Selasa, 27 September 2011

Love's Target I




Tittle               : Love’s Target
Eps.                 : 1
Genre             : Romance
                          Friendship
Cast                : Park Jiyeon
                          Jang Wooyoung
                          Ham Eunjung
                         (cast yang lainnya nyusul XD)




Wooyoung POV

Dia kekasihku...
Aku mencintainya. Sungguh mencintainya. Tapi, kurasa dia bukan takdirku. Tak mau aku menjadi pembakang orang tuaku, tapi tak mau juga aku meninggalkan seorang gadis yang sudah aku tanam namanya di dalam hatiku.
“Oppa, bisakah kita terus seperti ini? Aku mau kau jadi appa dari anak-anakku kelak. Pasti mereka akan menjadi anak-anak yang lucu seperti appanya...”
Senyum diwajahnya, membuat hatiku semakin bimbang. Membuat seluruh tubuhku membeku dan tak sanggup lagi menghela nafas.
Jiyeon~ah... Aku ingin terus bersamamu, selamanya... Selamanya sampai aku menghembuskan nafas terakhirku. Tapi, bisakah kau yakinkan kedua orang tuaku untuk menyetujui hubungan kita?

Deru suara ombak di tepi pantai yang saat ini kudengar, membuat hatiku tenang. Di tambah dengan pasir pantai yang menyelimuti kakiku dan juga genggaman tangan gadis yang aku cintai, membuat suasana menjadi semakin hangat. Hentikan waktu. Hentikan waktu pada detik ini juga. Biarkan aku terus menggenggam tangan gadis ini. Biarkan waktu berhenti hanya untukku dan untuknya.


Jiyeon POV

Indahnya sore ini. Matahari yang hampir tenggelam di dasar laut memperindah suasana dengan warna khasnya yang menjadi kuning kemerah-merahan. Berdampingan aku di sini, bersama sosok lelaki yang sedikit banyak membantuku untuk terus ada di dunia ini. Tanpanya, tak mungkinlah aku masih hidup di masa sekarang ini. Entah setan apa yang menghantuiku. Aku harus mendapatkan seorang pria yang benar-benar mencintaiku, jikalau tidak maka habislah riwayatku. Syukurlah, Wooyoung oppa mencintaiku sepenuh hatinya. Sama sepertiku, entah ini hanya sejenis balas jasa ataupun tidak, yang jelas aku SUNGGUH SUNGGUH mencintainya.

Sunset sore ini, aku nikmati dengan memejamkan mataku. Merasakan hangatnya deburan pasir di setiap rongga kakiku. Merasakan hangatnya genggaman tangannya. Kicauan burung yang mulai kembali ke sangkarnya berpadu dengan suara ombak yang menyapu tepian pantai. Hari ini pun aku selesaikan berdua dengan Wooyoung oppa. Ingin sekali rasanya dia selalu berada di sisiku seperti ini. Seperti saat ini.

Tepat setelah matahari sempurna tenggelam, Wooyoung oppa bangkit dari duduknya dan tersenyum ke arahku. Menatapku sekejap lalu menarik tanganku dan berlari di tepi pantai. Sempat beberapa kali dia meledekku dan mencubit pipiku yang memerah karena kedinginan. Tak lebih dari 30 menit kami menikmati indahnya malam di tepi pantai, Wooyoung oppa mengajakku untuk bergegas pulang. Tak mau dia dimarahi ummaku karena membawaku bermain hingga larut malam. Sebelum membawaku pulang ke rumah, dia mempunyai tanggung jawab untuk mengajakku makan malam.
Tentu saja... Sejak pukul 3 sore tadi, kami terus bermain hingga lupa untuk mengisi perut. Yang ada hanya beberapa camilan dan minuman yang masuk ke dalam perut kami.

Langsung saja Wooyoung oppa membawaku ke restoran favorit kami berdua. Tanpa perlu membaca buku menu, kami sudah memesan makanan dan minuman favorit kami. Usai semua pesanan tersaji, kami langsung melahapnya dan bergegas pulang ke rumah.
“Ahhh~ chukhae, Jiyeon~ah... Ini hari ke 300 kau bersama lelaki itu. Jika sudah satu tahun, maka kau akan terbebas dari semua kutukan.” sambut seorang gadis (atau mungkin bukan seorang gadis) ketika aku memasuki kamarku.
“Kau ini! Tenang saja... Tak hanya satu tahun. Bahkan aku akan menghabiskan seluruh sisa hidupku bersamanya.”

Mungkin kalian bertanya-tanya “apa yang sebenarnya sedang terjadi?”. Dia Ham Eunjung. Orang bilang, dia seorang peri. Tapi menurutku dia adalah devil. Satu tahun yang lalu aku bertemu dengannya di suatu gubuk tua di tengah hutan. Waktu itu aku sedang pergi camping dengan teman-temanku. Dia memberiku sebutir mutiara yang disebut mutiara cinta. Aku pikir itu sebuah mutiara yang dapat membantuku dalam hal percintaan, maka aku mengalungkannya pada leherku. Tapi, nasibku tak sebaik itu. Mutiara itu justru memaksaku untuk menemukan seorang kekasih dalam jangka waktu 3 bulan. Dan aku harus menjalin hubungan dengannya minimal selama satu tahun. Jika tidak, dalam waktu sekejap nyawaku akan tersedot oleh Eunjung devil. Tapi jika aku berhasil melalui tantangannya, maka mutiara ini akan musnah dari hidupku. Selama ini aku berusaha membuang mutiara itu, tapi mutiara it uterus saja kembali padaku.


Wooyoung POV

“Wooyoung~ah... Cepat kemari!” teriak umma dan appa dari lantai dasar.
Langsung saja aku keluar kamarku dan menuju asal suara itu. Umma dan appa yang sedang sibuk dengan beberapa lembaran-lembaran kertas itu menatapku yang tengah berdiri di hadapan mereka.
“Wae, umma, appa?”
“Kau sudah memutuskan hubunganmu dengan gadis itu?”
“Umma, appa... Aku mohon. Kali ini saja, beri aku kesempatan untuk menentukan jalan hidupku. Aku mencintainya. Kalian juga belum pernah mengenal Jiyeon dengan baik. Dia gadis yang baik, umma, appa... Mungkin, belum tentu mahasiswi kedokteran pilihan appa itu gadis yang baik. Aku yakin, Jiyeonlah yang terbaik. Untuk umma, appa, dan aku.”
“Tau apa kau tentang cinta? Perasaan cinta itu hanya muncul ketika kalian bersama. Appa yakin, ketika kalian berpisah, kalian pasti akan melupakan satu sama lain. Lagipula mahasiswi kedokteran pilihan appa itu adalah gadis yang baik. Dia pintar, cantik, dan yang pasti dia dari keluarga ternama.”
“Aku tak peduli dengan derajat, pangkat, ataupun paras. Aku cuma mau Jiyeon, appa. Hanya Jiyeon... Appa mau mengganti Jiyeon dengan 1000 gadis bertahta dan berparas pun aku tak akan mau menerimanya.”

#PLAK
Ayunan tangan appaku singgah di pipi kananku. Sakit... Memang sakit. Ini bukan kali pertamanya dia menamparku. Setiap aku menyebut nama Jiyeon, dia selalu melakukan hal ini.
“Kembali kau ke kamarmu. Kemasi semua barangmu. Besok pagi, kau appa kirim ke Amerika.”
“Appa...”
“Jika kau tak mau pergi ke Amerika, akhiri hubunganmu dengan gadis itu!”
Aku hanya menunduk dan berfikir sejenak. Kuharap, aku bisa berfikir jernih dalam keadaan seperti ini.
“Ara! Aku akan memutuskan hubunganku dengan Jiyeon. Tapi, aku tak akan meninggalkan Korea!” jelasku.

Entah apa yang saat ini terlintas dipikiranku. Aku hanya bisa berfikir tentang hal ini. Dan ini adalah hasil pemikiranku. Bukan... Bukan berarti aku tidak mencintai Jiyeon. Sekali lagi kupertegas, AKU SANGAT MENCINTAINYA. Aku berfikir, jika aku meninggalkan Korea ini, tak sedikitpun aku diberi kesempatan melihat wajah gadis itu. Tapi, jika aku tetap berada di Korea, setidaknya aku bisa melihat wajahnya, walaupun hubungan kami akan berakhir.
“Baik. Kau jangan pernah berhubungan lagi dengan gadis itu. Appa akan selalu mengawasimu. Dan setelah kau memutuskan hubunganmu dengan gadis itu, cepat temui mahasiswi kedokteran pilihan appa.”


Jiyeon POV

Sunyi...
Di rumah yang tidak terlalu besar ini, aku hanya sendiri ditemani tugas-tugas kuliahku yang sudah bertumpukan. Di depanku menyala sebuah laptop yang kugunakan untuk menyelesaikan semua tugas-tugasku. Suara pemutar musik yang aku keraskan membuat suasana sedikit cukup menyenangkan. Orangtuaku, atau mungkin lebih tepatnya ummaku belum pulang dari bekerja. Dia bekerja sejak matahari terbit hingga bulan telah menampakkan cahayanya. Aku ingin menjadi sosok wanita seperti ummaku. Sosok yang tegar dan penuh perjuangan. Dia berjuang sendiri untuk memenuhi semua kebutuhan keluarga. Memang, keluarga kami hanya aku dan dia. Tapi, kami tetap harus menyesuaikan diri dalam lingkungan masyarakat jaman sekarang ini. Mendiang appa meninggal 12 tahun yang lalu, ketika usiaku masih 7 tahun. Jadi, saat ini aku sudah terbiasa dengan jumlah keluarga yang hanya 2 orang.

Aku mengambil ponselku yang sedari tadi menemani di samping laptopku. Langsung saja aku mencari nomor ponsel Wooyoung oppa. Sedikit aneh, dia belum menghubungiku sedari tadi. Biasanya, dia sudah bertanya-tanya tentang apa yang sedang kulakukan. Aku menekan tombol hijau dengan lambang telephone di ponselku. Aku menunggu jawaban dari si pemilik ponsel.
“Yeobeoseyo? Wae gurae, Jiyeon~ah?”
“Anio, oppa... Kau sedang apa? Kenapa sejak tadi kau belum menghubungiku sama sekali? Kau kelelahan?”
“Anio. Aku sedang mengerjakan banyak tugas. Jiyeon~ah... Bisakah kau besok bolos kuliah? Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat. Aku sedang ingin menghabiskan waktu bersamamu.”
“Mmm... Sepertinya tidak bisa, oppa. Jadwal kuliahku besok padat. Mianhae...”
“Jiyeon~ah, jebal... Sekali ini saja... Aku juga tak pernah memintamu untuk bolos kuliah, kan? Ini kali pertamanya, bukan?”
“Wae gurae, oppa? Kenapa kau memintaku untuk bolos kuliah?”
“Tak apa. Hanya saja, aku ingin seharian bersama denganmu.”
“Mmm... Ne, aku besok akan bolos kuliah... Demi oppa! Awas saja kalau oppa besok membuatku kecewa.”


Wooyoung POV

Mianhae, Jiyeon~ah... Mungkin esok tidak akan sebaik yang kau bayangkan. Tapi setidaknya, aku ingin membuat kenangan manis yang jauh lebih indah di hari terakhir kita bersama. Aku janji, sebelum aku membuatmu menangis, aku akan membuatmu tersenyum. Aku akan tetap menjagamu, Jiyeon~ah. Walaupun kita tak bersama, aku akan selalu mengawasimu dan berusaha melindungimu semampu yang aku bisa. Percaya padaku Jiyeon~ah... Aku mencintaimu. Tapi mungkin esok aku tak akan mengatakan hal ini padamu. Semua yang akan kuucapkan besok, adalah buah dari kemunafikkanku.

Dentang jam dinding membuatku tersadar dari lamunanku. Jarum panjang telah berhenti pada angka 10. Sudah cukup larut, lebih baik aku menenangkan pikiranku dan mempersiapkan kondisi tubuh yang fit untuk esok hari.


Jiyeon POV

Mataku semakin berusaha menutup ketika kulihat umma membuka jendela kamarku dan membiarkan sinar matahari masuk. Sinarnya terlalu menusuk mataku di pagi hari seperti ini. Umma menggoyang-goyangkan kasurku sembari memanggil-manggil namaku. Aku melemaskan otot-otot badanku dan mengusap-usap mataku. Kulihat jam weker di samping kasurku telah menunjukkan pukul 7. Sontak aku langsung bangkit dari kasurku. Aku lupa kalau hari ini aku punya janji dengan Wooyoung oppa. Segera saja aku mengambil handuk bajuku yang aku letakkan di jemuran kecil depan kamar mandi.

Usai mandi, aku duduk di depan cermin. Memoleskan serbuk-serbuk bedak di wajahku. Tak lupa mengoleskan lipgloss di bibir tipisku. Aku mengenakan rok selutut dan jas tebal panjang yang menutupi tubuhku. Di luar sana, aku yakin angin bertiup sangat dingin. Jadi, aku mengenakan jas ini. Aku mengambil tas kecilku yang tergantung di tumpukan tas-tasku yang lain. Memakai sepatu dengan pita besar dibagian atasnya.

Tak lama kudengar suara mobil Wooyoung oppa. Segera saja aku berpamitan dengan ummaku dan mencarinya di depan rumah. Dia turun dari mobilnya dan menyapa ummaku yang menemaniku keluar rumah.
“Pagi, tante~ pinjam Jiyeon sehari ini yaa...”
“Boleh, tapi jangan sampai larut malam.”
“Tentu saja, tante... Seperti biasa. Hehehe”
“Umma, aku berangkat dulu yaa...”
“Iyaa.”
“Mari, tante.”

Wooyoung oppa melingkarkan tangannya di bahuku dan menuntunku menuju mobilnya. Membukakan pintu mobil untukku, dan mempersilakan aku untuk masuk. Kemudian dia membungkuk 90derajat ke arah ummaku dan sedikit berlari menuju kursi di sebelahku.


Wooyoung POV

Semoga hari ini berjalan dengan baik. Kuharap tak akan ada suatu halangan yang akan menggagalkan rencanaku hari ini. Walaupun aku tahu, jika rencanaku berhasil, maka hatiku akan hancur menjadi kepingan-kepingan hitam yang mungkin tak dapat lagi menyatu.
“Memangnya kau mau mengajakku ke mana, oppa?”
“Lihat saja nanti.” ujarku sambil memperlihatkan pesonaku.

Hari ini mungkin aku terlihat jauh lebih tampan di banding hari biasanya. Aku mengenakan kaos hitam yang kemudian aku tutup dengan kemeja kotak-kotak yang sengaja tidak aku kancing. Kemudian celana jeans panjang dan sepatu sneakers warna putih dengan corak biru. Aku menjalankan mobilku menelusuri setiap sudut di kota Seoul. Sembari terkadang aku mengajak Jiyeon turun dari mobil dan berjalan kaki sebentar. Tak lupa aku menuju beberapa taman dan menghabiskan waktu untuk berfoto bersama Jiyeon. Aku juga berhenti di salah satu lokasi tempat makanan-makanan di kota Seoul. Aku dan Jiyeon membeli makanan pinggir jalan sembari menikmati suasana kota Seoul yang nyaman ini. Dan sekitar pukul 5 sore, aku menuju tempat terakhirku. Tempat di mana aku menyatakan cintaku pada Jiyeon. Tempat di mana aku menuliskan namanya dan namaku di samping ikatan-ikatan gembok itu. Yah, tentu saja. Semua orang pasti mengenal tempat ini. Tempat di mana para sepasang kekasih menunjukkan cinta mereka dan mengukir nama mereka.

N Seoul Tower…
Tempat bersejarah bagiku dengan Jiyeon dan sekarang mungkin akan menjadi tempat kenangan kami berdua. Aku mengajak Jiyeon menuju lantai atas. Menaiki kereta gantung dan kemudian kami menuju restoran di observasi balkon ke-4. Di sini kami bisa melihat betapa indahnya kota Seoul. Lampu-lampu sudah mulai menyala karena matahari akan segera tenggelam. Suasana hatiku semakin galau, tapi tetap aku berusaha tenang. Aku memesan makanan dalam jumlah yang cukup banyak. Walaupun aku tahu, mungkin kami berdua tak sanggup menghabiskannya. Tapi, setidaknya aku ingin memanjakan Jiyeon (mungkin untuk terakhir kalinya) dengan semua makanan ini.

Usai melahap makanan kami dan menyisakan cukup banyak makanan, aku mengajak Jiyeon ke tempat di mana aku menuliskan namaku dan dia, dan menggantungkannya pada gembok cinta. Hatiku semakin sakit, nafasku terasa sesak, dan ingin sekali aku menangis saat ini juga. Jiyeon melihat-lihat tulisan-tulisan yang tergantung pada gembok-gembok dan dia seperti sedang berusaha mencari-cari di mana namaku dan namanya tergantung.
“Oppa, punya kita di mana yaa?” tanyanya dengan wajah polos.
Melihat wajahnya yang seperti ini, membuatku dadaku semakin sesak.
“Mungkin, tertutup dengan gembok-gembok yang lain.”
“Iyaa, oppa... Semoga yang orang bilang benar. Jika kita menuliskan nama kita dan nama pasangan kita di sini, maka cintanya akan abadi.”

JLEB! Dadaku rasanya seperti di tusuk ribuan pisau tajam. Jiyeon~ah, jeongmal mianhae. Aku ingin bersamamu selamanya, tapi aku tak bisa. Tapi aku janji, kau akan menjadi cinta abadiku.
“Jiyeon~ah...”
Aku membalikkan badannya untuk menghadap ke arahku. Aku langsung memeluknya erat. Tak peduli dengan orang-orang yang saat ini sedang melihat ke arah kami.
“Mianhae... Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu. Tapi, aku tak bisa melanjutkan hubungan kita.”
Air mataku menetes saat itu juga. Tak ada respon dari Jiyeon. Kucoba melepaskan pelukanku untuk melihat kondisinya, tapi dia menarikku kembali.
“Teruslah seperti ini. Agar kau tetap berada di sisiku. Jangan tinggalkan aku, oppa...”

Kudengar suaranya yang mulai sayu-sayu dengan sedikit isakan tangis. Aku memaksanya untuk melepaskan pelukan kami. Kulihat air mata sudah mengalir deras dari matanya yang indah. Aku berusaha mengusap air mata yang sudah menghapus make-upnya.
“Jeongmal mianhae... Mianhamnida, Jiyeon~ah.”


Satu Minggu kemudian...

Jiyeon POV

Setelah hubunganku dengan Wooyoung oppa berakhir, hari-hariku terasa sangat gelap. Seperti tak ada lagi harapan untukku singgah di dunia yang kejam ini. Tak mungkinlah aku mendapatkan seorang kekasih dalam waktu 3 bulan. Itu mustahil! Aku tak pernah dekat dengan laki-laki manapun semenjak aku bersama Wooyoung oppa. Sedangkan Eunjung devil, akan mencabut nyawaku dalam waktu 3 bulan jika aku belum bisa mendapatkan pengganti Wooyoung oppa. Kalau saja, aku tak mengingat rasa cintaku pada Wooyoung oppa dan ummaku, maka aku sudah meminta devil itu untuk segera mengambil hidupku yang sudah tak ada harapan lagi. Tapi, aku masih ingin terus hidup dan melihat wajah Wooyoung oppa, walaupun aku tak harus bersamanya. Aku juga tak mungkin meninggalkan ummaku hidup sendiri di dunia yang kelam ini.
“Kau tak usah terlalu pemilah. Cari saja lelaki seadanya yang sedang berada di dekatmu. Daripada kau mati...” ujar devil itu.




: Please give a comment. Because, your comment can make me much better :
THANK YOU :) 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar