dimainkan oleh beberapa mahasiswa dan mahasiswi di kampus ini pun telah memakai kostum yang waktu itu diberikan oleh Nichkhun secara cuma-cuma. Walaupun kejadian malam itu masih tertata rapi di otakku dan mungkin di otak Nichkhun, tapi Nichkhun tetap menepati janjinya untuk memberikan 4 pasang kostum untuk acara ini. Tapi, yang sangat mengejutkan adalah Nichkhun mengundurkan diri dan tidak mau menjadi mystery guest. Jadi dengan sangat terpaksa, 2 hari yang lalu para panitia sangat sibuk mencari seorang mystery guest pengganti. Dan akhirnya kami mendapati Hyun SunYoo, seorang aktris muda itu mau menjadi mystery guest di acara ini.

Acara karnaval ini mulai dibuka sekitar pukul 8. Acara berjalan sangat meriah dengan kehadiran semua mahasiswa dan mahasiswi di kampus ini. Beberapa penampilan di acara ini pun sangat memuaskan dan sangat memeriahkan acara. Di puncak acara, kehadiran yang sangat di tunggu-tunggu adalah penampilan dari Hyun SunYoo. Dia mengenakan gaun merah selutut, dengan bagian bawah gaun yang menggembung. Di tambah sebuah hiasan bunga di kepalanya. Dia terlihat sangat cantik sekali. Waktu yang kami berikan kepada Hyun SunYoo untuk berada di atas panggung sekitar 45 menit. Yaa, kami memang memberikan waktu yang lama untuknya. Beberapa MC mulai melempari berbagai pertanyaan kepada Hyun SunYoo. Beberapa mahasiswa/mahasiswi yang beruntung pun di perbolehkan untuk naik ke atas panggung dan berpelukkan dengan Hyun SunYoo. Sekitar 5 menit terakhir, sebagai penutup Hyun SunYoo menyanyikan sebuah lagu yang berjudul “A Goose’s Dream”. Walaupun suaranya tidak terlalu memukau, tapi dia berhasil membuat semua yang melihat berteriak senang.

Usai acara sekitar pukul 7 malam. Kami para panitia langsung membersihkan semua tempat. Tapi kami tidak berkerja terlalu banyak, karena semua ini akan di rapikan kembali oleh pihak universitas. Jadi, sekitar 15 menit kemudian kami sudah bisa pulang. Sebelum pulang, aku sibuk mencari-cari sosok Taecyeon. Dan beruntungnya, aku menemukannya sedang sendirian di belakang panggung dan dia sedang menggulung kabel sound system.
“Taecyeon~ah!”
“YA! kemana saja kau? Bantu aku sini! Teman-teman seenaknya saja meninggalkanku sendiri. Ini kan sudah malam, sangat gelap.”
“Kenapa? Kau takut gelap?”
“Tidak. Tapi kan… Lupakan! Hari ini menyenangkan bukan? Semua berjalan sesuai yang kita harapkan. Aku bisa pulang ke rumah dengan perasaan lega! Hahahahahaa…”
“Ok Taecyeon…” aku mengubah raut wajahku sedikit lebih serius.
“Kenapa? Kenapa wajahmu seperti itu? Menggelikan sekali!”
“Apa kau, merasa ada yang aneh jika berada di dekatku?”
“Tentu! Kau ini kan aneh!”
“Aku serius! Aku, aku… aku menyukaimu.”
Yaa Tuhan! Aku sungguh-sungguh mengatakannya?

Dia menghentikan aktivitasnya menggulung kabel dan berjalan medekatiku.
DUGH!!! Jantungku berdegup kencang melihat langkahnya yang semakin mendekat ke arahku. Aku mendudukkan kepalaku, untuk menutupi kegugupanku.
Setelah beberapa langkah, dia berhenti tepat di depanku.
“Terserah kalau kau bilang aku aneh. Tapi, aku bisa membaca kalau kau masih mencintai Wooyoung hyung. Jiyeon, aku hanya menganggapmu sebagai teman baikku. Lihatlah ke belakang, Wooyoung hyung telah menunggumu. Dia masih sangat mencintaimu. Sama sepertimu yang masih mencintainya.”
Dia membalikkan badanku. Kulihat, Wooyoung oppa berdiri dengan tegaknya dan tersenyum ke arahku. Dia berjalan menghampiriku, dan Taecyeon meninggalkan kami berdua.
“Jiyeon~ah, mianhae. Selama ini aku berbohong padamu. Aku, sangat mencintaimu.”
Dia langsung memelukku. Mataku berkaca-kaca mendengar ucapannya. Kurasa ini adalah tangisan kebahagiaan. Aku tak menyangka ini semua akan berakhir seperti ini. Mungkin yang orang bilang benar. Jika kau mengukir namamu dan nama kekasihmu di gembok cinta di atas N Seoul Tower, maka kau dan kekasihmu akan selamanya bersama.


“PARK JIYEON!!! PARK JIYEON! PARK JIYEON!”
Aku melepaskan pelukannya ketika mendengar teriakkan seseorang yang benar-benar memecahkan gendang telingaku.
“YA! BANGUN! Kau sudah tidur selama 3 hari! Gadis macam apa kau ini? PARK JIYEON!!!!”
Aku pun dengan malas-malasan membuka kedua mataku. Di depanku sudah berdiri seorang pria. Entah siapa dia, tapi rasanya aku pernah melihatnya. Kemudian di samping kanan dan kiriku sudah berjajar rapi orang-orang dengan pakaian pelayan. Aku berada di kasur yang sangat nyaman dan dalam ruangan yang sangat besar. Di mana aku?
“Nugu?” tanyaku pada pria di depanku.
“Nugu? Kau hilang ingatan? Aku kekasihmu, Lee Junho! YA! Jangan bercanda! Kau sungguh hilang ingatan?”
Kekasihku? Lee Junho? Mimpikah ini? Tapi, aku memang merasa bahwa aku mempunyai hubungan yang dekat dengan pria ini. Tapi… Aku kembali memutar otakku dan mengingat-ingat semuanya. BENAR! Dia kekasihku! Lalu, bagaimana dengan Wooyoung oppa? Taecyeon? Chansung? Nichkhun? Ini sebenarnya apa yang terjadi? Eunjung devil, bantu aku.

Aku melihat sekelilingku sambil terus berusaha mengingat-ingat. Di samping kasur di mana aku berbaring, terdapat meja kecil dan berdiri sebuah boneka bersayap yang sangat mirip dengan Eunjung devil.
“Eunjung devil?”
“Hahh? Bagus! Kau memanggilnya dengan sebutan devil? Bukankah biasanya kau menyebutnya peri? YA! Jiyeon kekasihku, kau sudah tertidur selama 3 hari. Seisi rumah ini mencemaskanmu. Bahkan umma dan appamu telah memanggil dokter dari Amerika untuk memeriksamu. Tapi, ternyata kata mereka kau hanya tertidur biasa. Cepat bangun! Jangan bertingkah seperti orang bodoh!”
“Nona, kau ingin di siapkan air hangat?” ujar salah satu dari pelayan itu.
“Nona? Namaku Jiyeon.”
“YA! Kau ini kenapa sih? Mereka kan biasa memanggilmu dengan sebutan nona! Cepat mandi! Kita harus berangkat ke kampus! Tolong siapkan air hangat untuknya.”
“Baik, tuan muda.”

Aku masih terus menatap Junho. Dia memang kekasihku. Dan sepertinya ruangan ini adalah kamarku. Semua pelayan ini... aku sudah sering melihat wajah mereka semua. Dan, aku tertidur selama 3 hari? Jadi, semua tentang Wooyoung oppa, Taecyeon, Nichkhun, Chansung, dan Eunjung devil itu hanyalah sebuah mimpi? Tapi, kurasa Wooyoung oppa, Taecyeon, Chansung, dan Nichkhun, aku juga sangat mengenali mereka. Aku masih belum mengerti.

Seorang pelayan menyuruhku bangkit dari tempat tidur dan mengantarku menuju kamar mandi. Di dalam kamar mandi, aku terus memikirkan apa yang sebenarnya terjadi. Tapi, semakin aku berusaha berpikir, kepalaku menjadi sakit. Usai mandi, mereka mengantarku turun ke lantai bawah. Rumah ini besar sekali! Tapi, aku sudah terbiasa melihat rumah sebesar ini. Bahkan, aku tau benar tempat-tempat di rumah ini. Aku menuruni tangga sambil terus memperhatikan sekitar. Junho sudah duduk di ruang keluarga bersama umma dan appaku. Tunggu! Appa?
“Appa!” aku berlari ke arah appaku dan langsung memeluknya.
“Syukurlah appa masih hidup.”
“YA! Jiyeon, apa yang kau katakan? Kau pikir appamu ini sudah meninggal?” tanya ummaku dengan raut wajah terheran-heran.
“Om, tante, akan kujelaskan semuanya nanti setelah kami pulang dari kampus. Dia memang sedikit gila!”
Junho menarik tanganku dan membawaku masuk ke dalam sebuah mobil limosin. Sepertinya aku juga sudah tidak asing dengan mobil ini. Ini mobil Junho, dan supir yang menyetir mobil ini pun sering aku jumpai.

Selama perjalanan, Junho selalu menatapku dengan tatapan yang sedikit aneh. Tapi, aku sama sekali tak mempedulikannya. Aku terus menatap keluar jendela.
Setibanya di kampus, aku cukup kaget melihat suasana kampus yang 100x kali lebih ramai di banding hari biasanya. Terdapat juga sebuah panggung yang cukup megah dengan banner yang bertuliskan “KARNAVAL 2011”. Karnaval? Bukankah semuanya sudah berakhir?
Ketika aku sedang melamun memperhatikan panggung tersebut, sekumpulan gadis meneriaki namaku. Untuk kali ini, aku sangat mengingat wajah mereka. Lee Qri, Park Soyeon, Ryu Hwayoung, dan Jeon Boram. Mereka sahabat-sahabatku! Aku dan Junho langsung saja menghampiri mereka.
“Jiyeon~ah! Bagaimana kabarmu?” tanya Qri.
“Kau coba saja berbicara dengannya. Dia sungguh gila!” ujar Junho.
“Kau ini jahat sekali mengatakan hal itu kepada kekasihmu sendiri.” sahut Soyeon.
“Jiyeon, bagaimana bisa kau tertidur selama 3 hari?” tanya Hwayoung.
“Entahlah…”
“Lee Junho!” teriak seorang lelaki dengan headset di lehernya.
“YA! akhirnya yeojachingumu sudah terbangun dari mimpi panjangnya. Hahahahhaaa…” ujar lelaki itu.
“Hey, Junsu! Kau tau tidak? Dia seperti putri tidur, hanya saja putri tidur tidak mengalami amnesia setelah tidur panjangnya?” sahut Junho.
“Hahahahahhaa…” mereka menertawaiku.
“Jiyeon, kami dengar, mystery guest karnaval ini adalah Nichkhun dan kekasihnya, Hyun SunYoo.” Ujar Boram.
“Hahh? Nichkhun? Bagaimana bisa dia mau hadir ke acara seperti ini? Bukankah saat itu dia menolak mentah-mentah acara ini? Dia bilang ini hanyalah acara murahan.”
Mereka terdiam dan menatap ke arahku dengan wajah yang kebingungan.
“Hhh.. sudah kubilang, dia gila, bukan?” ujar Junho.
Menyadari apa yang aku lakukan, aku menutup mulutku dan sedikit menunduk karena malu.

Aku dengan wajah ragu-ragu melihat sekitar dan berusaha mengembalikan suasana. Tapi, tiba-tiba saja seseorang menepuk pundakku dari belakang.
OK TAECYEON!!!
“Taecyeon~ahh??”
“Kemana saja kau 3 hari ini? Kau merepotkan kami semua. Kami terpaksa mengerjakan tugasmu.” Ujarnya dengan wajah sangat dingin.
Bukankah Taecyeon adalah orang yang sangat ceria?
“Hahahaha… Mianhae. Wajahmu kenapa seperti itu? Menggelikan sekali!”
Dia menatapku heran.
“Kau ini aneh sekali!” dia pergi begitu saja.

Aku kembali menatap ke arah Junho dan yang lainnya. Mereka menatapku semakin aneh.
“Kau… berani sekali kau berkata seperti itu pada monster di kampus ini.” ujar Qri.
Monster? Ok Taecyeon?? Tidak! Dia orang yang sangat ramah. Mungkin saja, sekarang ini dia sedang dalam kondisi yang tidak baik.
“Park Jiyeon! Kemana saja kau selama ini? Kelas sepi tanpamu.” Ujar lelaki yang menghampiriku dengan seorang gadis.
“Hwang Chansung? Kau sudah kembali dari Inggris? Cepat sekali! Dan… kau sudah bisa melupakanku?”
“Dari Inggris? Yah~ kuharap suatu saat nanti aku akan berlaga di Inggris. Aku melupakanmu? Maksudnya?”
“Ya, kau pasti sudah bisa melupakanku. Karena kau sudah mendapatkan gadis lain. Hahahahahaa…”
“Kau mabuk yaa?”
“Chansung, pergi saja dari sini. Otaknya sedang konslet.” Ujar Junho.
“Hahahahahaa… Yeojachingumu aneh sekali hari ini.”

Karena Junho menganggapku terlalu aneh hari ini, dia membawaku ke tempat yang lebih sepi. Dia mengajakku ke taman di belakang fakultasku. Di sini cukup sepi. Tapi, sangat menyenangkan karena aku menemukan sosok Wooyoung oppa. Tapi, dia bersama dengan kekasihnya, Sunyoung?
“Wooyoung oppa!!” teriakku memanggilnya.
“Shhht! Apa yang kau lakukan? Kau mengenalnya?”
“Tentu saja. Aku ke sana dulu yaa…”
Aku berlari meninggalkan Junho dan menghampiri Wooyoung oppa. Ketika aku sampai di hadapannya, aku langsung memeluknya. Perasaan ini sangat bahagia ketika dia berada di pelukanku. Tapi…
“Apa yang kau lakukan?” dia mendorong tubuhku.
“Oppa…”
“Oppa? Berani sekali kau seperti itu. Aku saja tak mengenalmu!”
“Tapi, oppa…”
“Apa lagi? Kau ini sudah gila yaa? Kau benar-benar gadis paling gila yang pernah kutemui! Menjauh kau dariku!!!”
Aku berlari meninggalkannya sambil membiarkan air mataku yang telah mengalir. Aku menghampiri Junho yang masih duduk di bangku yang sama. Aku tak percaya Wooyoung oppa melakukan ini! Aku GILA!!! Apa yang sebenarnya terjadi padaku? Kepalaku terasa sakit sekali jika aku harus mengingat semuanya. Aku GILA!!! GILA!!! GILA!!!
“Kau tenangkan saja dirimu. Aku tak mau melihatmu seperti ini lagi.” Junho meninggalkanku.
AKU GILLA!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!







: Please give a comment. Because, your comment can make me much better :
THANK YOU :) 

Love's Target IV




Tittle               : Love’s Target
Eps.                 : 4
Genre             : Romance
                          Friendship
Cast                : Park Jiyeon
                          Jang Wooyoung
                          Nichkhun Horvejkul
                          Ok Taecyeon
                          Ham Eunjung
                         (cast yang lainnya nyusul XD)





Nichkhun POV

“W…w…waeyo?” tanyaku sedikit gugup.
“Hhh… aku lelah. Aku dan Taecyeon sudah mencari ke setiap toko pakaian di sepanjang pusat perbelanjaan ini, tapi kami belum menemukan pakaian yang kami cari.”
Fiuh~ syukurlah. Berarti dia tidak mendengar apa yang aku katakan pada manajerku. Aku langsung saja menutup telephone dari manajerku.

Karena dia tidak mendapatkan apa yang dia cari, maka kami kembali ke dalam mobil.
“Pakaian seperti apa yang kalian cari? Kalau memang tidak ada di pasaran, biar designerku yang membuatnya.”
“Jinca, hyung? Omoo~ kau baik sekali! Gomawo. Jiyeon, kau beruntung sekali bisa mengenalnya. Tapi, hyung… memanganya kalau pesan pada designermu, harganya tidak 5 kali lipat dari harga pasaran?”
“Tidak usah memikirkan itu. Untuk kalian aku beri gratis.”
“Oppa…”
“GOMAWO, hyung!! Kau baik sekali!!”
“Ya, Ok Taecyeon! Anio. Kita harus membayar, oppa.”
Aku hanya membalasnya dengan senyuman kebohonganku. Tak apalah jika hanya pakaian saja. Aku tidak akan terlalu rugi. Lagian, bukankah mereka bisa dibohongi dengan memakai bahan-bahan murahan?


Jiyeon POV

Aku hanya membuang pandanganku melihat keluar jendela mobil. Nichkhun baik sekali terhadapku. Dia bukan siapa-siapaku, bahkan kami saling mengenal baru beberapa hari yang lalu. Awalnya aku memang senang melihatnya bersikap baik padaku, tapi semakin lama aku merasa ada yang aneh dengannya. Tak sewajarnya seorang bintang besar bersikap seperti ini kepada seorang gadis biasa sepertiku. Ingin aku menolak tawarannya untuk kali ini, tapi Taecyeon terus mendesakku untuk memanfaatkan semua ini. Yaah, memang cukup sulit mencari pakaian dengan model yang sangat aneh seperti yang kami inginkan. Kami mencari pakaian seperti model cosplay dengan membuat karakter sendiri. Biasanya, jika harus membuat, aku yakin banyak designer lain yang mampu membuatnya. Tapi biaya yang dibutuhkan juga tidak sedikit, sedangkan jika kami menggunakan uang hasil pengumpulan, itu akan habis hanya untuk membuat pakaian. Apalagi pakaian yang kami butuhkan 2 pasang. Ok Taecyeon kan di sini sebagai bendahara 1, jadi dia harus benar-benar mengontrol dengan baik semua pengeluaran.

“Kita makan siang dulu yaa…” ujar Nichkhun membuyarkan lamunanku.
Dia mengarahkan mobilnya ke sebuah restoran yang cukup besar di daerah sekitar Sungai Han. Kami turun dari mobil dan masuk ke restoran tersebut. Seorang pelayan menyambut kedatangan kami dan mengarahkan kami pada meja dan kursi yang belum terisi. Tapi, Taecyeon tiba-tiba menghentikan langkahnya dan berbisik di telingaku.
“Bisakah kita pindah ke tempat makan yang lain?”
Mendengar bisikannya, aku ikut menghentikan langkahku dan menatapnya penuh tanda tanya. Raut wajahnya berubah. Aku tak pernah melihat dia seperti ini. Raut wajah kecewa bercampur dengan raut sedih, dan matanya yang mulai berkaca-kaca. Wae??? Nichkhun yang sudah jauh di depan kami, melihat ke belakang dan menghampiri kami.
“Waeyo?”
“Hyung, mianhae… aku pulang duluan saja.”

Dengan langkah gontai dia meninggalkan kami.
“Kenapa dengannya?” tanya Nichkhun padaku.
“Molla… oppa, mianhae. Aku belum lapar, aku pulang duluan. Mianhae…”
Aku pun meninggalkan Nichkhun dan berusaha mengejar Taecyeon. Biar bagaimanapun juga, dia adalah temanku, tak mungkin aku membiarkannya sendirian.

Keluar dari restoran ini, kulihat Taecyeon berjalan di trotoar menuju kearah barat. Aku sedikit berlari untuk menghampirinya. Untung saja dia berjalan sangat pelan, jadi aku tak perlu mengejarnya terlalu jauh. Aku berjalan di sampingnya, dan dia melihat ke arahku sambil memberikan senyum simpul. Sebenarnya aku ingin bertanya, tapi aku merasa takut jika salah kata, aku akan menyakiti perasaanya. Aku terus mengikutinya berjalan tanpa tau ke mana arah tujuannya. Tapi setidaknya, aku akan menemaninya. Di sepanjang jalan dia hanya menutup rapat mulutnya. Tidak seperti dia yang biasanya selalu membuat kegaduhan dan membuat malu semua orang yang berada di dekatnya. Sekitar 15 menit sudah aku mengikuti langkahnya yang sangat pelan, dan dia pun berhenti di sungai Han. Dia duduk di tangga tepi sungai. Aku pun mengikuti langkahnya dan duduk di sampingnya. Aku tak tau dia marah atau tidak jika aku mengikutinya seperti ini. Tapi, dia tak protes sedikitpun. Atau mungkin, karena dia memang tak pernah marah pada siapapun.

“Kau sangat beruntung, Jiyeon. Ada ummamu yang selalu memperhatikanmu. Kau juga ramah dan baik hati, jadi banyak sekali yang bersedia menjadi temanmu. Dan kau sangat menarik, jadi para lelaki selalu berusaha mendapatkan perhatianmu. Tidak sepertiku…”
Ucapannya berhenti. Aku melihat ke arahnya, dia sangat tenang dan berusaha menahan air matanya. Terdengar sedikit dia mengambil nafas dan membuangnya kembali.
“Kau ini bicara apa? Kau juga punya banyak teman. Bahkan kau lebih beruntung dariku. Appamu masih menemanimu sampai umurmu sekarang ini. Kau masih bisa merasakan kasih sayang dari appamu. Sedangkan aku belum sempat lama merasakan kasih sayang appaku.”
“Tapi… appa dan ummaku tidak mempunyai hubungan sebaik yang kau kira. Aku memang sering membuat kegaduhan, tapi itu adalah luapan dari kemarahanku ketika di rumah.”
Kulihat butir air matanya mulai mengalir perlahan.

“Appaku, dia selalu saja pergi dengan wanita teman sekantornya. Dan ummaku, di restoran tadi aku melihatnya bersama pria lain. Di rumah, mereka selalu saja bertengkar seperti tikus dan kucing. Mereka tak pernah mempedulikanku. Semua kebutuhanku, pembantukulah yang mengurusnya. Mereka hanya meninggalkan uang dan pergi begitu saja. Setiap hari pulang malam. Bahkan aku terkadang dengan setia menunggu mereka pulang hingga pukul 1 malam, tapi mereka pulang bersama orang lain. Tapi bodohnya aku yang selalu saja menunggu mereka hanya untuk melihat wajah mereka. Ingin sekali aku makan malam sekali saja, lengkap bersama dengan mereka. Menikmati udara malam di taman belakang sambil bercanda tawa. Tapi semua itu hanya anganku. Aku malu… para tetanggaku seringkali menggosipkan kedua orangtuaku yang selalu saja membawa pria atau wanita lain ke rumah. Aku malu, Jiyeon…”

Air matanya mengalir deras dan isak tangisnya terdengar sangat menyakitkan di telingaku. Ceritanya membuatku tak dapat membendung air mataku. Dia menundukkan kepalanya dan menangis sejadi-jadinya. Aku mengambil sapu tangan dari tas kecilku dan memberikan padanya. Aku tak tau harus berbuat dan berkata apa.
“Maaf kalau aku bercerita seperti ini padamu. Aku juga tak tau mengapa aku mengatakannya padamu. Selama ini, aku selalu memendam ini sendiri. Aku tak berani mengatakannya pada teman-teman. Aku takut mereka mengolok-olokku.”
“Taecyeon~ah… segala sesuatu, janganlah kau pendam sendiri. Mungkin orang lain bisa membantumu menyelesaikan sesuatu yang tak dapat kau selesaikan sendiri. Umma dan appamu… tunjukanlah bahwa kau benar-benar mencintai mereka. Sejahat apapun orang tua, pasti mereka akan berubah demi anaknya. Jika kau terus menunjukkan rasa cintamu, mereka pasti akan luluh. Dan kau harus sering-sering mengajak mereka untuk berkumpul bersama. Aku yakin, mereka tak akan menolak ajakanmu. Ok Taecyeon, kaulah yang bisa merubah semua ini. Aku yakin, mereka juga saling mencintai dan juga mencintaimu. Mereka tak akan melakukan sesuatu yang buruk, jika mereka mengingat bahwa mereka mempunyai anak yang baik sepertimu.”
“Tapi aku takut… aku hanya berani melihat mereka dari kejauhan. Aku tak berani mendekati mereka. Mereka selalu saja memasang muka masam jika sudah menginjakkan kaki di rumah.”
“Ok Taecyeon…”
Dia masih belum bisa menghentikan tangisannya. Aku pun mendekatinya dan berusaha meraih tangannya.


Di rumah…
Aku masuk ke kamarku dengan wajah lesu dan langkah yang sedikit tak pasti. Aku masih mengingat Taecyeon, aku tak menyangka kalau hidupnya seperti itu. Ternyata selama ini, keceriaanya hanyalah untuk menutupi kesedihannya. Di kamar, Eunjung devil sudah berbaring di atas kasurku.
“Waeyo? Kenapa wajahmu seperti itu?”
“Kenapa aku merasa seperti ini yaa? Aku merasa jantungku berdegup kencang. Aku tak pernah merasakan ini selain jika aku bertemu dengan Wooyoung oppa.”
“Kau jatuh cinta? Dengan siapa? Kumohon jangan Nichkhun!!”
“Jatuh cinta? Kau gila? Aku hanya merasa kasihan mendengar cerita Taecyeon. Oiya, memangnya kenapa jika aku menyukai Nichkhun? Kau tidak biasanya melarangku suka dengan seorang pria. Justru kau selalu mendukungku jika aku dekat dengan seorang pria. Ketika aku bersama Chansung, orang yang tidak aku cintai, kau sangat senang. Kenapa dengan Nichkhun aku tidak boleh?”
“Diam kau! Tak usah banyak bertanya! Yang pasti, jangan sampai kau menyukai pria itu. Tapi kurasa, kau memang sedang jatuh cinta. Kau tak ingat kalau aku ini peri cinta? Jadi aku bisa merasakan kalau kau sedang jatuh cinta. Hahahahahahahahaa… tapi, kau harus lupakan Wooyoung! Untuk apa kau terus mengingatnya? Itu hanya akan menghabiskan waktumu.”
Aku tak membalas perkataannya. Aku mengambil pakaian di almari dan segera menuju kamar mandi.

Hari ini terasa sangat melelahkan. Memang tidak menguras banyak tenaga, tapi aku merasa terbebani saat mendengar cerita Taecyeon. Aku pikir, kisah yang dialami Taecyeon hanya terjadi pada drama saja, ternyata di kehidupan nyata pun ada. Sungguh tak habis pikir, kenapa bisa ada orangtua macam itu? Tapi kejadian yang hari ini terjadi sungguh memberiku sebuah pengalaman, dimana aku harus bisa menjadi anak yang baik dan selalu tabah seberat apapun beban yang kurasa.

Usai mandi, aku kembali berbaring di atas kasurku. Aku membuka laptopku dan mendengarkan beberapa lagu. Aku meraih ponsel yang aku letakkan di sebelah bantalku. Entah apa yang aku pikirkan, tanganku langsung saja mencari kontak di ponselku dengan nama “Ok Taecyeon”. Aku menekan tombol pesan dan mengetik “Taecyeon~ah… gwenchana?”. Baru saja aku akan mengirim pesan itu, ummaku datang dan membuatku kembali menghapus pesan itu. Aku menyambut kedatangan ummaku dengan peluk dan cium. Ditambah lagi, umma membawakan roti abon kesukaanku. Aku langsung mengambil kantong plastik dari tangan ummaku dan melahap sebungkus roti abon. Umma tersenyum lebar melihatku menikmati roti abon darinya. Tapi, aku berhenti melahap dan kembali teringat pada Taecyeon.
“Umma… apa semua orangtua menyayangi anaknya?”
“Ehh? Kenapa kau bertanya seperti itu? Tentu saja, sayang. Sejahat apapun orangtua, umma yakin pasti mereka mempunyai rasa sayang yang besar terhadap anak-anaknya.”

Mendengar ucapan umma, aku langsung berlari menuju kamarku dan meninggalkan umma begitu saja. Aku meraih ponselku kembali dan menulis pesan untuk Taecyeon “Keep smile, Ok Taecyeon ;) dibalik semua luka, aku yakin akan ada banyak kebahagiaan yang menunggumu. Pangeranku, FIGHTING!!”. Baru kali ini aku mau memanggilnya dengan kata “pangeranku”. Biasanya aku selalu risih mendengar dia mengucapkan itu. Dan entah kenapa, aku sangat tak mau melihatnya terluka. Aku takut jika aku harus kehilangan senyum di wajah cerianya itu.

Tak lama kemudian, dia membalas pesanku.
“Gomawo, puteriku ;) terimakasih untuk hari ini…”
Aku tersenyum lega membaca balasan pesan darinya. Jantungku, lagi-lagi berdegup kencang. Waeyo???


Esok harinya…
Bangun pagi sekali, aku langsung bersiap untuk menjalani keseharianku. Aku mandi, berdandan, dan juga menyiapkan jadwal untuk mata kuliahku. Pagi ini lebih dingin dari biasanya, atau mungkin karena aku bangun terlalu pagi? Tapi, aku segera menghangatkan tubuhku dengan meminum satu hot chocolate buatan ummaku. Walaupun masih pagi sekali, tapi umma sudah menyiapkan sarapan untukku. Dia selalu bangun jauh lebih awal dariku.

Sekitar pukul setengah tujuh, aku berangkat ke kampusku, diantar oleh Nichkhun. Yaa, pagi ini dia menjemputku lagi. Entah sampai kapan dia akan seperti ini. Tapi pagi ini tidak seperti biasanya, dia mengantarku lengkap bersama dengan supir dan manajernya. Mungkin setelah ini dia ada jadwal syuting. Setibanya di depan fakultasku, aku turun dari mobilnya dan berpamitan dengan semua orang yang ada di dalam mobil, tak lupa untuk mengucapkan terima kasih. Aku berjalan menuju ruang kelasku. Di depan kelasku, kulihat Taecyeon tengah berdiri dan seperti menunggu seseorang.
“Ok Taecyeon! Kau menungguku yaa?” godaku.
“Ya, tentu saja! Bagaimana tidak? Aku kan pangeranmu. Hahahahahahaa”
“Haish!”
“Mmmm… terimakasih ya untuk kemarin. Aku harap kau bisa menjaga rahasia.”
Dia menatapku serius. Dan ini membuat jantungku berdegup lagi. Kenapa? Kenapa selalu seperti ini disaat aku mengingat ataupun dekat dengannya?
“Ya! Ok Taecyeon! Kau mau main skateboard tidak? Kita bolos mata pelajaran pertama saja, bagaimana?” ujar seorang teman yang menghampirinya.
“Ya! Itu ide yang bagus. Aku juga sudah bosan melihat wajah dosen itu. Mukanya seperti ingin kucabik-cabik. Tapi, aku tak mau melihat kau menangis karena kalah bertanding denganku yaa… kajja! Jiyeon, sampai ketemu nanti yaa… MUAAHHH!! Hahahahahahaa” dia memajukan bibirnya tepat di depan wajahku, lalu meninggalkanku.

Aku terpaku. Dagdigdug… itulah yang kudengar dari detak jantungku.
“PARK JIYEON!!!” teriak seorang pria.
Aku tertegun dan langsung melihat sekelilingku, berusaha mencari siapa empu dari suara ini. Aku melihat ke arah manapun, tetapi aku tak dapat menemukan sosok yang meneriaki namaku tersebut. Dan tiba-tiba saja dosenku menepuk pundakku dan menyuruhku untuk segera masuk ke ruang kelas.

Sepanjang dosenku berbicara di depan kelas, pikiranku sama sekali tidak terfokus dan terus melayang entah kemana. Sesekali terlintas sedikit wajah Ok Taecyeon di anganku. Dan jika bayangan itu muncul, maka aku akan mengusirnya dan mencoba memfokuskan pikiranku. Tapi, percuma saja… bayangan itu terus saja muncul di anganku. Membuat jantungku berdegup kembali.

Usai mata kuliah hari ini, aku pulang sendiri. Nichkhun baru saja menghubungiku dan memberitahu bahwa dia sedang ada syuting. Sebenarnya, aku juga tidak berharap dia akan menjemputku. Dia juga mengatakan bahwa nanti malam dia akan mengajakku makan malam.
“Jiyeon~ssi!” panggil seorang gadis yang sedikit berlari ke arahku.
Aku menoleh dan memperhatikan dengan benar siapa gadis itu. Dia, kekasih Wooyoung oppa. Aku lupa namanya. Entah apa yang menyambarku, melihat wajahnya badanku terasa lemas dan tidak bersemangat lagi. Tapi, untuk apa dia menghampiriku?
“Jiyeon~ssi, bisakah kita bicara sebentar?”
Sebenarnya di otakku sudah tertimbun banyak sekali pertanyaan mengapa dia menghampiriku, tapi aku menjawab pertanyaanya dengan sebuah anggukan kecil.

Dia mengajakku duduk di kursi taman yang letaknya tidak jauh dari fakultasku. Dia melihat ke arahku dengan wajah yang serius. Sepertinya ada yang tidak beres.
“Apa, Wooyoung masih sering menghubungimu?”
“Hahh? Tidak. Memangnya kenapa?”
Aku sedikit kaget mendengar pertanyaanya. Tak terlintas sedikitpun di pikiranku kalau dia akan menanyakan hal semacam ini.
“Sejak awal, Wooyoung selalu acuh terhadapku. Aku sudah berusaha untuk bersikap sangat baik terhadapnya, tapi dia tetap saja mengacuhkanku. Dia seringkali salah menyebut namaku dengan namamu. Sebenarnya, Wooyoung mau menjadi kekasihku hanya karena perintah dari orangtuanya. Kurasa, dia sama sekali tak menyukaiku.” Ujarnya sedikit bergeming.
“Maksudmu?”
“Apa kau masih mencintainya?”
Aku diam. Aku harus menjawab apa? Aku memang masih mencintainya, tapi tak mungkin kan aku mengatakan ini pada kekasihnya.
“YA! kau siapa? Kau tanya apa tadi? Jiyeon masih mencintainya? Maksudmu Jang Wooyoung? tentu saja tidak! Aku kan pangerannya Jiyeon, jelas saja Jiyeon mencintaiku, bukan Wooyoung hyung.” Sahut seorang pria yang tak lain adalah Taecyeon yang baru saja muncul dari balik pohon.
“Kau kekasih Jiyeon?”
“Ne. aku kekasihnya! Memangnya kenapa? Kau cemburu? Atau, jangan-jangan kau suka denganku! Hahahahahahaha… maafkan aku, aku lebih memilih Jiyeon daripada kau.”
“Kau ini bicara apa sih!” aku memukul tangan Taecyeon.
“Yasudah kalau begitu. Aku cukup lega mendengarmu sudah memiliki pengganti Chansung, jadi Wooyoung tak akan lagi mendekatimu. Aku pergi dulu yaa… maaf sudah menyita waktumu.” Dia pun pergi meninggalkan kami.

“Aku pulang dulu yaa… jangan merindukanku!” Taecyeon berlalu.
“YA! kau muncul hanya untuk mengatakan itu?”
“Setidaknya aku menyelamatkanmu, bukan? Memangnya apa lagi yang harus kuperbuat? Aku sudah tidak ada urusan denganmu! Hahahahahaha…” ujarnya sedikit berteriak karena jaraknya dan aku sudah cukup jauh.

Aku pun berjalan di sepanjang daerah kampusku. Aku hendak mencari bus yang biasanya melewati depan kampusku. Jadi, aku harus jalan cukup jauh. Tapi di tengah jalan, sebuah mobil berhenti tepat di sampingku. Mobil berwarna hitam yang dulu sering aku tumpangi. Pemilik dari mobil itu pun membuka kaca mobil dan menyapaku. Dia menyuruhku untuk pulang bersamanya. Tapi, jelas saja aku menolaknya. Baru saja kekasihnya menghampiriku, tak mungkin juga kalau sekarang aku harus satu mobil dengannya. Lagipula, aku takut kalau aku harus sesak nafas jika bersama dengannya. Jadi, aku memutuskan untuk melanjutkan perjalananku dan pulang ke rumah dengan naik bus.

Setibanya di rumah, aku membanting tubuhku di atas kasur dan memainkan ponselku. Kulihat sekelilingku, Eunjung devil tidak ada di sini. Aku pun merasa lebih leluasa untuk melakukan apa yang ingin aku lakukan. Aku menyalakan music dari ponselku dan bernyanyi-nyanyi sambil menata-nata kamarku. Sudah lama aku tidak merapikan kamar ini. Selama ini aku selalu di sibukkan dengan kegiatan kampusku. Aku merapikan kamar hingga jam menunjukkan angka 6. Aku bergegas ke kamar mandi dan merapikan diri. Aku masih ingat kalau aku ada janji dengan Nichkhun. Ummaku hari ini pulang malam, jadi aku rasa kalau aku di rumah, aku juga akan merasa sangat kesepian.

Aku keluar dari kamar mandi dan duduk di depan meja rias. Seperti biasa, aku mendandani diriku dengan make-up seadanya. Tapi yang tidak biasa adalah aku memakai baju semi gaun yang panjangnya cukup menutup lututku. Aku juga membiarkan rambutku yang panjang ini terurai. Dan tak lupa memakai sepatu hitam dengan tali yang melilit kakiku. Aku menunggu Nichkhun di ruang keluarga sembari menonton TV. Acara TV sekarang ini hanya dipenuhi dengan drama dan serial. Inilah yang membuatku terkadang malas untuk menonton TV.

Sekitar 10 menit aku menunggu, dia sudah tiba di depan rumahku. Aku langsung saja keluar dan mengunci pintu rumah. Dia turun dari mobilnya dan menyapaku. Dia mengenakan kemeja kotak-kotak biru dengan celana jeans panjang. Dia membukakan pintu mobil untukku masuk. Usai menutup pintu mobil, dia berlari ke pintu yang lain dan duduk di sebelahku.

Nichkhun mengajakku ke sebuah restoran yang sangat besar. Orang bilang, satu porsi makanan di restoran ini sama dengan harga kaos di butik-butik. Tapi entahlah, aku juga baru kali pertama ini masuk ke restoran ini. Seorang pelayan menunjukkan pada kami sebuah meja yang terletak di taman belakang. Meja yang hanya untuk 2 orang itu sudah di hias berbeda dengan meja yang lain. Di tambah lagi dengan sebuah lilin yang cukup besar yang berdiri kokoh di tengahnya.

Nichkhun langsung saja memesan berbagai makanan tanpa menanyakannya terlebih dahulu kepadaku. Sembari menunggu pesanan, aku dan dia bercakap-cakap sedikit. Ketika pelayan mengantarkan minuman yang telah di pesan, aku meneguknya perlahan. Nichkhun menatapku dengan senyum yang sangat mempesona, tapi sayang aku tidak begitu terpesona melihatnya. Aku hanya bertanya-tanya pada diriku sendiri kenapa dia seperti ini? Tak lama kemudian, tangannya yang bersih dan terlihat kuat itu meraih tanganku dan menggenggamnya. Awalnya aku berusaha untuk mengalihkan perhatiannya agar melepaskan genggamannya, tapi tak sedikitpun usahaku berhasil.

“Jiyeon~ah…”
“Ne?” mungkin saat ini wajahku terlihat sangat aneh. Bagaimana tidak? Tingkahnya saja membuatku sedikit ketakutan.
“Kau berbeda dengan gadis yang lain. Aku, entah sejak kapan aku merasakan ini. tapi… aku menyukaimu. Kau mau menjadi kekasihku?”
Praannkkk!!!




: Please give a comment. Because, your comment can make me much better :
THANK YOU :)