Tittle : Love is Fool
Part : 1
Genre : Romance
Friendship
Cast : Park
Jiyeon
Lee Jieun
Kim Jongin
Yang Yoseob
Lee Chanhee
Anyeong!
Park Jiyeon, itulah namaku. Aku hanyalah seroang gadis biasa yang mungkin
bermimpi untuk suatu hal yang tak pasti, memang terasa begitu rumit. Aku
bersekolah di Chunhan high school yang letaknya cukup jauh dari rumahku. Saat
ini aku berada di grade 12B bersama dengan sahabat kecilku, Lee Jieun. Biasanya
dia di panggil dengan julukan IU. Aku juga tak tahu kenapa orang-orang
memanggilnya IU. Mungkin karena parasnya yang cantik dan dalam bahasa daerah di
Indonesia disebut ayu. IU dan aku bukanlah sosok yang populer di kalangan
siswa-siswi Chunhan high school. Kami hanyalah dua siswi yang terbilang populer
dengan caranya sendiri. Kami tidak banyak berprestasi, tidak banyak mengikuti
kegiatan klub, bahkan tidak banyak masuk ke dalam organisasi. Namun, IU dan aku
terbilang cukup ramah pada siapapun, karena itulah kami cukup di kenal di
kalangan teman-teman sepermainan.
Banyak
kesamaan yang ada pada diriku dan IU, mungkin hal itulah yang membuat kami
mampu mempertahankan persahabatan kami sejak 14 tahun yang lalu. Dulu orangtua
kami yang seringkali mengajak kami pergi ataupun bermain bersama. Orangtuaku
dan orangtua IU adalah sahabat sejak mereka berada di senior high school. Oleh
karena itu, mereka ingin persahabatan mereka dilanjutkan oleh anak-anak mereka.
Rumah kami pun juga berdekatan, jadi kami sering berangkat atau pun pulang
sekolah bersama.
Saat
ini, aku dan IU sedang masuk dalam sebuah jaring kehidupan anak remaja
sewajarnya. IU menyukai salah seorang siswa yang berada dalam satu kelas yang sama
dengan kami. Namanya Yang Yoseob, dia adalah ketua siswa di Chunhan high school
ini. Menurutku, dia pria yang baik. Walaupun ia seorang ketua siswa, ia tak
pernah sedikitpun terlihat angkuh ataupun membanggakan dirinya. Ia jauh lebih
bersahabat dan seringkali lebih memilih untuk berkumpul bersama teman-teman
dekatnya di banding harus terus berada di ruang ketua siswa. Pantas saja kalau
hampir setiap gadis di Chunhan high school ini menyukainya. Selain terlalu
banyak pesaing, kendala lain yang menghalang IU adalah Yoseob baru saja
mengenalnya dan mereka tidak dekat. Ditambah lagi dengan posisi IU yang
seringkali gugup jika berada di depan Yoseob.
“Park
Jiyeon!!” panggil beberapa anak yang berlintas di depan kelasku.
Aku
pun langsung mencari siapa pemilik suara tersebut. Ah, mereka hanya anak-anak
dari kelas atas yang seringkali iseng menjodohkan salah satu temannya denganku.
Dia adalah Lee Chanhee, atau biasa di panggil Chunji. Ia berada di grade 12D.
Aku juga tak mengerti apa yang terjadi sehingga aku bisa berskandal dengannya.
Jujur saja, Chunji adalah pria yang tampan, dia juga memiliki banyak teman,
ditambah lagi ia masuk dalam kategori pria populer di Chunhan high school ini.
Tapi, tunggu dulu! Bukan berarti aku menyukainya, aku tak mengenalnya dengan
baik.
“Park
Jiyeon, Lee Chanhee mencarimu. Ia bilang, ia merindukanmu!” teriak
teman-temannya yang sengaja berhenti di depan kelasku.
“Jiyeon~ah,
Chunji mencarimu.” ujar Yoseob dengan evilaughnya.
Aku
hanya tersenyum mendengar teriakan teman-teman Chunji dan ucapan Yoseob. Memang
sulit untuk mengelak akan rumor seperti ini, bagiku inilah yang akan kami
kenang jika kami sudah lulus di kemudian hari. Alangkah buruknya jika kami
menginggalkan Chunhan high school ini tanpa suatu memori yang cukup menggemaskan.
Lagipula, rumor seperti ini juga tidak berdampak buruk pada diriku sendiri
ataupun pada Chunji. Terlihat di wajahnya bahwa ia baik-baik saja dengan semua
ini.
Setelah
beberapa menit berlalu, kudengar suasana di depan kelasku sudah cukup tenang.
Aku dan IU pun memutuskan untuk pergi ke kantin karena perut kami yang sudah
terasa kosong sejak tadi. Kami melewati koridor panjang untuk menuju kantin
yang letaknya di ujung koridor. Seperti inilah suasana di luar ketika jam
istirahat tiba, padat sekali. Aku dan IU terpaksa berdesak-desakan untuk
mendapat satu kantong French Fries
dan dua gelas Chocolate Iced. Kami
duduk di salah satu bangku panjang yang belum terisi penuh. Namun, bangku kami
terlihat semakin padat ketika Chunji dan teman-temannya memutuskan untuk duduk
di bangku yang sama dengan kami.
“Jiyeon~”
panggil salah satu temannya yang berada tepat di depanku.
“Wae?”
“Mmm…
Hanya pesan itu?”
“Ne.
Aku tak mau terlihat gemuk di depanmu.” ujarku yang mulai pembicaraan dengan
beberapa gombalan manis.
Mendengar
ucapanku yang mungkin terlalu tiba-tiba, mereka tertawa bersama dan mampu
membuat sebagian siswa di kantin ini melihat ke arah kami. IU yang berada di
sampingku pun ikut tertawa bersama mereka sambil sedikit terbatuk karena
tersedak French Fries yang hampir
saja ia telan.
“Anio~
Walaupun kau gemuk, aku akan tetap menyukaimu.” ujar Chunji yang mulai terbawa
dengan semua ini.
“Tapi,
Jiyeon. Mengapa kau meminum Chocolate
Iced? Itu terlalu manis untuk ukuran wajahmu yang sudah sangat manis.”
balas temannya yang lain.
Aku
dan IU mulai tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan mereka yang semakin
menjadi-jadi. Lalu, kami pun sempat sejenak untuk melanjutkan kegiatan kami
menghabiskan French Fries dan Chocolate Iced di hadapan kami. Kami
cukup menikmatinya dengan lahap sebelum beberapa suara yang tak asing di
telingaku dapat menghentikan aktivitasku dan IU dalam menghabiskan makanan
kami.
“Kai,
bergabung dengan kami saja.” ajak Chunji.
“Khmm…”
deru IU sambil mendorong tanganku.
Yah,
alasan mengapa sikap IU seperti itu adalah karena Kai atau lebih tepatnya Kim
Jongin akan bergabung bersama di meja kami. Dan satu-satunya tempat yang
tersisa adalah di sebelah kananku. Dan kau tahu? Jantungku berdegup lebih
kencang dibanding detak jantung normal biasanya. Kim Jongin… Sebuah nama yang
akhir-akhir ini terus berputar di otakku. Entahlah, dia pria yang terlihat
dingin, namun aku tahu dia bukanlah orang yang seperti itu jika dengan
orang-orang yang sudah lama ia kenal. Tinggi badannya juga mampu melindungiku
dari sengatan matahari. Kai tidak termasuk dalam kategori pria populer di
Chunhan high school, namun ia cukup populer di pikiranku.
Kai
berada di grade 12A. Aku mengenalnya karena ketika kami berada di grade 11,
kami mengikuti klub softball. Namun,
setelah kami memasuki grade 12 ini, ia mengundurkan diri dari klub tersebut.
Bisa dibilang aku tertarik karena sikapnya yang seringkali berbeda dengan
siswa-siswa yang lain. Diantara teman-temannya, ia terlihat paling diam dan tak
banyak bicara. Tapi, aku merasa sangat sulit untuk mencoba menyapanya terlebih
dahulu, karena ia tak pernah memperhatikan apa yang terjadi di sekelilingnya.
Bahkan, beberapa kali aku mencoba tersenyum padanya, ia tak memperhatikanku.
Memang sakit rasanya… Tapi, jika kami berada pada jarak yang relative dekat, ia
juga tak segan-segan mengajakku berbicara.
“Jamkaman!!
Kau duduk sebelah sini saja, biar aku yang duduk di samping Jiyeon.” ujar
Chunji mencegah Kai yang hampir saja duduk di sampingku.
“Maklum
saja, Kai. Orang yang sedang jatuh cinta memang sering bertindak aneh.” ledek
salah satu temannya dan diikuti gelak tawa dari yang lainnya, sedangkan Kai
hanya tersenyum.
“Gwenchana.
Kau di sini, aku di situ.” jawab Kai sambil berdiri kembali.
“Anio,
anio! Aku gugup jika berada di sampingnya.” tolak Chunji dengan wajah yang
dibuat tersipu.
DEG!!
Jantungku berhenti sejenak ketika Kai benar-benar telah sempurna duduk di
sampingku. Memang dia memberi jarak yang cukup jauh, namun tetap saja detak
jantungku tak bisa aku kontrol. Chunji dan teman-temannya kembali bergurau,
sedangkan Kai yang terlihat sendirian menikmati makanannya. Aku juga turut diam
sambil berusaha menenangkan perasaanku, sedangkan IU terlihat sedang tersenyum
meledek ke arahku. Ia memang seorang teman yang sama sekali tidak bisa
membantuku dalam mengatasi hal seperti ini, maka dari itu aku seringkali balas
dendam dengan menggunakan Yoseob sebagai bahan ledekan.
“Ya,
Chunji! Habiskan makananmu, jangan perhatikan Jiyeon terus.” ledek salah satu
temannya sambil menepuk pundak Chunji. Pada saat itu juga aku langsung membuang
pandanganku pada Kai dan ternyata ia juga sedang memperhatikan ke arahku.
Karena gugup aku langsung kembali menatap teman-teman Chunji.
“Kalian
tak tahu siapa yang ada di sampingku? Dia… Nae namjachingu.” ujarku dengan nada
yang sedikit kupelankan.
“MWORAGO?”
teriak Chunji dan teman-temanny bersamaan.
Kai
hanya menahan tawanya ketika mendengar ucapanku. Ia tahu bahwa aku memang
seringkali melakukan hal ini, bahkan pada siapapun. Sedangkan IU yang berada di
sampingku terkekeh kecil dan aku hanya memasang wajah paling manisku pada
teman-teman Chunji. Setelah membuat mereka semua tercengang, aku meninggalkan
kantin dan kembali ke dalam kelas bersama IU. IU berkali-kali menepuk pundaku
dan kembali mengingat apa yang baru saja terjadi. Ia bilang aku memang paling
handal dalam hal ini. Tentu saja, daripada aku harus gugup di samping Kai dan
tak tahu harus berkata apa, lebih baik aku membuat lelucon yang sebenarnya
memang kalimat yang ingin aku miliki. Namun, mereka semua tentu tak dapat
membedakan mana kalimat yang tulus dari hatiku ataupun candaan.
Kami
kembali ke dalam kelas yang masih terlihat kosong, mungkin siswa yang lain
masih menghabiskan jam istirahat mereka. Kulihat Yoseob sedang duduk sendiri di
bangkunya. Aku mengajak IU untuk menghampirinya, namun IU menolakku. Tapi aku
tak menghiraukan tolakannya dan memastikan langkahku mengarah pada bangku yang
berada di depan Yoseob. Dan terpaksa, IU mengikuti dari belakang. Kulihat
Yoseob sedang menggambar sebuah gravity
pada buku gambar A3nya. Ia memang sering menghabiskan waktunya untuk membuat
gambar ataupun lukisan. Terang saja, ia masuk dalam klub lukis dan di dalam
biodatanya ia juga menuliskan bahwa ia suka dalam hal melukis. Yoseob menghentikan
aktivitasnya sejenak dan memperhatikan aku dan IU yang tengah memperhatikannya.
“Waeyo?
Kalian seperti pengamat seni yang kutemui kemarin, dan ia sungguh menyebalkan.”
ujarnya.
“Dan
apa kau pikir kami menyebalkan?” tanyaku.
“Kurang
lebih begitu.”
“Ya!
Yang Yoseob!” ujarku dengan nada yang sedikit kunaikkan.
“Kalau
mau berteriak jangan di telingaku.”
“Kau
ini menyebalkan sekali. Sebenarnya siapa yang menyebalkan? Kami atau kau?”
“Entahlah,
hidup itu terkadang memang sulit dimengerti.”
“Tak
ada hubungannya.” ujar IU yang dilanjutkan dengan kami memasang ekspresi datar.
“Eh,
kau menggambar huruf L? Lee Jieun?” godaku dan IU mendorong tubuhku.
“Memangnya
yang menggunakan huruf awalan L hanya IU?”
“Lalu
siapa?”
“Death
Note.” ujarnya dengan nada yang dibuat sedikit meraung.
“Itu
tidak seram, babo.” balas IU memukul pundak pundak Yoseob.
Tak
berapa lama kemudian bel tanda usai istirahat pun telah berbunyi. Aku dan IU
bergegas kembali ke tempat duduk kami masing-masing. Pelajaran kali ini cukup
membosankan, karena songsaengnim yang mengajar kami pun memang sangat
berpengalaman dalam membuat setiap siswanya jenuh dengan apa yang ia ajarkan.
Beberapa siswa sudah terlihat mulai mengantuk, bahkan beberapa dari mereka
sudah meletakkan kepalanya di atas meja. Aku dan IU justru senang melihat
pemandangan yang seperti ini, karena jujur saja melihat wajah mereka yang
terlihat menahan kantuk sungguh membuat kami tertawa kecil dan menghilangkan
rasa kantuk. IU mengeluarkan ponsel dari sakunya dan memotret beberapa siswa
dengan ekspresi wajah lesu dan kantuk. Aku dan IU terkekeh pelan sambil terus
mengambil gambar secara diam-diam. Terang saja, di antara 24 siswa lainnya,
hanya Yoseob yang terlihat masih bersemangat, namun tetap saja ia tak
memperhatikan songsaengnim yang sedang menjelaskan di depan kelas. Ia justru
melanjutkan gravity yang ia buat
ketika jam istirahat tadi.
Aku
memegang ponsel IU dan menghentikan aktivitasnya memotret siswa yang lain, lalu
aku melempar pandangan pada Yoseob yang terlihat sangat serius dengan karyanya.
IU mengerti maksudku dan memotret Yoseob. Yoseob terlihat begitu lucu dengan
kedua alisnya yang disatukan dan pensil yang diputar-putar. Kami yang duduk di
belakang Yoseob pun langsung menyentuh pundak Yoseob dari belakang dan menunjukkan
hasil potretan IU. Yoseob sedikit terkejut dan nyaris saja memukul wajahku,
namun aku berhasil menghindarinya. Ia kemudian kembali mencoba merampas ponsel
dari tangan IU, namun IU bergegas memasukannya ke dalam sakunya. Yoseob
memasang wajah kesal dan kembali melanjutkan gambarnya dengan sedikit gumaman
yang tidak terdengar jelas di telingaku.
Setelah
cukup bersenang-senang mengambil gambar dari teman-teman yang terlihat lelah,
bel tanda pulang sekolah pun telah berbunyi. Beberapa siswa yang telah tertidur
tadi langsung terbangun dan kami semua bergegas merapikan buku-buku yang
berserakan di atas meja. Ketua kelas langsung saja memimpin doa dan kami keluar
kelas satu persatu. Hari ini aku dan IU tidak langsung pulang ke rumah, aku ada
klub softball dan IU ada klub musik. Jangan salah duga, IU mempunyai suara emas
sehingga dia memutuskan untuk bergabung dalam klub musik. Ia juga sering
mewakili Chunhan high school dalam beberapa kompetisi musik.
“IU,
kau akan ke ruang musik sekarang?” tanya Yoseob.
“Ne,
waeyo?”
“Boleh
aku pergi bersamamu? Ada beberapa hal yang ingin kusampaikan pada klub musik.”
“Mmm…
Ne.” balas IU sedikit gugup.
Aku
tersenyum kecil kepada IU dengan wajahnya yang perlahan mulai memerah. Aku
meninggalkannya dan bergegas menuju lapangan untuk softball yang berada tidak
jauh dari kelasku. Masih belum banyak siswa yang hadir, namun aku telah melihat
Chunji dan salah seorang temannya tengah duduk pada bangku panjang di tepi
lapangan. Chunji memang masuk ke dalam klub yang sama denganku. Ia adalah
pemain utama sekaligus ketua dalam klub kami, berkatnya klub kami sering
mendapat penghargaan dalam beberapa kompetisi. Aku memutuskan untuk duduk
dengan beberapa anggota klub yang lain. Kemudian tak lama, tiba-tiba Chunji
menepuk pundakku dari belakang. Aku melihat ke arahnya, namun tak ada respon
darinya. Aneh sekali… Aku kembali berbincang-bincang dengan anggota klub yang
lain dan membicarakan tentang kompetisi yang akan kami hadapi minggu depan,
untung saja Chunhan high school terpilih sebagai tuan rumah, jadi kami tak
perlu pergi dari lingkungan sekolah dan pula dukungan akan klub kami juga pasti
akan sangat banyak. Chunji memberikan beberapa rancangan acara yang harus kami
persiapkan untuk kompetisi minggu depan. Hari ini pelatih kami berhalangan
hadir, sehingga Chunji memimpin semuanya.
“Kita
harus lakukan yang terbaik untuk minggu depan, untuk masalah menang ataupun
tidak itu adalah urusan terakhir. Apapun yang terjadi, lakukan yang terbaik.
Ini kan rumah kita sendiri, kalau kita melakukan suatu yang buruk pasti kita
akan malu sekali, bukan? Jangan lupa jaga sikap, itulah hal yang terpenting.
Untuk apa kita menang kalau sikap kita kosong. Lalu, walaupun nantinya
pendukung kita pasti yang terbanyak, jangan berbesar hati dan merendahkan klub
lain, hal itu jauh akan mengurangi point kita. Untuk pertemuan kali ini pelatih
tidak dapat hadir, tetapi kita semua tetap harus berlatih. Namun, kali ini kita
berlatih dengan santai. Oke?” jelas Chunji.
“Ne,
araseo!”
“Baiklah,
ganti pakaian kalian dan langsung mengambil posisi di lapangan.”
Kami
semua langsung menuju ruang ganti pakaian dan segera kembali ke lapangan. Kami
memulai beberapa latihan sebelum Chunji menyadari ada seseorang yang tengah
mengambil beberapa gambar kami yang tengah berlatih. Orang itu tak lain adalah
Yoseob dan Kai. Entah bagaimana mereka berdua ada di sini. Seingatku tadi
Yoseob pergi bersama IU menuju ruang musik. Lalu, apa yang di lakukan Kai
dengan sebuah kamera di tangan kanannya dan ia tengah menempelkan wajahnya pada
kamera untuk mengambil beberapa gambar.
“Yang
Yoseob, Kim Jongin! Apa yang kalian lakukan di sana? NO PHOTOGRAPHY!!!” teriak
Chunji memecahkan suasana tenang di tengah lapangan.
“Untuk
dokumentasi!” teriak Yoseob.
“APA??”
Chunji semakin mengeraskan suaranya.
“DOKUMENTASI!!”
balas Yoseob.
“KE
SINI KAU! AKU TIDAK MENDENGARMU!” ujar Chunji sambil memberikan tanda untuk
mereka menghampirinya.
Kurasa,
ada yang salah dengan telinga Chunji. Aku saja dapat mendengar setiap kata dari
mulut Yoseob dengan baik. Yoseob dan Kai pun terpaksa mengikuti perintah
Chunji. Mereka berjalan pelan sambil terus mengambil gambar suasana di
lapangan. Kai tersenyum kecil dan sengaja mengambil beberapa gambar dari Chunji
yang tengah melipat kedua tangannya di depan perut.
“YA!
Hentikan pengambilan gambar sebelum aku mengijinkan!” teriak Chunji kembali.
“Dasar
kau tuli! Ini untuk dokumentasi!” balas Yoseob.
“Oh,
kalau begitu… Teman-teman! Kita sudahi saja latihan ini, mari kita berfoto
bersama!” ujar Chunji.
“Kau
gila? Lebih memilih berfoto dibanding dengan berlatih?” tanyaku.
“Ini
jarang terjadi, Jiyeon.” balasnya santai.
“Kau
ini pria, mana ada pria yang suka sekali berfoto. Dasar pria multigender!”
ujarku sambil merapikan rambutku.
“Untuk
apa kau merapikan rambutmu?” tanya Yoseob.
“Kau
tidak dengar? Chunji bilang kita akan berfoto.” jawabku dengan bola mata yang
sedikit kubulatkan.
Chunji
dan Yoseob langsung memandangku dengan tatapan cukup mengerikan, sedangkan Kai
melihat sekilas ke arahku dan kembali mengatur kameranya. Sesuai dengan
intruksi dari Chunji, semua anggota klub berkumpul bersama dan berpose bersama.
Sebenarnya, yang dimaksud dengan dokumentasi oleh Yoseob bukanlah kegiatan
berfoto bersama seperti ini, namun beberapa gambar yang sengaja diambil ketika kami
melakukan aktifitas. Mungkin karena kami semua cukup jenuh jika harus terus
berlatih, jadi kami mendukung keputusan Chunji untuk melakukan foto bersama
seperti ini. Selama pengambilan gambar, kami semua cukup berisik saling
mengatur posisi dan berebut untuk posisi di tengah yang selalu saja di tempati
oleh Chunji. Yoseob yang sedari tadi memperhatikan kami juga turut angkat
bicara dan tak segan-segan mengomel pada kami semua. Berbeda sekali dengan
orang yang saat ini tengah berdiri di samping Yoseob yang lebih memilih untuk
diam sambil terus memposisikan kameranya, interaksinya dengan yang lain
hanyalah sebuah senyum kecil.
Berbagai
pose sudah kami lakukan, sampai pada waktunya sebuah ide cemerlang muncul di
benak Chunji untuk individual’s photo.
Hhh… Tenang saja, album kami akan segera keluar. Album klub softball Chunhan
high school. Terpaksa kami semua mengikuti imajinasi Chunji yang sedikit tidak
masuk akal, karena ia berkata foto ini sekalian untuk foto pada kartu anggota
tahunan. Tapi, setauku jika untuk foto pada kartu anggota, kami biasa
menggunakan foto dengan pose yang cukup resmi, tidak seperti ini. Tapi mungkin
karena ketua klub kami ini cukup unik, dia akan membuat sesuatu yang jauh
berbeda dari apa yang ada pada tahun-tahun sebelumnya. GREATlah… Sebuah
perkembangan yang mendasar. Semua anak berpose satu persatu sesuai dengan pose
andalan mereka masing-masing, hingga tiba pada saatku dan aku memilih untuk
berpose di tengah lapangan sambil membawa tongkat softball dan kaki kiriku
kusilangkan di depan kaki kananku.
“Gelap.”
ujar Kai.
“Biar
saja, memang wajahnya yang terlalu gelap.” balas Yoseob santai.
“YA!
Kau harus mengambil gambar yang baik untuk Jiyeon. Carikan posisi yang bagus
dengan sinar yang cukup bagus pula untuk kulit putihnya.” atur Chunji.
“Gomawo,
Lee Chanhee. Kau sangat perhatian denganku, aku tak tau harus membalasnya
dengan apa.” ujarku dengan wajah berseri-seri.
“Tidak
perlu, balas saja dengan cintamu.” Chunji tersipu malu dan bersembunyi di
belakang pundak Yoseob, Yoseob pun mendorongnya.
“Mianhae,
Lee Chanhee… Aku memang menyukaimu, namun aku sudah bersama Kim Jongin.”
balasku.
“ANDWAE!!!”
teriak Yoseob dan Chunji bersamaan.
Melihat
mereka berdua yang saling memeluk satu sama lain dengan isak tangis yang
dibuat-buat membuat semua yang ada di sini tertawa terbahak-bahak, terkecuali
aku dan Kai. Aku sengaja memasang wajah iba pada mereka dan Kai hanya
tersenyum, dan kau tahu? Aku tak suka melihatnya tersenyum seperti ini!
Membuatku semakin mabuk. Akhirnya untuk mengakhiri kegiatan paling dramatis
ini, Kai memintaku untuk pindah posisi berdiri di bawah pohon yang berada di
tepi lapangan. Ia memintaku bersandar pada pohon dan membiarkan tongkat
softball aku sandarkan ke tanah sembari tangan kananku memegangnya. Kaki kiriku
kembali bersilang di depan kaki kananku. Kai memperhatikanku, tidak… Ia tidak
melakukan ini pada anggota yang lain. Sedari tadi, ia hanya membiarkan setiap
anak berpose sesuai keinginannya, namun denganku ia mengatur segalanya. Ia
benar-benar mengikuti perintah Chunji. Ia berjalan mendekat ke arahku, dan
membuatku terpaksa berubah dari posisiku.
“Bagaimana
jika tangan kirimu tetap memegang tangan kananmu?” ujarnya.
“Ahhh…
Araseo! Seperti ini?” tanyaku sembari mengikuti apa yang ia inginkan.
Ia
hanya merespon pertanyaanku dengan sebuah anggukan dan kembali menjauh untuk
segera mengambil gambarku. Tanpa terasa kami telah menghabiskan waktu kami
selama 2,5 jam. Kulihat IU sudah duduk di bangku penonton, aku pun melambaikan
tangan padanya. Aku berpamitan pada Chunji untuk pulang terlebih dahulu, namun
Chunji justru menyudahi kegiatan latihan ini. Aku langsung saja menghampiri IU
yang sedari tadi menungguku sendirian. Ia memberikan sebotol air mineral
padaku, dan kami pun meninggalkan lapangan. Kali ini kami memilih untuk pulang
menggunakan bus. Namun, di depan gerbang Chunji dan Kai melintas dengan sepeda
motor besarnya yang membuat suara riuh. Chunji menghentikan motornya di depan
kami, dan Kai yang berada di belakangnya pun turut berhenti. Chunji membuka kaca
helm yang menutupi wajahnya.
“Park
Jiyeon, Lee Jieun! Kalian tidak dijemput seperti biasa?” tanya Chunji.
“Waeyo?
Kau akan mengantar Jiyeon pulang? Lalu kau tega membiarkanku pulang sendiri?”
tanya IU sedikit membentak.
“Kan
ada Kai, kau pulang saja bersamanya. Kai, kau mau mengantar IU, kan?” tanya
Chunji yang disambut dengan anggukan Kai.
“Mmm…
Aku denganmu saja, biar Jiyeon bersama Kai. Aku tak mau kau berbuat suatu hal
yang buruk pada Jiyeon, lagipula aku juga tak mengenal Kai.” IU tersenyum licik
padaku dan langsung naik ke motor Chunji.
“YA!
Apa-apaan ini? Turun kau! Aku ingin bersama Jiyeon. YA! LEE JIEUN!!!” bentak
Chunji sambil menggoyangkan motornya memaksa IU untuk turun.
IU
tersenyum padaku dan memberikan sinyal padaku untuk segera pergi bersama Kai.
Aku dengan ragu langsung menghampiri Kai yang hanya melihat ke arahku dengan
ekspresi standarnya. Aku tersenyum kecil padanya dan memastikan apakah aku
boleh naik ke motornya, ia hanya mengangguk dan menolehkan kepalanya ke
belakang yang memberiku isyarat untuk segera naik.
“LEE
JIEUN!!! TURUN KAU SEKARANG JUGA!” Chunji masih berteriak-teriak.
“YA!
Kau bisa diam tidak? Jiyeon juga tak mau bersamamu! Sudah cepat jalan!” IU
memukul punggung Chunji.
“Arraseo!”
Chunji mematikan mesin motor dan turun dari motornya.
“Jika
kau tidak mau turun dari motor ini, aku akan memakai motor Kai.”
Chunji
menghampiri aku dan Kai. Ia menyuruh Kai untuk memakai motornya, Kai pun tak
bisa menolak permintaanya. Ia turun dari motornya dan pergi bersama IU. Alhasil
aku tertinggal bersama dengan Chunji. Apa Chunji tak bisa membaca pikiranku?
YA!!! LEE CHANHEE! Ingin sekali kudorong kau dari motor ini hingga terjatuh,
tapi aku teringat kalau kau terjatuh, aku pun akan ikut terjatuh. Oleh karena
itu, aku urungkan kembali niat jahatku. Sepanjang perjalanan aku melihat ke
arah IU dan Kai, IU memasang wajah cemas dan berkali-kali berkata “Mianhae”
padaku, dan aku pun berkali-kali berkata “Gwenchana” padanya. Karena ini memang
bukan salahnya, melainkan dampak dari perbuatan Chunji yang semena-mena. Aku
juga melihat ke arah Kai yang tengah melihat ke arahku. Tatapan kami bertemu!
Aku langsung saja mengalihkan pandanganku pada jalanan yang saat itu tengah
ramai karena bertepatan dengan para pekerja yang telah usai dengan kegiatan
kantornya.
Sepanjang
perjalanan, Chunji banyak bertanya-tanya padaku. Mulai dari pekerjaan kedua
orangtuaku, kakak laki-lakiku, sampai pada apa yang sering aku lakukan di
rumah. Cukup pusing untuk menjawab pertanyaan yang terus ia lontarkan. Chunji
memang pria yang susah sekali menutup mulutnya, ia selalu saja berisik di
manapun ia berada dan dengan siapapun. Inilah yang membuat ia banyak
mempunyai teman dan masuk dalam kategori
pria populer di Chunhan high school. Kurasa ia juga cukup menghibur karena
setiap kata yang ia ucapkan sering out of topic, dan justru hal itu yang
membuatku tertawa kecil. Di sisi lain, kulihat IU dan Kai hanya diam. Tentu
saja, dengan teman-teman dekatnya saja Kai tak mau banyak bicara, apalagi
dengan IU yang belum pernah ia kenal sebelumnya. Mungkin Kai hanya melihat IU
dari berbagai penampilannya di sekolah sebagai seorang penyanyi, namun ia tak
pernah bercakap-cakap dengan IU.
Setelah
kami melewati keramaian di tengah kota Seoul, kami telah masuk ke dalam
kompleks perumahanku dan IU. Aku meminta Chunji untuk mengantarkanku ke rumah
IU, karena jarak rumah kami tidak jauh, aku bisa pulang nanti malam. Lagipula
aku dan IU memang sudah terbiasa bermain di rumah satu sama lain hingga larut
malam, bahkan kami sering menginap. Chunji dan Kai mengantar kami hingga depan
rumah IU. Kami turun dari motor dan IU mempersilakan kami semua untuk masuk
terlebih dahulu. Dari raut wajah Kai, aku bisa membaca ia merasa keberatan jika
harus berhenti sejenak di rumah IU, namun aku tahu ia tak berani menolak. Kami
semua pun masuk ke ruang tamu IU yang cukup luas dan sudah terasa seperti rumah
sendiri bagiku. IU pergi menuju kamarnya untuk berganti pakaian, sedangkan aku
menuju dapur untuk mengambil beberapa camilan dan minuman untuk Chunji dan Kai
yang sudah terlihat sangat lelah.
“Lantas,
kau nanti bagaimana?” tanya Chunji.
“Rumahku
dekat sekali dari sini, aku di Blok B.”
“Jalan?”
tanya Kai.
“Ne.
Kalau tidak juga aku bisa meminta IU untuk mengantarku.”
Sembari
menunggu IU, kami menikmati beberapa camilan yang telah kuambil dari dapur
tadi. Kami juga melihat-lihat foto yang tadi kami ambil ketika berlatih.
Sembari melihat foto-foto tersebut, kami tertawa kecil melihat beberapa
ekspresi beberapa anggota yang cukup unik. Di samping itu, orangtua IU belum
tiba di rumah, jadi mereka tidak segan-segan. Tak lama kemudian, IU turun dari
kamarnya dan bergabung bersama kami. Ketika waktu menunjukkan pukul 5:28pm, Kai
dan Chunji pamit untuk pulang karena suasana di luar rumah sudah mulai gelap. Aku
dan IU mengantarkan mereka ke depan rumah dan menunggu sampai mereka menghilang
dari pandangan kami. Kami memutuskan untuk menghirup udara segar dari depan
rumah, akhirnya kami pun duduk di atas bangku hijau yang berada di taman depan.
Seperti biasa, bahan percakapan kami adalah Yoseob dan Kai. Aku sempat bertanya
apa saja yang Kai bicarakan dengan IU selama perjalanan, namun seperti yang
kuduga Kai hanya diam.
Karena
tak terlalu banyak yang bisa kami bicarakan tentang Kai, kami membicarakan
Yoseob. Memang banyak sekali yang bisa dibicarakan darinya, mulai dari tindakan
konyolnya, keanehannya, hingga kebodohannya. Memang yang banyak terlihat dari
Yoseob hanyalah beberapa tindakan konyolnya, namun walaupun seperti itu, tetap
saja sahabatku yang satu ini cinta mati dibuatnya. Dari dulu, selera IU akan
seorang pria memang setipe dengan Yoseob. Baginya, pria yang seperti itu sangat
menyenangkan. Tapi menurutku, aku jauh lebih senang menganggap orang-orang itu
sebagai temanku. Jadi aneh rasanya kalau saja memiliki hubungan khusus dengan
pria yang terbiasa bertindak konyol.
Aku
dan IU kembali melanjutkan perbincangan bertemakan Yoseob dan kemudia entah
angin apa yang tiba-tiba merontokkan otak kami sehingga kami mengganti tema
yang semula tentang Yoseob menjadi tentang Chunji. IU hanya iseng menebak apa
yang sebenarnya Chunji pikirkan, namun kurasa Chunji memanglah orang yang
seperti itu. Untuk semua yang ia lakukan padaku, aku yakin ia juga melakukannya
pada orang lain. Chunji adalah seorang pria yang memiliki sikap nyaris sama
sepertiku, jadi kurasa aku sedikit banyak mengerti apa yang ada dipikirannya. Dan
kurasa, Chunji adalah seorang pria yang akan merubah sikapnya menjadi dingin
ataupun pendiam jika ia benar-benar berada di sekitar orang yang ia kagumi.
“Araseo…
Kurasa benar apa yang kau katakan. Dan aku memang benar-benar bisa melihat
Chunji pada dirimu.” ujar IU.
“Mworago?”
“Kurasa
kau memang ditakdirkan bersamanya. Jangan sok tahu akan perasaannya! Kau bilang
ia tidak memiliki rasa apapun padamu hanya karena ia tetap bersikap konyol di
depanmu? Kau tak berkaca pada dirimu sendiri? Walaupun kau menyukai Kai, tetap
saja kau bersikap konyol di depannya, hanya untuk menutupi semuanya. Benar,
kan? Jadi, kurasa ia menyukaimu.”
“Jangan
sok tahu!”
“Kau
jauh lebih sok tahu! Pulang sana, dasar makhluk sok tahu!”
“Orang
sok tahu jangan menyalahkan orang lain yaa… Atas dasar apa kau menyuruhku untuk
pulang? Kau pikir ini rumah siapa?”
“Rumahku.
Waeyo?”
Wajah
IU terlihat seperti meledekku, aku pun bangkit dari tempatku duduk dan masuk ke
dalam rumah untuk mengambil tasku yang aku letakkan di ruang tamu tadi.
Kemudian aku menarik tangan IU untuk mengantarku pulang. Kami hanya berjalan
kaki, karena di luar sudah tak ada matahari yang menyengat, lagipula hanya butuh
waktu 3 menit untuk tiba di rumahku. Setibanya di rumah, IU berpamitan untuk
langsung pulang karena tak lama lagi orangtuanya akan tiba di rumah. Aku
memperhatikan IU yang mulai berjalan sendirian hingga ia menghilang dari
pandanganku. Usai itu, aku masuk ke dalam rumah dan tak lupa mengucapkan salam
pada umma-appaku yang tengah asyik melihat televisi di ruang keluarga,
sedangkan oppaku, kurasa ia ada di dalam kamarnya. Aku masuk ke kamarku dan
bergegas mandi karena badanku sudah terasa kotor dan terlihat kumal. Setelah
cukup lama membersihkan diri, aku membanting tubuhku di atas kasur dan meraih
ponsel yang kuletakkan di meja sebelah kasurku. Kulihat ada 2 pesan baru… Pesan
pertama dari Lee Chanhee yang berisi “Park Jiyeon =]” dan satu pesan lagi dari
Yang Yoseob berisi “Jiyeon~ah”. Kalau Chunji, ia memang sering mengirim pesan
seperti itu, tapi Yoseob? Untuk apa? Karena aku cukup penasaran dengan maksud
dan tujuan Yoseob mengirim pesan padaku, aku pun mengabaikan pesan dari Chunji.
“Waeyo?”
balasku pada Yoseob.
Namun
setelah cukup lama aku menunggu, tak ada balasan darinya dan aku pun memilih
untuk memejamkan kedua mataku.

nahloooo~ si chunji suka noh sama lu :D tapi kai nya enggak!
BalasHapuslah itu kenapa si yoseob juga ikut2 sms lu?? lu mau gue kepret ha? gue kagak terima =="
bagus yon bagus, soalnya gue jadi IU di ff ini. gue sedikit banyak bangga :*
terimakasih nak ff nya, buruan lanjutin biar gue kagak penasaran :D
hahahha,
Hapusitu hanya kiasan tar (?)
okedeeh, tunggu selanjutnya yaa ")
bayaran mana bayaran?
Baguuuuuuuus :DDD
BalasHapusChunji kalo ditolak Jiyeon sama aku aja sinih :'
Ehh itu si Yoseob knp sms Jiyeon???Jangan2 Jiyeon TMT :O
makasih :*
Hapusehh,Chunji punya guweeh =='
hahahahaha,
tunggu next part yaah
Bagus mbak :-D
BalasHapusbaru fase permulaan ya,baru nyritain kehidupan sehari-hari. ditunggulah konfliknya ya mbak :-)