Tittle : Love’s Target
Eps. : 4
Genre : Romance
Friendship
Cast : Park Jiyeon
Jang Wooyoung
Nichkhun Horvejkul
Ok Taecyeon
Ham Eunjung
(cast yang lainnya nyusul XD)
Nichkhun POV
“W…w…waeyo?” tanyaku sedikit gugup.
“Hhh… aku lelah. Aku dan Taecyeon sudah mencari ke setiap toko pakaian di sepanjang pusat perbelanjaan ini, tapi kami belum menemukan pakaian yang kami cari.”
Fiuh~ syukurlah. Berarti dia tidak mendengar apa yang aku katakan pada manajerku. Aku langsung saja menutup telephone dari manajerku.
Karena dia tidak mendapatkan apa yang dia cari, maka kami kembali ke dalam mobil.
“Pakaian seperti apa yang kalian cari? Kalau memang tidak ada di pasaran, biar designerku yang membuatnya.”
“Jinca, hyung? Omoo~ kau baik sekali! Gomawo. Jiyeon, kau beruntung sekali bisa mengenalnya. Tapi, hyung… memanganya kalau pesan pada designermu, harganya tidak 5 kali lipat dari harga pasaran?”
“Tidak usah memikirkan itu. Untuk kalian aku beri gratis.”
“Oppa…”
“GOMAWO, hyung!! Kau baik sekali!!”
“Ya, Ok Taecyeon! Anio. Kita harus membayar, oppa.”
Aku hanya membalasnya dengan senyuman kebohonganku. Tak apalah jika hanya pakaian saja. Aku tidak akan terlalu rugi. Lagian, bukankah mereka bisa dibohongi dengan memakai bahan-bahan murahan?
Jiyeon POV
Aku hanya membuang pandanganku melihat keluar jendela mobil. Nichkhun baik sekali terhadapku. Dia bukan siapa-siapaku, bahkan kami saling mengenal baru beberapa hari yang lalu. Awalnya aku memang senang melihatnya bersikap baik padaku, tapi semakin lama aku merasa ada yang aneh dengannya. Tak sewajarnya seorang bintang besar bersikap seperti ini kepada seorang gadis biasa sepertiku. Ingin aku menolak tawarannya untuk kali ini, tapi Taecyeon terus mendesakku untuk memanfaatkan semua ini. Yaah, memang cukup sulit mencari pakaian dengan model yang sangat aneh seperti yang kami inginkan. Kami mencari pakaian seperti model cosplay dengan membuat karakter sendiri. Biasanya, jika harus membuat, aku yakin banyak designer lain yang mampu membuatnya. Tapi biaya yang dibutuhkan juga tidak sedikit, sedangkan jika kami menggunakan uang hasil pengumpulan, itu akan habis hanya untuk membuat pakaian. Apalagi pakaian yang kami butuhkan 2 pasang. Ok Taecyeon kan di sini sebagai bendahara 1, jadi dia harus benar-benar mengontrol dengan baik semua pengeluaran.
“Kita makan siang dulu yaa…” ujar Nichkhun membuyarkan lamunanku.
Dia mengarahkan mobilnya ke sebuah restoran yang cukup besar di daerah sekitar Sungai Han. Kami turun dari mobil dan masuk ke restoran tersebut. Seorang pelayan menyambut kedatangan kami dan mengarahkan kami pada meja dan kursi yang belum terisi. Tapi, Taecyeon tiba-tiba menghentikan langkahnya dan berbisik di telingaku.
“Bisakah kita pindah ke tempat makan yang lain?”
Mendengar bisikannya, aku ikut menghentikan langkahku dan menatapnya penuh tanda tanya. Raut wajahnya berubah. Aku tak pernah melihat dia seperti ini. Raut wajah kecewa bercampur dengan raut sedih, dan matanya yang mulai berkaca-kaca. Wae??? Nichkhun yang sudah jauh di depan kami, melihat ke belakang dan menghampiri kami.
“Waeyo?”
“Hyung, mianhae… aku pulang duluan saja.”
Dengan langkah gontai dia meninggalkan kami.
“Kenapa dengannya?” tanya Nichkhun padaku.
“Molla… oppa, mianhae. Aku belum lapar, aku pulang duluan. Mianhae…”
Aku pun meninggalkan Nichkhun dan berusaha mengejar Taecyeon. Biar bagaimanapun juga, dia adalah temanku, tak mungkin aku membiarkannya sendirian.
Keluar dari restoran ini, kulihat Taecyeon berjalan di trotoar menuju kearah barat. Aku sedikit berlari untuk menghampirinya. Untung saja dia berjalan sangat pelan, jadi aku tak perlu mengejarnya terlalu jauh. Aku berjalan di sampingnya, dan dia melihat ke arahku sambil memberikan senyum simpul. Sebenarnya aku ingin bertanya, tapi aku merasa takut jika salah kata, aku akan menyakiti perasaanya. Aku terus mengikutinya berjalan tanpa tau ke mana arah tujuannya. Tapi setidaknya, aku akan menemaninya. Di sepanjang jalan dia hanya menutup rapat mulutnya. Tidak seperti dia yang biasanya selalu membuat kegaduhan dan membuat malu semua orang yang berada di dekatnya. Sekitar 15 menit sudah aku mengikuti langkahnya yang sangat pelan, dan dia pun berhenti di sungai Han. Dia duduk di tangga tepi sungai. Aku pun mengikuti langkahnya dan duduk di sampingnya. Aku tak tau dia marah atau tidak jika aku mengikutinya seperti ini. Tapi, dia tak protes sedikitpun. Atau mungkin, karena dia memang tak pernah marah pada siapapun.
“Kau sangat beruntung, Jiyeon. Ada ummamu yang selalu memperhatikanmu. Kau juga ramah dan baik hati, jadi banyak sekali yang bersedia menjadi temanmu. Dan kau sangat menarik, jadi para lelaki selalu berusaha mendapatkan perhatianmu. Tidak sepertiku…”
Ucapannya berhenti. Aku melihat ke arahnya, dia sangat tenang dan berusaha menahan air matanya. Terdengar sedikit dia mengambil nafas dan membuangnya kembali.
“Kau ini bicara apa? Kau juga punya banyak teman. Bahkan kau lebih beruntung dariku. Appamu masih menemanimu sampai umurmu sekarang ini. Kau masih bisa merasakan kasih sayang dari appamu. Sedangkan aku belum sempat lama merasakan kasih sayang appaku.”
“Tapi… appa dan ummaku tidak mempunyai hubungan sebaik yang kau kira. Aku memang sering membuat kegaduhan, tapi itu adalah luapan dari kemarahanku ketika di rumah.”
Kulihat butir air matanya mulai mengalir perlahan.
“Appaku, dia selalu saja pergi dengan wanita teman sekantornya. Dan ummaku, di restoran tadi aku melihatnya bersama pria lain. Di rumah, mereka selalu saja bertengkar seperti tikus dan kucing. Mereka tak pernah mempedulikanku. Semua kebutuhanku, pembantukulah yang mengurusnya. Mereka hanya meninggalkan uang dan pergi begitu saja. Setiap hari pulang malam. Bahkan aku terkadang dengan setia menunggu mereka pulang hingga pukul 1 malam, tapi mereka pulang bersama orang lain. Tapi bodohnya aku yang selalu saja menunggu mereka hanya untuk melihat wajah mereka. Ingin sekali aku makan malam sekali saja, lengkap bersama dengan mereka. Menikmati udara malam di taman belakang sambil bercanda tawa. Tapi semua itu hanya anganku. Aku malu… para tetanggaku seringkali menggosipkan kedua orangtuaku yang selalu saja membawa pria atau wanita lain ke rumah. Aku malu, Jiyeon…”
Air matanya mengalir deras dan isak tangisnya terdengar sangat menyakitkan di telingaku. Ceritanya membuatku tak dapat membendung air mataku. Dia menundukkan kepalanya dan menangis sejadi-jadinya. Aku mengambil sapu tangan dari tas kecilku dan memberikan padanya. Aku tak tau harus berbuat dan berkata apa.
“Maaf kalau aku bercerita seperti ini padamu. Aku juga tak tau mengapa aku mengatakannya padamu. Selama ini, aku selalu memendam ini sendiri. Aku tak berani mengatakannya pada teman-teman. Aku takut mereka mengolok-olokku.”
“Taecyeon~ah… segala sesuatu, janganlah kau pendam sendiri. Mungkin orang lain bisa membantumu menyelesaikan sesuatu yang tak dapat kau selesaikan sendiri. Umma dan appamu… tunjukanlah bahwa kau benar-benar mencintai mereka. Sejahat apapun orang tua, pasti mereka akan berubah demi anaknya. Jika kau terus menunjukkan rasa cintamu, mereka pasti akan luluh. Dan kau harus sering-sering mengajak mereka untuk berkumpul bersama. Aku yakin, mereka tak akan menolak ajakanmu. Ok Taecyeon, kaulah yang bisa merubah semua ini. Aku yakin, mereka juga saling mencintai dan juga mencintaimu. Mereka tak akan melakukan sesuatu yang buruk, jika mereka mengingat bahwa mereka mempunyai anak yang baik sepertimu.”
“Tapi aku takut… aku hanya berani melihat mereka dari kejauhan. Aku tak berani mendekati mereka. Mereka selalu saja memasang muka masam jika sudah menginjakkan kaki di rumah.”
“Ok Taecyeon…”
Dia masih belum bisa menghentikan tangisannya. Aku pun mendekatinya dan berusaha meraih tangannya.
Di rumah…
Aku masuk ke kamarku dengan wajah lesu dan langkah yang sedikit tak pasti. Aku masih mengingat Taecyeon, aku tak menyangka kalau hidupnya seperti itu. Ternyata selama ini, keceriaanya hanyalah untuk menutupi kesedihannya. Di kamar, Eunjung devil sudah berbaring di atas kasurku.
“Waeyo? Kenapa wajahmu seperti itu?”
“Kenapa aku merasa seperti ini yaa? Aku merasa jantungku berdegup kencang. Aku tak pernah merasakan ini selain jika aku bertemu dengan Wooyoung oppa.”
“Kau jatuh cinta? Dengan siapa? Kumohon jangan Nichkhun!!”
“Jatuh cinta? Kau gila? Aku hanya merasa kasihan mendengar cerita Taecyeon. Oiya, memangnya kenapa jika aku menyukai Nichkhun? Kau tidak biasanya melarangku suka dengan seorang pria. Justru kau selalu mendukungku jika aku dekat dengan seorang pria. Ketika aku bersama Chansung, orang yang tidak aku cintai, kau sangat senang. Kenapa dengan Nichkhun aku tidak boleh?”
“Diam kau! Tak usah banyak bertanya! Yang pasti, jangan sampai kau menyukai pria itu. Tapi kurasa, kau memang sedang jatuh cinta. Kau tak ingat kalau aku ini peri cinta? Jadi aku bisa merasakan kalau kau sedang jatuh cinta. Hahahahahahahahaa… tapi, kau harus lupakan Wooyoung! Untuk apa kau terus mengingatnya? Itu hanya akan menghabiskan waktumu.”
Aku tak membalas perkataannya. Aku mengambil pakaian di almari dan segera menuju kamar mandi.
Hari ini terasa sangat melelahkan. Memang tidak menguras banyak tenaga, tapi aku merasa terbebani saat mendengar cerita Taecyeon. Aku pikir, kisah yang dialami Taecyeon hanya terjadi pada drama saja, ternyata di kehidupan nyata pun ada. Sungguh tak habis pikir, kenapa bisa ada orangtua macam itu? Tapi kejadian yang hari ini terjadi sungguh memberiku sebuah pengalaman, dimana aku harus bisa menjadi anak yang baik dan selalu tabah seberat apapun beban yang kurasa.
Usai mandi, aku kembali berbaring di atas kasurku. Aku membuka laptopku dan mendengarkan beberapa lagu. Aku meraih ponsel yang aku letakkan di sebelah bantalku. Entah apa yang aku pikirkan, tanganku langsung saja mencari kontak di ponselku dengan nama “Ok Taecyeon”. Aku menekan tombol pesan dan mengetik “Taecyeon~ah… gwenchana?”. Baru saja aku akan mengirim pesan itu, ummaku datang dan membuatku kembali menghapus pesan itu. Aku menyambut kedatangan ummaku dengan peluk dan cium. Ditambah lagi, umma membawakan roti abon kesukaanku. Aku langsung mengambil kantong plastik dari tangan ummaku dan melahap sebungkus roti abon. Umma tersenyum lebar melihatku menikmati roti abon darinya. Tapi, aku berhenti melahap dan kembali teringat pada Taecyeon.
“Umma… apa semua orangtua menyayangi anaknya?”
“Ehh? Kenapa kau bertanya seperti itu? Tentu saja, sayang. Sejahat apapun orangtua, umma yakin pasti mereka mempunyai rasa sayang yang besar terhadap anak-anaknya.”
Mendengar ucapan umma, aku langsung berlari menuju kamarku dan meninggalkan umma begitu saja. Aku meraih ponselku kembali dan menulis pesan untuk Taecyeon “Keep smile, Ok Taecyeon ;) dibalik semua luka, aku yakin akan ada banyak kebahagiaan yang menunggumu. Pangeranku, FIGHTING!!”. Baru kali ini aku mau memanggilnya dengan kata “pangeranku”. Biasanya aku selalu risih mendengar dia mengucapkan itu. Dan entah kenapa, aku sangat tak mau melihatnya terluka. Aku takut jika aku harus kehilangan senyum di wajah cerianya itu.
Tak lama kemudian, dia membalas pesanku.
“Gomawo, puteriku ;) terimakasih untuk hari ini…”
Aku tersenyum lega membaca balasan pesan darinya. Jantungku, lagi-lagi berdegup kencang. Waeyo???
Esok harinya…
Bangun pagi sekali, aku langsung bersiap untuk menjalani keseharianku. Aku mandi, berdandan, dan juga menyiapkan jadwal untuk mata kuliahku. Pagi ini lebih dingin dari biasanya, atau mungkin karena aku bangun terlalu pagi? Tapi, aku segera menghangatkan tubuhku dengan meminum satu hot chocolate buatan ummaku. Walaupun masih pagi sekali, tapi umma sudah menyiapkan sarapan untukku. Dia selalu bangun jauh lebih awal dariku.
Sekitar pukul setengah tujuh, aku berangkat ke kampusku, diantar oleh Nichkhun. Yaa, pagi ini dia menjemputku lagi. Entah sampai kapan dia akan seperti ini. Tapi pagi ini tidak seperti biasanya, dia mengantarku lengkap bersama dengan supir dan manajernya. Mungkin setelah ini dia ada jadwal syuting. Setibanya di depan fakultasku, aku turun dari mobilnya dan berpamitan dengan semua orang yang ada di dalam mobil, tak lupa untuk mengucapkan terima kasih. Aku berjalan menuju ruang kelasku. Di depan kelasku, kulihat Taecyeon tengah berdiri dan seperti menunggu seseorang.
“Ok Taecyeon! Kau menungguku yaa?” godaku.
“Ya, tentu saja! Bagaimana tidak? Aku kan pangeranmu. Hahahahahahaa”
“Haish!”
“Mmmm… terimakasih ya untuk kemarin. Aku harap kau bisa menjaga rahasia.”
Dia menatapku serius. Dan ini membuat jantungku berdegup lagi. Kenapa? Kenapa selalu seperti ini disaat aku mengingat ataupun dekat dengannya?
“Ya! Ok Taecyeon! Kau mau main skateboard tidak? Kita bolos mata pelajaran pertama saja, bagaimana?” ujar seorang teman yang menghampirinya.
“Ya! Itu ide yang bagus. Aku juga sudah bosan melihat wajah dosen itu. Mukanya seperti ingin kucabik-cabik. Tapi, aku tak mau melihat kau menangis karena kalah bertanding denganku yaa… kajja! Jiyeon, sampai ketemu nanti yaa… MUAAHHH!! Hahahahahahaa” dia memajukan bibirnya tepat di depan wajahku, lalu meninggalkanku.
Aku terpaku. Dagdigdug… itulah yang kudengar dari detak jantungku.
“PARK JIYEON!!!” teriak seorang pria.
Aku tertegun dan langsung melihat sekelilingku, berusaha mencari siapa empu dari suara ini. Aku melihat ke arah manapun, tetapi aku tak dapat menemukan sosok yang meneriaki namaku tersebut. Dan tiba-tiba saja dosenku menepuk pundakku dan menyuruhku untuk segera masuk ke ruang kelas.
Sepanjang dosenku berbicara di depan kelas, pikiranku sama sekali tidak terfokus dan terus melayang entah kemana. Sesekali terlintas sedikit wajah Ok Taecyeon di anganku. Dan jika bayangan itu muncul, maka aku akan mengusirnya dan mencoba memfokuskan pikiranku. Tapi, percuma saja… bayangan itu terus saja muncul di anganku. Membuat jantungku berdegup kembali.
Usai mata kuliah hari ini, aku pulang sendiri. Nichkhun baru saja menghubungiku dan memberitahu bahwa dia sedang ada syuting. Sebenarnya, aku juga tidak berharap dia akan menjemputku. Dia juga mengatakan bahwa nanti malam dia akan mengajakku makan malam.
“Jiyeon~ssi!” panggil seorang gadis yang sedikit berlari ke arahku.
Aku menoleh dan memperhatikan dengan benar siapa gadis itu. Dia, kekasih Wooyoung oppa. Aku lupa namanya. Entah apa yang menyambarku, melihat wajahnya badanku terasa lemas dan tidak bersemangat lagi. Tapi, untuk apa dia menghampiriku?
“Jiyeon~ssi, bisakah kita bicara sebentar?”
Sebenarnya di otakku sudah tertimbun banyak sekali pertanyaan mengapa dia menghampiriku, tapi aku menjawab pertanyaanya dengan sebuah anggukan kecil.
Dia mengajakku duduk di kursi taman yang letaknya tidak jauh dari fakultasku. Dia melihat ke arahku dengan wajah yang serius. Sepertinya ada yang tidak beres.
“Apa, Wooyoung masih sering menghubungimu?”
“Hahh? Tidak. Memangnya kenapa?”
Aku sedikit kaget mendengar pertanyaanya. Tak terlintas sedikitpun di pikiranku kalau dia akan menanyakan hal semacam ini.
“Sejak awal, Wooyoung selalu acuh terhadapku. Aku sudah berusaha untuk bersikap sangat baik terhadapnya, tapi dia tetap saja mengacuhkanku. Dia seringkali salah menyebut namaku dengan namamu. Sebenarnya, Wooyoung mau menjadi kekasihku hanya karena perintah dari orangtuanya. Kurasa, dia sama sekali tak menyukaiku.” Ujarnya sedikit bergeming.
“Maksudmu?”
“Apa kau masih mencintainya?”
Aku diam. Aku harus menjawab apa? Aku memang masih mencintainya, tapi tak mungkin kan aku mengatakan ini pada kekasihnya.
“YA! kau siapa? Kau tanya apa tadi? Jiyeon masih mencintainya? Maksudmu Jang Wooyoung? tentu saja tidak! Aku kan pangerannya Jiyeon, jelas saja Jiyeon mencintaiku, bukan Wooyoung hyung.” Sahut seorang pria yang tak lain adalah Taecyeon yang baru saja muncul dari balik pohon.
“Kau kekasih Jiyeon?”
“Ne. aku kekasihnya! Memangnya kenapa? Kau cemburu? Atau, jangan-jangan kau suka denganku! Hahahahahahaha… maafkan aku, aku lebih memilih Jiyeon daripada kau.”
“Kau ini bicara apa sih!” aku memukul tangan Taecyeon.
“Yasudah kalau begitu. Aku cukup lega mendengarmu sudah memiliki pengganti Chansung, jadi Wooyoung tak akan lagi mendekatimu. Aku pergi dulu yaa… maaf sudah menyita waktumu.” Dia pun pergi meninggalkan kami.
“Aku pulang dulu yaa… jangan merindukanku!” Taecyeon berlalu.
“YA! kau muncul hanya untuk mengatakan itu?”
“Setidaknya aku menyelamatkanmu, bukan? Memangnya apa lagi yang harus kuperbuat? Aku sudah tidak ada urusan denganmu! Hahahahahaha…” ujarnya sedikit berteriak karena jaraknya dan aku sudah cukup jauh.
Aku pun berjalan di sepanjang daerah kampusku. Aku hendak mencari bus yang biasanya melewati depan kampusku. Jadi, aku harus jalan cukup jauh. Tapi di tengah jalan, sebuah mobil berhenti tepat di sampingku. Mobil berwarna hitam yang dulu sering aku tumpangi. Pemilik dari mobil itu pun membuka kaca mobil dan menyapaku. Dia menyuruhku untuk pulang bersamanya. Tapi, jelas saja aku menolaknya. Baru saja kekasihnya menghampiriku, tak mungkin juga kalau sekarang aku harus satu mobil dengannya. Lagipula, aku takut kalau aku harus sesak nafas jika bersama dengannya. Jadi, aku memutuskan untuk melanjutkan perjalananku dan pulang ke rumah dengan naik bus.
Setibanya di rumah, aku membanting tubuhku di atas kasur dan memainkan ponselku. Kulihat sekelilingku, Eunjung devil tidak ada di sini. Aku pun merasa lebih leluasa untuk melakukan apa yang ingin aku lakukan. Aku menyalakan music dari ponselku dan bernyanyi-nyanyi sambil menata-nata kamarku. Sudah lama aku tidak merapikan kamar ini. Selama ini aku selalu di sibukkan dengan kegiatan kampusku. Aku merapikan kamar hingga jam menunjukkan angka 6. Aku bergegas ke kamar mandi dan merapikan diri. Aku masih ingat kalau aku ada janji dengan Nichkhun. Ummaku hari ini pulang malam, jadi aku rasa kalau aku di rumah, aku juga akan merasa sangat kesepian.
Aku keluar dari kamar mandi dan duduk di depan meja rias. Seperti biasa, aku mendandani diriku dengan make-up seadanya. Tapi yang tidak biasa adalah aku memakai baju semi gaun yang panjangnya cukup menutup lututku. Aku juga membiarkan rambutku yang panjang ini terurai. Dan tak lupa memakai sepatu hitam dengan tali yang melilit kakiku. Aku menunggu Nichkhun di ruang keluarga sembari menonton TV. Acara TV sekarang ini hanya dipenuhi dengan drama dan serial. Inilah yang membuatku terkadang malas untuk menonton TV.
Sekitar 10 menit aku menunggu, dia sudah tiba di depan rumahku. Aku langsung saja keluar dan mengunci pintu rumah. Dia turun dari mobilnya dan menyapaku. Dia mengenakan kemeja kotak-kotak biru dengan celana jeans panjang. Dia membukakan pintu mobil untukku masuk. Usai menutup pintu mobil, dia berlari ke pintu yang lain dan duduk di sebelahku.
Nichkhun mengajakku ke sebuah restoran yang sangat besar. Orang bilang, satu porsi makanan di restoran ini sama dengan harga kaos di butik-butik. Tapi entahlah, aku juga baru kali pertama ini masuk ke restoran ini. Seorang pelayan menunjukkan pada kami sebuah meja yang terletak di taman belakang. Meja yang hanya untuk 2 orang itu sudah di hias berbeda dengan meja yang lain. Di tambah lagi dengan sebuah lilin yang cukup besar yang berdiri kokoh di tengahnya.
Nichkhun langsung saja memesan berbagai makanan tanpa menanyakannya terlebih dahulu kepadaku. Sembari menunggu pesanan, aku dan dia bercakap-cakap sedikit. Ketika pelayan mengantarkan minuman yang telah di pesan, aku meneguknya perlahan. Nichkhun menatapku dengan senyum yang sangat mempesona, tapi sayang aku tidak begitu terpesona melihatnya. Aku hanya bertanya-tanya pada diriku sendiri kenapa dia seperti ini? Tak lama kemudian, tangannya yang bersih dan terlihat kuat itu meraih tanganku dan menggenggamnya. Awalnya aku berusaha untuk mengalihkan perhatiannya agar melepaskan genggamannya, tapi tak sedikitpun usahaku berhasil.
“Jiyeon~ah…”
“Ne?” mungkin saat ini wajahku terlihat sangat aneh. Bagaimana tidak? Tingkahnya saja membuatku sedikit ketakutan.
“Kau berbeda dengan gadis yang lain. Aku, entah sejak kapan aku merasakan ini. tapi… aku menyukaimu. Kau mau menjadi kekasihku?”
Praannkkk!!!
: Please give a comment. Because, your comment can make me much better :
THANK YOU :)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar