Selasa, 27 September 2011

Love's Target II




Tittle               : Love’s Target
Eps.                 : 2
Genre             : Romance
                          Friendship
Cast                : Park Jiyeon
                          Jang Wooyoung
                          Hwang Chansung
                          Park Sunyoung
                          Nichkhun Horvejkul
                          Ham Eunjung
                         (cast yang lainnya nyusul XD)

           


Jiyeon POV

2 bulan kemudian...
Tantangan kali ini, dapat aku lewati (LAGI). Aku berhasil mendapatkan pengganti Wooyoung oppa. Walaupun, hatiku tak sedikitpun untuknya, tapi setidaknya dia menyelamatkan hidupku. Lelaki bernama Hwang Chansung ini, aku dengar telah melirikku sejak 2 tahun yang lalu. Tapi, sayangnya dia kalah cepat dengan Wooyoung oppa. Dia teman satu kelasku dan dia kapten tim basket di kampusku. Banyak sekali mahasiswi yang menyukainya. Mereka bilang, wajahnya yang playboy itu tampan sekali. Setelah mengetahui putusnya hubunganku dengan Wooyoung oppa, dia berusaha mendekatiku dan merayuku. Awalnya, aku sama sekali tak memperdulikannya. Tapi, setelah kuingat ucapan devil itu, aku pun menanggapi rayuan Chansung. Dan, 2 minggu yang lalu dia menyatakan cintanya padaku.

Sebenarnya tak ada sedikitpun rasa suka padanya, tapi aku pikir rasa suka itu akan datang jika terbiasa. Di samping itu, fisik Chansung juga sangat sangat mendukung. Tapi terkadang aku juga kesal dengan sikapnya yang kekanak-kanakan. Aku sendiri saja tak ada sikap dewasa sedikitpun, jika pasanganku seperti ini, lalu siapa yang akan bersikap dewasa diantara kita?
“Jagi~ Hari ini aku ada latihan basket, tunggu aku yaa…”
Aku hanya mengangguk.
Jujur saja, aku paling tidak suka jika harus menunggu.

Sore hari, aku menunggunya berlatih basket di lapangan basket dekat fakultasku. Aku duduk di kursi penonton tingkatan paling bawah. Memperhatikan orang-orang di tengah lapangan yang sedang sibuk memperebutkan satu bola. Sedikit membosankan…
Dan aku memutuskan untuk memainkan ponselku dan memasang earphone di kedua telingaku sembari bernyanyi-nyanyi kecil mengikuti alunan lagu yang aku putar. Sesekali aku melihat ke arah penonton yang sedang bersorak -sorai melihat latihan basket ini. Walaupun ini bukan pertandingan, tetapi jika ada latihan, lapangan ini selalu dipenuhi mahasiswa dan mahasiswi. Terutama mahasiswi yang sering kegirangan melihat tim basket yang sedang berlatih. Seringkali mereka meneriakkan nama para tim basket, dan terutama yang paling terdengar di telingaku adalah nama “Hwang Chansung”. Yah, diantara teman-temannya yang lain, memang Chansung yang paling popular. Dan tak mengurangi rasa hormat, Chansung membalas teriakkan mereka dengan sebuah senyuman.

Aku terus memperhatikan mahasiswi-mahasiswi itu. Bukan karena aku cemburu, hanya saja aku heran dengan apa yang mereka lakukan. Mataku kembali melihat sekitar untuk mencari sesuatu yang jauh lebih unik. Tetapi, pandanganku terhenti pada seorang lelaki yang duduk di deretan dekat pintu keluar. Pandangan kami sempat bertemu, tetapi dia langsung mengalihkan pandangannya. Sepertinya, dia memperhatikanku sedari tadi. Dia bukan penggemarku, melainkan Wooyoung oppa. Yaa, aku sangat mengenalinya walaupun wajahnya sedikit samar-samar dari penglihatanku.
“Jiyeon! Park Jiyeon!”
Pandanganku berubah mencari sosok yang memanggilku, tapi kulihat sekelilingku, tak ada satu orang pun yang bertingkah seperti memanggilku. Ah, mungkin ini hanya perasaanku saja.

Tim basket itu usai berlatih dan mereka duduk di dekatku. Mereka langsung meneguk sebotol air mineral dan menghapus keringat mereka dengan handuk kecil. Beberapa dari mereka menawarkanku sebotol minuman, tetapi aku menolaknya dengan senyuman. Dan salah seorang dari mereka, dengan nomor punggung 19 menghampiriku.
“Jiyeon~ kenapa kau mau dengan Chansung? Aku tak kalah tampan dengannya.”
“Haish! Jangan menggoda kekasih orang lain.” Ujar yang lainnya.
“Hahahaha… Jiyeon~ nanti malam kau ada acara tidak? Mau pergi ke club bersamaku?”
Awalnya aku hanya menggelengkan kepalaku. Aku merasa ada yang aneh dengannya.
“Ayolah~ Jiyeon… hanya semalam saja. Chansung sepertinya juga tak akan keberatan.” lelaki itu merapatkan jarak duduknya denganku dan mulai melingkarkan tangannya di leherku.
Apa yang dia lakukan? Apa ini cara bertemannya? Tapi, ini TIDAK SOPAN!!!
Otteohkae? Chansung juga tak sedikitpun melihat ke arahku. Dia sedang melayani mahasiswi-mahasiswi yang mengajaknya bercakap-cakap. Lalu, aku harus berbuat apa? Tak mungkin aku menamparnya di tempat umum seperti ini.
“Bisa kau sedikit menjauh darinya? Berikan ruang untuknya bernafas.” ujar seorang lelaki yang tadi duduk di deretan dekat pintu keluar.
“Ohh… mian. Tapi, atas dasar apa kau menyuruhku seperti itu?”
“Ani~ hanya saja, itu tidak pantas untuk seorang yang belum saling mengenal. Itu tidak sopan.”
“Lalu seperti apa yang benar?”
Dia melepaskan tangannya dan menghampiri Wooyoung oppa.
#BUK
“Apakah seperti ini?” dia memukul wajah Wooyoung oppa bagian kanan.
Terlihat jelas darah segar mengalir di dekat bibirnya. Aku yakin, pukulannya sangat keras.
“Hhh… apa yang kau lakukan?” Tanya Wooyoung oppa.
“Aku hanya menunjukkan cara berteman yang baik. Kau suka caraku, bukan?”
“Ini bukan cara berteman seorang lelaki, melainkan cara berteman seekor binatang.”
“MWO?”
#BUK
Dia memukul Wooyoung oppa lagi, tetapi kali ini bukan wajahnya, melainkan perutnya. Anggota tim yang lain berusaha untuk menenangkan lelaki itu.
“YA!!!” aku bangkit dari dudukku dan menghampiri mereka.
#PLAK
Tak tahu kenapa, tanganku langsung menampar pipi lelaki itu.
“Wae? Kenapa kau berbuat seperti itu? Apa yang dia lakukan padamu? Dia tak melakukan sesuatu yang buruk padamu, bukan?” teriakku tepat di depan mukanya.
“Wae gurae?” Tanya Chansung yang sudah berdiri di belakang kami.
“Chansung, bawa dua orang ini pergi dari sini, sekarang!” pinta salah satu anggota tim.

Chansung dengan tatapan aneh menatap ke arahku dan Wooyoung oppa. Sedangkan aku dan Wooyoung oppa hanya bisa menunduk.
“Kajja!” ajak Chansung.
Aku membantu Wooyoung oppa yang sedikit kesulitan untuk berjalan. Tetapi, Chansung mendorongku dan mengambil posisiku untuk membantu Wooyoung oppa. Mungkin dia kesal melihatku dengan Wooyoung oppa. Dengan wajah yang sedikit kesal, Chansung membawa Wooyoung oppa menuju mobilnya. Dia mengambil kotak P3K di bagasi mobil dan segera mengoleskan obat pada bibir Wooyoung oppa yang mulai terlihat membiru. Aku hanya berdiri di samping mobil sembari melihat keadaan Wooyoung oppa. Sesekali terdengar suara rintihan Wooyoung oppa yang menahan perihnya obat yang sedang dioleskan di lukanya.
“Wae? Apa yang sebenarnya terjadi?” Tanya Chansung padaku.
Aku tak menjawabnya dan hanya menundukkan kepala.
“Ani~ ini salahku. Gomawo… mianhae…” jawab Wooyoung oppa.
Chansung membuang pandangan matanya. Suasana sempat terasa sunyi, karena tak satupun dari kami yang mengeluarkan sepatah katapun.

“OPPA!” teriak seorang gadis yang berlari kearah kami.
Entah siapa dia, tapi aku pernah melihatnya. Kalau tidak salah, dia mahasiswi kedokteran di kampus ini.
“Wae gurae? Aku dengar, salah seorang tim basket memukulmu.”
“Tidak. Ini hanya salah paham.”
“Gwenchana?” Tanya gadis itu sambil mengusap pipi Wooyoung oppa yang membiru.
Sebenarnya siapa gadis ini? Mengapa dia bersikap seperti ini pada Wooyoung oppa? Apa dia saudaranya? Tapi sepengetahuanku, Wooyoung oppa tidak mempunyai saudara yang sama-sama belajar di kampus ini.

Gadis itu sibuk memperhatikan kondisi Wooyoung oppa, sedangkan Wooyoung oppa berusaha menghentikan perlakuan gadis itu. Aku dan Chansung yang sedari tadi berdiri tepat di samping mereka hanya membuang pandangan dan seolah-olah tak melihat.
“Ah… kau Chansung yaa? Pemain basket yang digemari para mahasiswi.” Tanyanya.
Chansung hanya mengangguk dan sedikit tersenyum.
“Dan kau pasti Jiyeon? Gadis paling beruntung yang bisa mendapatkan hati Chansung.”
“Anio~ justru aku yang beruntung bisa mendapatkannya.”
Aku menatap heran ke arah Chansung. Tak pernah kuduga dia bisa mengucapkan kata-kata yang sangat dewasa seperti ini.
“Ah… perkenalkan, aku Park Sunyoung. Kekasih Jang Wooyoung.”
Glek!
Aku berhenti bergerak dan menelan ludahku. Kekasih Wooyoung oppa? Aku menahan air mataku yang nyaris saja menetes. Apa gadis ini lebih baik dariku? Wooyoung oppa memutuskan hubungan denganku tanpa memberikan suatu alasan. Apa ini alasan dia memutuskan hubungannya denganku? Ternyata dia tak sebaik yang aku kira. Buat apa selama ini aku terus mencintainya? Semua ini tak ada gunanya!
“Baiklah. Kami pergi dulu.” Chansung menggenggam tanganku dan membawaku masuk ke dalam mobil.

Dia langsung menginjak gas mobilnya dengan kecepatan 100km/jam. Dimatanya terlihat kekesalan yang mendalam. Dia melewati setiap sudut jalan tanpa memperhatikan kendaraan lain yang melintas ataupun rambu-rambu yang ada. Tapi tak sedikitpun aku merasakan takut dengan kecepatan yang dia tempuh. Pikiranku sudah tidak terfokus. Pandangan mataku kosong.

Dia terus menginjak gas mobilnya dan menuju ke sebuah bukit. Dia turun dari mobil dan menarikku untuk turun dari mobil.
“Teriaklah di atas bukit ini! Aku tau apa yang sedang kau rasakan! Dan kau pikir aku tak merasakan hal yang sama? Kau terluka melihat Wooyoung dengan gadis itu? Aku jauh lebih terluka melihat kau dengan Wooyoung! Melihatmu memegang tangan Wooyoung untuk membantunya berjalan! Melihatmu gelisah dengan keadaan Wooyoung yang seperti tadi! Melihatmu menahan air matamu yang hampir menetes setelah mengetahui bahwa gadis itu kekasih Wooyoung! Kau jangan berpikir bahwa hanya kau yang terluka! Kau memang terluka, tapi kau juga melukai perasaanku! Kau sadar bahwa kau kekasihku? Kau tak ada hubungan lagi dengan Wooyoung!”
Aku menatapnya dengan wajah ketakutan. Aku takut melihatnya berteriak tepat di depan wajahku. Air mataku tetap berusaha aku tahan. Aku tak mau membuatnya lebih marah dengan tangisanku.
“Menangislah! Menangislah sepuasmu!” ujarnya memberikan sebuah saputangan padaku.
Aku menangis sejadi-jadinya.

“Mianhae... aku cemburu melihatmu bersamanya. Aku cemburu karena kau lebih perhatian dengannya dibanding denganku. Aku ingin, kau bersikap jauh lebih baik terhadapku dibanding dengannya. Aku ingin, kau benar-benar menganggapku sebagai kekasihmu. Aku sungguh mencintaimu. Jadi, tolong jaga perasaanku.”
Aku menangis sejadi-jadinya. Dia membawaku ke dalam pelukannya. Memelukku dalam waktu yang cukup lama hingga aku berhenti menitikkan air mata karena terlalu banyak air mata yang mengalir. Setelah menguras air mataku, dia mengusap pipiku dengan sapu tangan yang sedari tadi aku genggam. Dia tersenyum kepadaku seraya berkata “Mianhae” dan membawaku masuk ke dalam mobil. Menjalankan mobil dengan tenang, dan menghantarkanku hingga sampai di depan rumah. Aku turun dari mobil dan mengucapkan salam padanya masih dengan wajah yang sembab.

Aku masuk ke dalam rumah, umma yang duduk di ruang tamu bingung melihat anak semata wayangnya ini pulang dengan mata yang sayu-sayu. Umma menanyakan keadaanku. Aku menceritakan semuanya kepada umma, karena tak tau lagi harus dengan siapa aku menceritakan ini semua. Umma mendengarkan ceritaku dengan baik. Sesekali dia membelai rambutku yang terurai. Aku juga tak dapat menahan air mataku, entah kenapa air mataku masih belum habis juga walaupun tadi sudah aku kuras.
“Jiyeon... Semua terserah padamu, tapi pesan umma, kau harus jaga baik-baik perasaan Chansung. Bukankah dia yang sekarang ini berada di sampingmu? Dia juga laki-laki yang baik. Dia tak pernah berbuat kesalahan padamu, bukan? Dia juga tak pernah membuatmu kecewa. Dia sudah bersikap baik padamu, Jiyeon. Masa kau akan membalasnya seperti ini? Wooyoung bukan siapa-siapamu lagi, tak ada urusan lagi kau dengannya. Dia juga sudah milik gadis lain. Jadi, jangan buang air matamu untuk laki-laki yang tidak ada hubungannya denganmu. Sekarang, kau jalani saja hubunganmu dengan Chansung. Berikan yang terbaik untuk orang yang ada di dekatmu.” pesan umma sambil tersenyum.

Dia mengusap air mataku dan membuatku sedikit menyunggingkan senyuman dari bibirku. Aku mengerti, walaupun Wooyoung oppa tetap dihatiku, tapi aku harus menjaga perasaan orang-orang yang berada di dekatku. Karena, justru mereka itulah pendukung segala tindakanku.


Pagi hari...
Hari ini, pikiranku terasa sangat segar. Perasaanku juga menjadi sangat bahagia. Dengan senyuman di wajahku, aku bangkit dari kasurku dan bersiap untuk berangkat kuliah. Hari ini aku mengenakan celana jeans panjang dengan hodie berwarna pink pemberian Chansung dengan tulisan “Hwang Chansung” di bagian kiri bawah. Aku mengikat rambutku tinggi ke atas. Memakai sepatu sneakers pink dan tas punggung berwarna putih. Kulihat dari jendela kamarku, mobil Chansung sudah terparkir di depan rumahku. Aku langsung bergegas keluar dari kamarku. Kudengar di ruang tamu, suara ummaku sedang bercakap-cakap dengan Chansung. Aku mencium kening ummaku dan langsung menarik tangan Chansung. Chansung tersenyum melihat hodie yang aku kenakan. Chansung membungkuk pada umma dan langsung masuk ke dalam mobilnya. Dia langsung menginjak gas mobilnya dan menuju kampus kami. Dia memarkirkan mobil tepat di depan fakultas kami, agar kami tidak berjalan terlalu jauh.

Turun dari mobil, aku langsung melingkarkan tanganku di tangannya. Dia menatapku heran. Aku tau, ini karena hari ini aku terlihat berbeda dari biasanya.
“Wae, oppa?”
“Oppa?”
“Ne~ oppa!”
Dia tersenyum lebar ke arahku. Aku tau, senyuman inilah yang membuat mahasiswi tergila-gila padanya. Aku tak pernah menyadari bahwa senyumnya semanis ini.
“Gomawo.”
“Untuk?”
“Sebutan oppa, memakai hodie, dan melingkarkan tanganmu di tanganku.”
Aku menjawabnya dengan senyuman. Dia pun membalas senyumku. Kami pun bercakap-cakap sambil menuju ke kelas kami. Seperti biasa, Chansung memilih duduk tepat di sampingku. Selama pelajaran berlangsung, kami berdua diam dan hanya memperhatikan apa yang dosen ucapkan.

Usai pelajaran, kami menuju sebuah cafe yang masih berada dalam area kampus ini. Di jam-jam seperti ini, cafe ini selalu dipenuhi dengan mahasiswa dan mahasiswi. Tapi, kami selalu mendapat tempat karena Chansung pasti memesan tempat terlebih dahulu. Kami memesan beberapa makanan dan minuman. Hari ini terasa sangat menyenangkan. Aku baru menyadari kalau Chansung adalah orang yang sangat nyaman diajak berbicara. Tapi, tetap saja aku belum bisa menganggapnya sebagai kekasihku. Dia lebih terlihat seperti teman dengan sikap kekanak-kanakannya itu. Tak lama kemudian, makanan yang kami pesan sudah tersaji di meja kami. Tanpa banyak kata, kami langsung melahapnya. Perutku sudah sangat lapar, karena tadi pagi aku belum sarapan. Chansung meminta bill dan segera membayarnya. Kami pun meninggalkan cafe yang sudah terasa cukup panas ini.

Di depan pintu, sosok yang tak kuharapkan, berjalan bersama dengan seorang gadis. Kami berjalan berlawanan arah. Tapi, aku berusaha bersikap biasa dan tetap tersenyum. Bahkan, aku tak melepaskan genggaman tanganku dengan Chansung. Walaupun, aku lihat sekilas Wooyoung oppa melirik ke arah kami, tapi aku tetap berusaha untuk tidak melihat ke arahnya. Tak mau aku membuat Chansung kecewa lagi terhadapku.

Melihatku yang sama sekali tak mempedulikan Wooyoung oppa, Chansung tersenyum ke arahku dan menggenggam tanganku lebih erat. Dia membawaku ke dalam mobilnya dan menuju pusat perbelanjaan di Korea. Kami berkeliling pusat perbelanjaan ini sembari menjilat ice cream coklat vanilla di tangan kanan kami. Chansung mengajakku singgah di sebuah toko boneka yang cukup besar. Mataku membulat ketika memasuki toko itu. Semua boneka terpajang di setiap sudutnya. Aku memegang boneka babi yang sangat besar yang berada di rak-rak boneka paling atas. Lucu sekali!
“Mau?” tanya Chansung yang mengikuti di belakangku.
“Ani~”
“Kajja!”
Chansung mengambil boneka itu dan menarik tanganku menuju meja kasir. Aku sempat beberapa kali menolaknya untuk membelikanku boneka ini, tapi dia menutup mulutku dan langsung membayarnya.
“Bawa!” ujarnya sambil memberikan boneka itu padaku.
“Hahh??” tanyaku polos.
“Kau menyuruhku untuk membawanya? Kan ini milikmu.”
“Haish...”
“Mau protes?”
“Ahh.. Ani~”
Makhluk ini memang seperti anak kecil. Di mana-mana, seorang lelaki pasti akan membawakan barang bawa'an kekasihnya.

Usai dari toko boneka itu, dia mengajakku ke sebuah restoran yang terletak di tengah-tengah pusat perbelanjaan ini. Suasana di restoran ini sungguh menyenangkan. Beberapa penyanyi dan pemain musik menghibur para pengunjung restoran. Alunan musik yang dimainkan benar-benar membuat perasaan menjadi tenang. Chansung memesan beberapa makanan dan dua blueberry iced. Ketika sebuah keranjang kecil berisi roti dan dua blueberry iced sudah tersaji di meja kami, kami pun menikmatinya.
“Jagi~” dia memanggilku dan aku menatapnya dengan tatapan “ada apa?”
“Apakah, kau benar-benar mencintaiku?”
“Uhuk~” mendengar pertanyaannya, aku tersedak blueberry iced yang aku minum.
Aku menatapnya dengan pandangan yang panik dan tidak terfokus. Tapi dia terus melihat ke arahku seperti menantikan sebuah jawaban.
“Aku butuh jawabanmu.” Dia menundukkan kepalanya.
“Chansung…” ucapanku terhenti.
“Gwenchana. Justru itu yang aku harapkan, jadi kau tak akan terluka bila aku tak disisimu.”

Tiba-tiba seorang pelayan menghentikkan percakapan kami dan menaruh makanan-makanan yang telah kami pesan di meja kami. Pelayan itu menunduk dan mengucapkan “Selamat menikmati”. Kami pun membalasnya dengan senyuman.
“Ayahku berencana untuk mengirimku ke Inggris. Aku akan dimasukkan ke dalam salah satu club basket di sana. Awalnya aku menolak karena aku masih ingin berada disampingmu. Tapi, jika memang seperti ini kenyataannya, aku akan melepasmu. Dan aku akan berangkat besok pagi.”
“Chansung… aku belum menjawab pertanyaanmu.”
“Ani~ aku sudah tau jawabannya. Kau hanya menganggapku sebagai teman, bukan? Maaf yaa kalau selama ini aku memaksamu untuk mencintaiku. Kau orang pertama dihatiku, jadi aku hanya ingin kau menjadi milikku. Tapi, sekarang aku sadar kalau yang kuperbuat itu salah. Jeongmal mianhae…”
Aku hanya tersenyum ke arahnya. Ternyata dia tidak seperti yang aku pikirkan.

Esok harinya…
Bangun dari tidur nyenyakku, aku langsung menuju kamar mandi. Aku mengganti piyamaku dengan baju merah selutut. Aku poleskan sedikit bedak di wajahku dan sedikit lipgloss di bibirku. Mengenakan tas kecil berwarna merah. Kulihat ummaku telah bersiap untuk mengantarku menuju bandara Incheon. Aku langsung saja menghampirinya, masuk ke dalam mobil dan kami menuju bandara Incheon.

Setibanya di sana, kulihat puluhan mungkin ratusan orang dengan membawa koper masing-masing. Aku mencari sosok yang aku cari di tengah keramaian ini. Seorang pria dengan jaket kulit berwarna cokelat dan topi di kepalanya melambaikan tangannya ke arahku. Aku langsung menghampirinya.
“Kau sungguh akan meninggalkan Seoul?” tanyaku ketika aku sudah berada di hadapannya.
“Kau pikir aku bercanda?” dia tersenyum.
Aku membalasnya sambil terus menatapnya.
“Wae?”
“Gomawo.”
“Untuk?”
“Semuanya… semua yang telah kau berikan padaku. Dan boneka babimu kemarin. Jeongmal gomawo…”
“Ah? Nado, gomawo…”
“Hem?”
“You make me know about love.”
“Khhh….”
Kami tertawa kecil bersama.

Ketika mendengar seorang wanita dibalik speaker menginformasikan bahwa pesawat dengan nomor penerbangan H78 yang akan di tumpangi Chansung akan berangkat 15 menit lagi, aku dan Chansung segera menuju ruang keberangkatan. Aku hanya dapat mengantarnya sampai di depan ruang keberangkatan, karena semua pengantar tidak diperbolehkan masuk ke ruang keberangkatan. Chansung berpamitan denganku dan melangkah pelan memasuki ruang keberangkatan. Tapi, belum sempat 10 langkah, dia berjalan kembali ke arahku dan memelukku.
“Jeongmal gomawo… dan, mianhae.”
“For?”
“Everything.”
Dia melepaskan pelukannya dan melangkah cepat menuju ruang keberangkatan. Setelah dia sudah menghilang dari pandanganku, aku juga melangkah meninggalkan tempatku berdiri saat ini.

Saat hendak meninggalkan bandara Incheon, aku mendengar para wanita berteriak-teriak dan berkerumun di pintu kedatangan. Aku berpikir mereka sedang menyambut kedatangan salah seorang yang terkenal di Korea ini. Awalnya, aku pun tak mempedulikannya. Tetapi ketika melihat tulisan-tulisan yang mereka bawa bertuliskan nama seorang actor yang sangat aku kagumi yaitu “Nichkhun Horvejkul”. Aku pun penasaran dan mengikuti wanita-wanita itu menuju pintu kedatangan. Aku ikut berdesak-desakan dengan yang lainnya agar mendapat posisi paling depan. Dan hampir saja aku pingsan di tempat ini karena melihat sosok yang benar-benar aku kagumi. Dia sangat terlihat oleh pandangan mataku! Dan dia tampan sekali!!! Setelah cukup lama dia menyapa para penggemarnya, dia pun berhasil keluar dari kerumunan ini. Karena aku sudah tak ada urusan apapun, aku meninggalkan tempat ini dan berencana untuk segera pulang ke rumah.

Hari ini panas sekali. Aku berjalan di parkiran bandara dengan sedikit mengernyitkan mataku karena sinar matahari yang terlalu menusuk mataku. Tapi, tiba-tiba saja…
BRUK!!




: Please give a comment. Because, your comment can make me much better :
THANK YOU :) 

Love's Target I




Tittle               : Love’s Target
Eps.                 : 1
Genre             : Romance
                          Friendship
Cast                : Park Jiyeon
                          Jang Wooyoung
                          Ham Eunjung
                         (cast yang lainnya nyusul XD)




Wooyoung POV

Dia kekasihku...
Aku mencintainya. Sungguh mencintainya. Tapi, kurasa dia bukan takdirku. Tak mau aku menjadi pembakang orang tuaku, tapi tak mau juga aku meninggalkan seorang gadis yang sudah aku tanam namanya di dalam hatiku.
“Oppa, bisakah kita terus seperti ini? Aku mau kau jadi appa dari anak-anakku kelak. Pasti mereka akan menjadi anak-anak yang lucu seperti appanya...”
Senyum diwajahnya, membuat hatiku semakin bimbang. Membuat seluruh tubuhku membeku dan tak sanggup lagi menghela nafas.
Jiyeon~ah... Aku ingin terus bersamamu, selamanya... Selamanya sampai aku menghembuskan nafas terakhirku. Tapi, bisakah kau yakinkan kedua orang tuaku untuk menyetujui hubungan kita?

Deru suara ombak di tepi pantai yang saat ini kudengar, membuat hatiku tenang. Di tambah dengan pasir pantai yang menyelimuti kakiku dan juga genggaman tangan gadis yang aku cintai, membuat suasana menjadi semakin hangat. Hentikan waktu. Hentikan waktu pada detik ini juga. Biarkan aku terus menggenggam tangan gadis ini. Biarkan waktu berhenti hanya untukku dan untuknya.


Jiyeon POV

Indahnya sore ini. Matahari yang hampir tenggelam di dasar laut memperindah suasana dengan warna khasnya yang menjadi kuning kemerah-merahan. Berdampingan aku di sini, bersama sosok lelaki yang sedikit banyak membantuku untuk terus ada di dunia ini. Tanpanya, tak mungkinlah aku masih hidup di masa sekarang ini. Entah setan apa yang menghantuiku. Aku harus mendapatkan seorang pria yang benar-benar mencintaiku, jikalau tidak maka habislah riwayatku. Syukurlah, Wooyoung oppa mencintaiku sepenuh hatinya. Sama sepertiku, entah ini hanya sejenis balas jasa ataupun tidak, yang jelas aku SUNGGUH SUNGGUH mencintainya.

Sunset sore ini, aku nikmati dengan memejamkan mataku. Merasakan hangatnya deburan pasir di setiap rongga kakiku. Merasakan hangatnya genggaman tangannya. Kicauan burung yang mulai kembali ke sangkarnya berpadu dengan suara ombak yang menyapu tepian pantai. Hari ini pun aku selesaikan berdua dengan Wooyoung oppa. Ingin sekali rasanya dia selalu berada di sisiku seperti ini. Seperti saat ini.

Tepat setelah matahari sempurna tenggelam, Wooyoung oppa bangkit dari duduknya dan tersenyum ke arahku. Menatapku sekejap lalu menarik tanganku dan berlari di tepi pantai. Sempat beberapa kali dia meledekku dan mencubit pipiku yang memerah karena kedinginan. Tak lebih dari 30 menit kami menikmati indahnya malam di tepi pantai, Wooyoung oppa mengajakku untuk bergegas pulang. Tak mau dia dimarahi ummaku karena membawaku bermain hingga larut malam. Sebelum membawaku pulang ke rumah, dia mempunyai tanggung jawab untuk mengajakku makan malam.
Tentu saja... Sejak pukul 3 sore tadi, kami terus bermain hingga lupa untuk mengisi perut. Yang ada hanya beberapa camilan dan minuman yang masuk ke dalam perut kami.

Langsung saja Wooyoung oppa membawaku ke restoran favorit kami berdua. Tanpa perlu membaca buku menu, kami sudah memesan makanan dan minuman favorit kami. Usai semua pesanan tersaji, kami langsung melahapnya dan bergegas pulang ke rumah.
“Ahhh~ chukhae, Jiyeon~ah... Ini hari ke 300 kau bersama lelaki itu. Jika sudah satu tahun, maka kau akan terbebas dari semua kutukan.” sambut seorang gadis (atau mungkin bukan seorang gadis) ketika aku memasuki kamarku.
“Kau ini! Tenang saja... Tak hanya satu tahun. Bahkan aku akan menghabiskan seluruh sisa hidupku bersamanya.”

Mungkin kalian bertanya-tanya “apa yang sebenarnya sedang terjadi?”. Dia Ham Eunjung. Orang bilang, dia seorang peri. Tapi menurutku dia adalah devil. Satu tahun yang lalu aku bertemu dengannya di suatu gubuk tua di tengah hutan. Waktu itu aku sedang pergi camping dengan teman-temanku. Dia memberiku sebutir mutiara yang disebut mutiara cinta. Aku pikir itu sebuah mutiara yang dapat membantuku dalam hal percintaan, maka aku mengalungkannya pada leherku. Tapi, nasibku tak sebaik itu. Mutiara itu justru memaksaku untuk menemukan seorang kekasih dalam jangka waktu 3 bulan. Dan aku harus menjalin hubungan dengannya minimal selama satu tahun. Jika tidak, dalam waktu sekejap nyawaku akan tersedot oleh Eunjung devil. Tapi jika aku berhasil melalui tantangannya, maka mutiara ini akan musnah dari hidupku. Selama ini aku berusaha membuang mutiara itu, tapi mutiara it uterus saja kembali padaku.


Wooyoung POV

“Wooyoung~ah... Cepat kemari!” teriak umma dan appa dari lantai dasar.
Langsung saja aku keluar kamarku dan menuju asal suara itu. Umma dan appa yang sedang sibuk dengan beberapa lembaran-lembaran kertas itu menatapku yang tengah berdiri di hadapan mereka.
“Wae, umma, appa?”
“Kau sudah memutuskan hubunganmu dengan gadis itu?”
“Umma, appa... Aku mohon. Kali ini saja, beri aku kesempatan untuk menentukan jalan hidupku. Aku mencintainya. Kalian juga belum pernah mengenal Jiyeon dengan baik. Dia gadis yang baik, umma, appa... Mungkin, belum tentu mahasiswi kedokteran pilihan appa itu gadis yang baik. Aku yakin, Jiyeonlah yang terbaik. Untuk umma, appa, dan aku.”
“Tau apa kau tentang cinta? Perasaan cinta itu hanya muncul ketika kalian bersama. Appa yakin, ketika kalian berpisah, kalian pasti akan melupakan satu sama lain. Lagipula mahasiswi kedokteran pilihan appa itu adalah gadis yang baik. Dia pintar, cantik, dan yang pasti dia dari keluarga ternama.”
“Aku tak peduli dengan derajat, pangkat, ataupun paras. Aku cuma mau Jiyeon, appa. Hanya Jiyeon... Appa mau mengganti Jiyeon dengan 1000 gadis bertahta dan berparas pun aku tak akan mau menerimanya.”

#PLAK
Ayunan tangan appaku singgah di pipi kananku. Sakit... Memang sakit. Ini bukan kali pertamanya dia menamparku. Setiap aku menyebut nama Jiyeon, dia selalu melakukan hal ini.
“Kembali kau ke kamarmu. Kemasi semua barangmu. Besok pagi, kau appa kirim ke Amerika.”
“Appa...”
“Jika kau tak mau pergi ke Amerika, akhiri hubunganmu dengan gadis itu!”
Aku hanya menunduk dan berfikir sejenak. Kuharap, aku bisa berfikir jernih dalam keadaan seperti ini.
“Ara! Aku akan memutuskan hubunganku dengan Jiyeon. Tapi, aku tak akan meninggalkan Korea!” jelasku.

Entah apa yang saat ini terlintas dipikiranku. Aku hanya bisa berfikir tentang hal ini. Dan ini adalah hasil pemikiranku. Bukan... Bukan berarti aku tidak mencintai Jiyeon. Sekali lagi kupertegas, AKU SANGAT MENCINTAINYA. Aku berfikir, jika aku meninggalkan Korea ini, tak sedikitpun aku diberi kesempatan melihat wajah gadis itu. Tapi, jika aku tetap berada di Korea, setidaknya aku bisa melihat wajahnya, walaupun hubungan kami akan berakhir.
“Baik. Kau jangan pernah berhubungan lagi dengan gadis itu. Appa akan selalu mengawasimu. Dan setelah kau memutuskan hubunganmu dengan gadis itu, cepat temui mahasiswi kedokteran pilihan appa.”


Jiyeon POV

Sunyi...
Di rumah yang tidak terlalu besar ini, aku hanya sendiri ditemani tugas-tugas kuliahku yang sudah bertumpukan. Di depanku menyala sebuah laptop yang kugunakan untuk menyelesaikan semua tugas-tugasku. Suara pemutar musik yang aku keraskan membuat suasana sedikit cukup menyenangkan. Orangtuaku, atau mungkin lebih tepatnya ummaku belum pulang dari bekerja. Dia bekerja sejak matahari terbit hingga bulan telah menampakkan cahayanya. Aku ingin menjadi sosok wanita seperti ummaku. Sosok yang tegar dan penuh perjuangan. Dia berjuang sendiri untuk memenuhi semua kebutuhan keluarga. Memang, keluarga kami hanya aku dan dia. Tapi, kami tetap harus menyesuaikan diri dalam lingkungan masyarakat jaman sekarang ini. Mendiang appa meninggal 12 tahun yang lalu, ketika usiaku masih 7 tahun. Jadi, saat ini aku sudah terbiasa dengan jumlah keluarga yang hanya 2 orang.

Aku mengambil ponselku yang sedari tadi menemani di samping laptopku. Langsung saja aku mencari nomor ponsel Wooyoung oppa. Sedikit aneh, dia belum menghubungiku sedari tadi. Biasanya, dia sudah bertanya-tanya tentang apa yang sedang kulakukan. Aku menekan tombol hijau dengan lambang telephone di ponselku. Aku menunggu jawaban dari si pemilik ponsel.
“Yeobeoseyo? Wae gurae, Jiyeon~ah?”
“Anio, oppa... Kau sedang apa? Kenapa sejak tadi kau belum menghubungiku sama sekali? Kau kelelahan?”
“Anio. Aku sedang mengerjakan banyak tugas. Jiyeon~ah... Bisakah kau besok bolos kuliah? Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat. Aku sedang ingin menghabiskan waktu bersamamu.”
“Mmm... Sepertinya tidak bisa, oppa. Jadwal kuliahku besok padat. Mianhae...”
“Jiyeon~ah, jebal... Sekali ini saja... Aku juga tak pernah memintamu untuk bolos kuliah, kan? Ini kali pertamanya, bukan?”
“Wae gurae, oppa? Kenapa kau memintaku untuk bolos kuliah?”
“Tak apa. Hanya saja, aku ingin seharian bersama denganmu.”
“Mmm... Ne, aku besok akan bolos kuliah... Demi oppa! Awas saja kalau oppa besok membuatku kecewa.”


Wooyoung POV

Mianhae, Jiyeon~ah... Mungkin esok tidak akan sebaik yang kau bayangkan. Tapi setidaknya, aku ingin membuat kenangan manis yang jauh lebih indah di hari terakhir kita bersama. Aku janji, sebelum aku membuatmu menangis, aku akan membuatmu tersenyum. Aku akan tetap menjagamu, Jiyeon~ah. Walaupun kita tak bersama, aku akan selalu mengawasimu dan berusaha melindungimu semampu yang aku bisa. Percaya padaku Jiyeon~ah... Aku mencintaimu. Tapi mungkin esok aku tak akan mengatakan hal ini padamu. Semua yang akan kuucapkan besok, adalah buah dari kemunafikkanku.

Dentang jam dinding membuatku tersadar dari lamunanku. Jarum panjang telah berhenti pada angka 10. Sudah cukup larut, lebih baik aku menenangkan pikiranku dan mempersiapkan kondisi tubuh yang fit untuk esok hari.


Jiyeon POV

Mataku semakin berusaha menutup ketika kulihat umma membuka jendela kamarku dan membiarkan sinar matahari masuk. Sinarnya terlalu menusuk mataku di pagi hari seperti ini. Umma menggoyang-goyangkan kasurku sembari memanggil-manggil namaku. Aku melemaskan otot-otot badanku dan mengusap-usap mataku. Kulihat jam weker di samping kasurku telah menunjukkan pukul 7. Sontak aku langsung bangkit dari kasurku. Aku lupa kalau hari ini aku punya janji dengan Wooyoung oppa. Segera saja aku mengambil handuk bajuku yang aku letakkan di jemuran kecil depan kamar mandi.

Usai mandi, aku duduk di depan cermin. Memoleskan serbuk-serbuk bedak di wajahku. Tak lupa mengoleskan lipgloss di bibir tipisku. Aku mengenakan rok selutut dan jas tebal panjang yang menutupi tubuhku. Di luar sana, aku yakin angin bertiup sangat dingin. Jadi, aku mengenakan jas ini. Aku mengambil tas kecilku yang tergantung di tumpukan tas-tasku yang lain. Memakai sepatu dengan pita besar dibagian atasnya.

Tak lama kudengar suara mobil Wooyoung oppa. Segera saja aku berpamitan dengan ummaku dan mencarinya di depan rumah. Dia turun dari mobilnya dan menyapa ummaku yang menemaniku keluar rumah.
“Pagi, tante~ pinjam Jiyeon sehari ini yaa...”
“Boleh, tapi jangan sampai larut malam.”
“Tentu saja, tante... Seperti biasa. Hehehe”
“Umma, aku berangkat dulu yaa...”
“Iyaa.”
“Mari, tante.”

Wooyoung oppa melingkarkan tangannya di bahuku dan menuntunku menuju mobilnya. Membukakan pintu mobil untukku, dan mempersilakan aku untuk masuk. Kemudian dia membungkuk 90derajat ke arah ummaku dan sedikit berlari menuju kursi di sebelahku.


Wooyoung POV

Semoga hari ini berjalan dengan baik. Kuharap tak akan ada suatu halangan yang akan menggagalkan rencanaku hari ini. Walaupun aku tahu, jika rencanaku berhasil, maka hatiku akan hancur menjadi kepingan-kepingan hitam yang mungkin tak dapat lagi menyatu.
“Memangnya kau mau mengajakku ke mana, oppa?”
“Lihat saja nanti.” ujarku sambil memperlihatkan pesonaku.

Hari ini mungkin aku terlihat jauh lebih tampan di banding hari biasanya. Aku mengenakan kaos hitam yang kemudian aku tutup dengan kemeja kotak-kotak yang sengaja tidak aku kancing. Kemudian celana jeans panjang dan sepatu sneakers warna putih dengan corak biru. Aku menjalankan mobilku menelusuri setiap sudut di kota Seoul. Sembari terkadang aku mengajak Jiyeon turun dari mobil dan berjalan kaki sebentar. Tak lupa aku menuju beberapa taman dan menghabiskan waktu untuk berfoto bersama Jiyeon. Aku juga berhenti di salah satu lokasi tempat makanan-makanan di kota Seoul. Aku dan Jiyeon membeli makanan pinggir jalan sembari menikmati suasana kota Seoul yang nyaman ini. Dan sekitar pukul 5 sore, aku menuju tempat terakhirku. Tempat di mana aku menyatakan cintaku pada Jiyeon. Tempat di mana aku menuliskan namanya dan namaku di samping ikatan-ikatan gembok itu. Yah, tentu saja. Semua orang pasti mengenal tempat ini. Tempat di mana para sepasang kekasih menunjukkan cinta mereka dan mengukir nama mereka.

N Seoul Tower…
Tempat bersejarah bagiku dengan Jiyeon dan sekarang mungkin akan menjadi tempat kenangan kami berdua. Aku mengajak Jiyeon menuju lantai atas. Menaiki kereta gantung dan kemudian kami menuju restoran di observasi balkon ke-4. Di sini kami bisa melihat betapa indahnya kota Seoul. Lampu-lampu sudah mulai menyala karena matahari akan segera tenggelam. Suasana hatiku semakin galau, tapi tetap aku berusaha tenang. Aku memesan makanan dalam jumlah yang cukup banyak. Walaupun aku tahu, mungkin kami berdua tak sanggup menghabiskannya. Tapi, setidaknya aku ingin memanjakan Jiyeon (mungkin untuk terakhir kalinya) dengan semua makanan ini.

Usai melahap makanan kami dan menyisakan cukup banyak makanan, aku mengajak Jiyeon ke tempat di mana aku menuliskan namaku dan dia, dan menggantungkannya pada gembok cinta. Hatiku semakin sakit, nafasku terasa sesak, dan ingin sekali aku menangis saat ini juga. Jiyeon melihat-lihat tulisan-tulisan yang tergantung pada gembok-gembok dan dia seperti sedang berusaha mencari-cari di mana namaku dan namanya tergantung.
“Oppa, punya kita di mana yaa?” tanyanya dengan wajah polos.
Melihat wajahnya yang seperti ini, membuatku dadaku semakin sesak.
“Mungkin, tertutup dengan gembok-gembok yang lain.”
“Iyaa, oppa... Semoga yang orang bilang benar. Jika kita menuliskan nama kita dan nama pasangan kita di sini, maka cintanya akan abadi.”

JLEB! Dadaku rasanya seperti di tusuk ribuan pisau tajam. Jiyeon~ah, jeongmal mianhae. Aku ingin bersamamu selamanya, tapi aku tak bisa. Tapi aku janji, kau akan menjadi cinta abadiku.
“Jiyeon~ah...”
Aku membalikkan badannya untuk menghadap ke arahku. Aku langsung memeluknya erat. Tak peduli dengan orang-orang yang saat ini sedang melihat ke arah kami.
“Mianhae... Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu. Tapi, aku tak bisa melanjutkan hubungan kita.”
Air mataku menetes saat itu juga. Tak ada respon dari Jiyeon. Kucoba melepaskan pelukanku untuk melihat kondisinya, tapi dia menarikku kembali.
“Teruslah seperti ini. Agar kau tetap berada di sisiku. Jangan tinggalkan aku, oppa...”

Kudengar suaranya yang mulai sayu-sayu dengan sedikit isakan tangis. Aku memaksanya untuk melepaskan pelukan kami. Kulihat air mata sudah mengalir deras dari matanya yang indah. Aku berusaha mengusap air mata yang sudah menghapus make-upnya.
“Jeongmal mianhae... Mianhamnida, Jiyeon~ah.”


Satu Minggu kemudian...

Jiyeon POV

Setelah hubunganku dengan Wooyoung oppa berakhir, hari-hariku terasa sangat gelap. Seperti tak ada lagi harapan untukku singgah di dunia yang kejam ini. Tak mungkinlah aku mendapatkan seorang kekasih dalam waktu 3 bulan. Itu mustahil! Aku tak pernah dekat dengan laki-laki manapun semenjak aku bersama Wooyoung oppa. Sedangkan Eunjung devil, akan mencabut nyawaku dalam waktu 3 bulan jika aku belum bisa mendapatkan pengganti Wooyoung oppa. Kalau saja, aku tak mengingat rasa cintaku pada Wooyoung oppa dan ummaku, maka aku sudah meminta devil itu untuk segera mengambil hidupku yang sudah tak ada harapan lagi. Tapi, aku masih ingin terus hidup dan melihat wajah Wooyoung oppa, walaupun aku tak harus bersamanya. Aku juga tak mungkin meninggalkan ummaku hidup sendiri di dunia yang kelam ini.
“Kau tak usah terlalu pemilah. Cari saja lelaki seadanya yang sedang berada di dekatmu. Daripada kau mati...” ujar devil itu.




: Please give a comment. Because, your comment can make me much better :
THANK YOU :)