Tittle : Love’s Target
Eps. : 3
Genre : Romance
Friendship
Cast : Park Jiyeon
Jang Wooyoung
Nichkhun Horvejkul
Ok Taecyeon
Hwang Chansung
Ham Eunjung
Hyun SunYoo *numpang nampang*
(cast yang lainnya nyusul XD)
“Berita mengejutkan datang dari salah seorang actor tampan, Nichkhun Horvejkul. Parasnya yang tampan, tidak membuatnya selalu dinaungi keberuntungan. Kedatangannya kembali ke Korea membuahkan suatu musibah bagi seorang gadis bernama Park Jiyeon yang dikabarkan saat ini berada di Rumah Sakit Seoul untuk mendapatkan pengobatan atas luka-luka disekujur tubuhnya yang disebabkan oleh kecelakaan yang terjadi siang tadi. Saksi mata mengatakan bahwa mobil yang ditumpangi Nichkhun~ssi menabrak gadis tersebut. Berikut kita saksikan liputan atas kejadian tersebut.”
Nichkhun POV
Aku sekarang sudah berada di kawasan Rumah Sakit Seoul. Jalanku terhalang dengan serbuan para wartawan yang sibuk melontarkan berbagai pertanyaan. Cahaya kamera yang tepat menyorot wajahku juga sedikit membuat pandanganku terganggu. Para petugas berusaha untuk mengamankan suasana dan mencegah para wartawan untuk masuk ke dalam Rumah Sakit.
“Saya meminta maaf kepada gadis bernama Park Jiyeon beserta keluarga. Saya berjanji akan membiayai semua pengobatan yang dijalani Park Jiyeon~ssi. Dan saya akan meminta maaf secara langsung kepada Park Jiyeon~ssi beserta keluarga.” hanya ini kata-kata yang dapat aku ucapkan sebelum memasuki Rumah Sakit dan meninggalkan para wartawan.
Aku bersama manajerku menuju lantai 3 untuk mengunjungi gadis bernama Park Jiyeon itu. Aku tidak menyangka hal seperti ini terjadi padaku. Ini bukan salahku, tapi ini salah supir yang mengendarai mobil tanpa hati-hati. Sebenarnya, jika aku harus membiayai semua pengobatan gadis ini, yang ada aku hanya akan rugi. Menanggung sesuatu yang bukan kesalahanku. Tapi, demi memperbaiki imageku di khalayak ramai, aku akan melakukannya.
Aku dan manajerku masuk ke ruangan nomor 145 . Ruang di mana gadis itu dirawat. Dia masih terbaring di atas ranjang dengan tubuhnya yang masih tertutup dengan selimut berwarna biru. Aku memperhatikan dengan benar wajah gadis itu. Dia lumayan cantik, setidaknya tak begitu rugi aku berurusan dengannya. Mungkin setelah ini semua berakhir, aku bisa mempermainkan perasaannya, anggap saja balas budinya terhadap biaya yang aku keluarkan. Aku duduk di samping ranjangnya dengan wajah yang sedikit lelah. Jelas saja! Baru tadi siang aku tiba di Korea, aku sudah harus bermasalah seperti ini.
Krrkkk~
Suara besi dari ranjang yang berbunyi pelan membuatku langsung memasang wajah cemas. Berharap gadis ini mengira aku benar-benar menyesal. Dia membuka matanya perlahan.
“Gwenchana?” tanyaku.
Mendengar suaraku, dia langsung membulatkan matanya dan terlihat raut wajah tak percaya.
“Oppa?”
“Gwenchana?”
“Ne.. Waeyo? Oediga?”
“Jeseonghamnida. Mobilku tak sengaja menabrakmu. Kau sekarang berada di Rumah Sakit Seoul. Manajerku sudah berusaha menghubungi keluargamu.”
Gadis itu hanya bisa diam tanpa sepatah katapun sembari terus menatapku. Yah~ aku tau, semua gadis akan seperti ini ketika melihatku.
Kami sempat diam beberapa saat. Manajerku juga sudah meninggalkan ruangan ini. Jadi, hanya ada kami berdua. Gadis itu terlihat sedikit gugup berada dalam ruangan yang hanya ada aku dan dia. Tapi, wajah polosnya itu membuatku juga sedikit gugup.
“Boleh minta nomor ponselmu?”
“Hahh? Kau? Ahh~ ne...”
“Mmm... Hanya saja kalau kau membutuhkanku.”
Sebenarnya, aku meminta nomor ponselnya agar aku bisa melancarkan rencanaku.
Jiyeon POV
Aroma obat-obatan sudah tercium di hidungku sejak aku membuka kedua mataku. Aku tak tau jelasnya mengapa aku berada di sini. Terakhir kali yang aku ingat hanyalah aku sedang menyebrang di bandara Incheon dan sebuah mobil mendekat ke arahku, dan sekarang aku sudah berada di sini. Tapi yang lebih mengejutkan adalah seorang actor tampan idolaku sekarang berada di samping tempatku berbaring. Dia bilang, mobilnyalah yang telah menyebabkan aku berbaring di rumah sakit seperti ini. Tapi, rasa sakit pada luka-lukaku tidak terlalu sakit karena semuanya sudah terbayar dengan kehadiran Nichkhun~ssi di sampingku. Aku terus memandangnya, dia sangat tampan dilihat dari jarak dekat seperti ini. Walaupun dia terlihat tenang dan dingin, tapi raut wajahnya tidak bisa membohongi kalau dia sangat menyesal.
Tak lama kemudian, manajernya masuk ke ruanganku bersama dengan ummaku yang membawa bungkusan di tangan kanannya. Umma terlihat sangat kaget ketika melihat Nichkhun duduk di sebelah kasurku. Nichkhun pun bangkit dari duduknya dan menyambut kehadiran ummaku. Dia sempat bercakap sebentar dengan ummaku, lalu meninggalkan kami. Mungkin dia ingin memberikan waktu untukku dan umma.
Umma menghampiriku dan terlihat sangat khawatir dengan kondisiku. Luka di tubuhku memang tidak terlalu banyak, tapi luka di kaki kananku cukup hebat, sehingga membuatku sedikit sulit untuk menggerakkan kaki kananku.
“Gwenchana? Maafkan umma. Kalau saja tadi umma menunggumu sampai urusanmu selesai, mungkin kau tidak akan seperti ini.”
“Ani~, umma. Ini salahku yang tidak hati-hati saat berjalan.”
“Ini umma bawakan kue kesukaanmu.”
Umma meletakkan bungkusan tadi di meja yang terletak di sebelah kasurku, dia mengambil sebungkus kue dan menyuapkannya kepadaku.
Belum usai aku memakan kue dari umma, seseorang membuka pintu kamarku. Seorang lelaki dengan raut wajah antara takut dan khawatir, dengan membawa satu paket buah.
“Anyeonghaseo…”
Aku dan umma sontak kaget melihat kehadirannya. Dia meletakan paket buah itu di meja yang berada di depan TV, kemudian berjalan pelan ke arah kasur dengan kepalanya yang sedikit di tenggelamkan. Aku, umma, dan dia saat ini sedang dalam keadaan yang canggung. Umma juga tidak biasanya seperti ini, biasanya dia selalu bersikap hangat pada siapapun. Mungkin karena tak tau apa yang harus dikatakan.
Tangan kiri lelaki itu menggenggam tangan yang lainnya.
“Hhh…” terdengar pelan suaranya menghembuskan nafas.
“Gwenchana… Jiyeon~ah?” ucapannya sedikit terbata-bata.
“Ne. Gomawo.”
Dia hanya mengangguk.
“Duduklah.” ujarku.
Dia menarik kursi di belakangnya dengan lembut tanpa menimbulkan suara sedikitpun.
“Wooyoung, kau tau dari mana kalau Jiyeon berada di rumah sakit ini?” Tanya ummaku.
“Hahh? Ah, aku… mmm, melihat dari berita.”
“Ini semua masuk berita? Padahal kan hanya kecelakaan kecil. Tapi, bukankah kau masih ada jadwal kuliah? Darimana kau melihat berita?”
Sorot matanya terlihat sedikit ketakutan dan sikapnya sedikit panik.
“Mmm… temanku yang bolos kuliah, memberitahuku.”
“Ahh~ tapi sekarang jadwal kuliahmu sudah selesai, kan?”
Dia mengangguk lagi.
Setelah cukup lama terdiam dalam keadaan yang canggung, ponsel ummaku memecahkan suasana. Dia mengangkat ponselnya. Sepertinya, atasan ummaku sudah menyuruhnya untuk kembali ke kantor. Sebenarnya ummaku masih ada pekerjaan, tapi dia meminta waktu sebentar untuk mengunjungiku. Usai menerima telephone, umma mencium keningku dan berpamitan denganku dan Wooyoung oppa. Sekarang keadaan menjadi semakin canggung karena hanya ada aku dan dia. Wooyoung oppa masih diam di kursinya, dia masih sedikit menenggelamkan kepalanya. Sedangkan aku hanya menatap sekeliling kamar dan otakku berusaha berpikir untuk membuat topik pembicaraan. Tapi belum sempat aku berpikir, dia sudah mulai membuka pembicaraan.
“Chansung sudah berangkat ke Inggris?”
“Sudah. Darimana kau tau?”
“Jelas saja, dia kan popular. Berita tentangnya pasti langsung tersebar. Lalu, bagaimana dengan hubungan kalian?”
“Hahh? Sudah berakhir.”
Krek~
Nichkhun membuka pintu kamar dan masuk. Dia melihat ke arah Wooyoung dengan pandangan yang tidak mengenakkan.
“Kekasihmu?”
“Animida.” ujarku dan Wooyoung oppa bersamaan.
Nichkhun tersenyum kecut ke arah Wooyoung, entah apa yang sebenarnya terjadi.
“Jiyeon~ssi, kau mau pulang kapan? Dokter bilang, kau sudah boleh pulang, karena lukamu sudah diobati, dan mungkin 3-4 hari lagi lukamu sudah kering. Hanya saja kau harus sangat berhati-hati dan mengurangi aktifitasmu. Tapi, kalau kau mau pulang 3-4 hari lagi juga tak apa. Bagaimana?”
“Hmm… sekarang saja, karena besok aku ada mata kuliah. Tapi tunggu ummaku dulu, karena aku tak membawa uang untuk membayar pengobatannya.”
“Biar aku saja yang lunasi semuanya.” ujar Wooyoung oppa bangkit dari duduknya.
“Animida.. aku yang bertanggungjawab.” cegah Nichkhun.
Nichkhun meninggalkan ruangan. Wooyoung oppa membereskan semua barangku. Aku berusaha bangkit dari tempatku berbaring, tetapi aku tak bisa dan hampir saja terjatuh.
“Kau tidak usah membantu, lihat lukamu. Duduk saja di sini.” Ujar Wooyoung oppa membantuku untuk duduk.
“Mianhae… Gomawo.”
Aku tak berani menatap matanya, mendengar suaranya yang terdengar jelas di telingaku saja membuat dadaku sakit. Sudah berkali-kali aku berusaha untuk melupakannya, tapi dia selalu saja hadir di kehidupanku. Itu membuatku semakin sulit melupakannya.
Dia membereskan semuanya, dan tak lama kemudian Nichkhun bersama dengan seorang perawat memasuki ruanganku. Nichkhun dan perawat itu membantuku berdiri dan membantuku duduk di atas kursi roda. Wooyoung oppa membawa semua barang-barangku. Kami menuju basement. Aku tak tau aku akan pulang bersama siapa. Nichkhun tak mungkin mau mengantarku pulang, sedangkan aku juga tak mungkin bersama Wooyoung oppa.
“Dia biar aku antar ke rumahnya.” Ujar Wooyoung oppa.
“Oppa…”
“Animida. Sudah kubilang, aku bertanggungjawab terhadapnya.” Balas Nichkhun
“Tapi kau tak tau dimana rumahnya.”
“Bukankah ada dia, jadi apa yang harus dikhawatirkan? Dan… jeseonghamnida, kau bukan kekasihnya, kan? Mengapa kau menyuruh orang untuk membuntutinya? Maaf, kalau kau merasa terusik dengan pertanyaanku.”
Aku tak mengerti dengan apa yang kudengar saat ini, tapi aku membulatkan kedua mataku dan menatap ke arah Wooyoung oppa yang terlihat sangat panik.
“Nichkhun~ssi, apa maksudmu?” tanyaku.
“Jeseonghamnida.. aku tak mengerti banyak. Aku hanya tak sengaja memergokinya. Jeseonghamnida…” Jawab Nichkhun.
“Mianhae, Jiyeon~ah…” ujar Wooyoung oppa yang mengangkat sedikit kepalanya dan menatapku dengan tatapan penuh penyesalan.
“Wae, oppa?”
“Aku menyuruh orang untuk mengikutimu. Tapi sungguh, aku menyuruhnya untuk menjagamu, bukan untuk menyakitimu. Jika dia menyakitimu, kau bisa laporkan padaku.”
“Oppa… apa kau pikir aku terlalu lemah untuk menjaga diriku sendiri. Dan, untuk apa kau menyuruh orang untuk menjagaku? Itu tak ada untung ruginya bagimu, bukan?”
Dia kembali menundukkan kepalanya.
Kami menunggu jawaban darinya cukup lama. Langsung saja Nichkhun membawaku ke dalam mobilnya dan manajernya membantuku mengambil barang-barangku dari tangan Wooyoung oppa. Nichkhun beserta manajernya membungkuk 45derajat kepada Wooyoung oppa. Mobil Nichkhun pun langsung meninggalkan Wooyoung oppa yang masih berdiri dengan kepala tertunduk.
Di dalam mobil Nichkhun, aku hanya diam. Di mobil ini, ada 3 pria yang tidak aku kenal. Nichkhun, manajernya, dan supirnya. Cukup menakutkan jika berada dalam satu mobil dengan beberapa orang pria yang tidak kukenal, tapi Nichkhun adalah seorang public figure, jadi aku yakin dia tak akan berbuat suatu yang buruk. Kulihat di sebelahku, Nichkhun sedang asyik bermain dengan ponselnya. Terkadang dia sekejap melihat kondisiku. Entah apa yang tadi malam aku mimpikan, aku bisa satu mobil dengan idolaku.
Drttt~
Ponselku bergetar, satu panggilan dari nomor tak dikenal. Aku hanya menatap ponselku dan bertanya-tanya pada diriku sendiri.
“Itu nomor ponselku, simpan yaa…” ujar Nichkhun tersenyum padaku.
Omoo~ dan sekarang aku mendapatkan nomor ponselnya! Tapi, apa yang harus aku perbuat dengan nomor ponselnya?
3 hari kemudian…
Sejak hari itu, Nichkhun seringkali menghubungiku ataupun mengirim pesan padaku. Sedikit terasa kejanggalan dari sikapnya. Bahkan dia memintaku untuk memangilnya dengan sebutan “oppa”. Apalagi, sejak 3 hari yang lalu, dia selalu mengantar jemputku ke kampus. Semua orang di kampusku terkadang juga berebut untuk datang lebih awal agar bisa melihat Nichkhun menginjakkan kakinya di kampus kami. Devil Eunjung mencegahku untuk terlalu dekat dengan Nichkhun. Aneh sekali, dia tidak biasanya melarangku berhubungan dengan seseorang. Apa kali ini dia benar-benar ingin menghancurkanku?
Pagi ini, luka di kakiku sudah jauh lebih baik. Aku juga sudah mulai terbiasa berjalan. Mungkin karena akhir-akhir ini aku sibuk dengan kegiatan organisasi di kampusku yang tengah sibuk untuk mempersiapkan karnaval akhir semester yang akan dilaksanakan 2 minggu lagi. Aku tergabung dalam susunan panitia acara tersebut. Setiap hari aku bersama dengan Ok Taecyeon berusaha mencari bintang tamu yang akan mengisi acara tersebut. Walaupun kebanyakan pengisi acara adalah mahasiswa dan mahasiswa dari kampus kami, tapi kami juga ingin menampilkan sesuatu yang berbeda dengan mendatangkan seorang mystery guest.
Hello~ Hello~ Hello~
Suara ponselku menghentikan kegiatanku yang sedang asyik memoles diri di depan cermin.
“Yeobeoseyo?”
“Jiyeon~ah, tunggu di depan rumah yaa… pangeran yang tampan ini akan menjemputmu, wahai puteriku. Hahaahhahahaaa…”
“Haish! Waeyo?”
“Aku sudah mengijinkan pada dosenmu kalau hari ini kau tidak dapat mengikuti pelajarannya. Kau dan aku akan berkencan untuk hari ini.”
“YA!”
“Tidak, tidak. Aku juga tak mau berkencan denganmu. Kita akan mencari dan mendatangi mystery guestnya.”
Baiklah~ berarti hari ini aku tidak perlu membawa perlengkapan untuk kuliah. Hanya butuh tas kecil yang berisikan dompet dan ponsel saja.
Aku mengenakan celana jeans panjang dan kaos lengan panjang berwarna merah. Tak lupa juga sepatu sneaker putih dengan corak warna-warni. Dan menyisir rambutku yang terurai panjang. Aku keluar dari kamarku dan menuju meja makan. Ummaku sudah duduk di sana dan menyiapkan roti bakar berisi selai cokelat untukku. Dia juga sudah menyiapkan segelas susu putih. Aku mencium pipinya dan langsung duduk di sampingnya. Umma menaruh roti bakar yang sudah ia buat di piringku. Aku meraih garpu dan pisau di samping kanan dan kiri piringku. Melahap sedikit demi sedikit roti itu sembari berbincang dengan umma. Usai menghabiskan rotiku, tak lupa aku meneguk segelas susu yang telah di buatkan umma.
Ketika sedang berbincang dengan ummaku, terdengar suara mobil dari depan rumahku.
“Taecyeon membawa mobil? Tidak biasanya…” gumamku sembari menuju depan rumah.
Ternyata dugaanku salah! Pria yang akhir-akhir ini mengantar jemputku datang lagi. Otteohkae? Aku sudah janji dengan Taecyeon.
“Oppa?”
“Ayo, cepat berangkat. Nanti kau terlambat. Bagaimana dengan lukamu? Sudah baikkah?” ujarnya sembari turun dari mobilnya dan berjalan ke arahku.
“Ne. oppa, mianhae… aku hari ini tidak berangkat kuliah, aku ada janji dengan temanku.”
“Baiklah. kuantar kau kemanapun kau akan pergi. Hehehehe…”
“Ani~” ucapanku terpotong karena suara mobil lain yang juga berhenti di depan rumahku.
Sosok lelaki itu muncul lagi. Yaa Tuhan, apa yang harus aku perbuat. Dia berjalan menghampiri aku dan Nichkhun.
“Anyeonghaseo… Kau tidak berangkat kuliah? Kebetulan tadi aku mengantar roti untuk pamanku. Rumahnya di dekat sini, jadi aku berniat untuk mengajakmu berangkat bersama. Dan… aku minta maaf soal kejadian kemarin. Aku memang salah, tak seharusnya aku menyuruh orang untuk membuntutimu. Nichkhun~ssi, terima kasih sudah mengingatkanku.”
“Ne, gwenchana. Aku sudah memaafkanmu. Dan terima kasih juga atas tawaranmu mengajakku berangkat bersama, tapi aku tidak berangkat kuliah. Aku ada janji dengan Ok Taecyeon. Mianhae…”
“Ok Taecyeon? Ahh… pasti tentang karnaval, bukan?”
“Jiyeon~ah! Aku lelah sekali.” Ujar Taecyeon yang tiba-tiba muncul dengan berjalan kaki.
“Ya! kemana motormu? Kau jalan kaki?”
“Motorku ada di bengkel. Jadi, aku ke sini naik bus. Jadi, jadwal kita hari ini semuanya dilaksanakan dengan naik kendaraan umum. Hahahahahahahahaa… mianhae. Wah, kau beruntung sekali Jiyeon. Kenapa ada dua pria di dekatmu? Hati-hati! Bisa-bisa kau tidak suci lagi. Ahahahahahaa… eh, bukankah ini Nichkhun actor yang terkenal itu? Mimpi apa aku tadi malam, bisa bertemu dengannya. Wah, Jiyeon foto aku bersamanya.” Ujarnya penuh semangat sambil memberikan ponselnya.
“YA! kau ini norak sekali!!” ujarku memukul pundaknya.
“Diam kau! Cepat foto aku dengannya!”
Akhirnya dengan terpaksa aku memotretnya bersama Nichkhun.
“Eh, ada hyung juga? Ciyeeh~ jangan-jangan kalian CLBK yaa? Aduh, lalu bagaimana denganku. Aku kan pangerannya Jiyeon…”
“DIAM KAU!!!” aku menutup mulut Taecyeon.
“Ya sudah, aku berangkat ke kampus dulu. Anyeonghaseo…” Wooyoung oppa meninggalkan kami.
“Ne. Hati-hati di jalan, hyung… tenang saja, Jiyeon pasti aman bersamaku! Eh, Jiyeon ayo berangkat sekarang. Nichkhun hyung mau ikut bersama kami? Tapi, bolehkan kalau aku numpang di mobil hyung?” ujar Taecyeon sambil merayu-rayu Nichkhun.
“OK TAECYEON!!”
“Wae??”
“Kau ini membuat reputasiku jatuh! Cepat kita berangkat sekarang. Umma, aku berangkat dulu. Nichkhun oppa, mianhae yaa… Kajja!” ujarku sambil menarik tangan Taecyeon yang masih melihat ke arah Nichkhun.
“Pergi saja denganku. Aku siap mengantar kalian ke manapun. Lagipula hari ini aku sedang tidak ada jadwal.” Nichkhun berusaha menahan kepergian kami.
“Jinca? Hyung kau baik sekali! Jiyeon, kita numpang saja. Gratis, nyaman, berAC lagi… KAJJA!”
Akhirnya dengan muka yang kusut aku masuk ke dalam mobil Nichkhun. Hari ini dia mengendarai mobilnya sendiri. Aku duduk di samping Nichkhun, sedangkan Taecyeon duduk di bangku belakang. Sejak masuk ke dalam mobil sampai detik ini, dia masih berteriak mengulang-ngulang kata “Aku ada di mobil Nichkhun Horvejkul. Aku pasti akan menceritakan ini pada semua orang.”
Nichkhun POV
Haish! Lelaki ini berisik sekali! Norak! Memangnya dia tidak pernah apa naik mobil mahal seperti ini? Kalau saja bukan demi Jiyeon si wanita yang tidak terlalu kaya ini, aku sudah menendangnya dari mobilku. Tapi aku harus tetap sabar, selangkah lagi pasti aku akan berhasil mendapatkan hati Jiyeon. Dengan begitu, imageku di depan public akan baik. Mereka akan mengira bahwa aku orang yang sederhana dan tidak memandang rendah orang seperti Jiyeon. Dan jika aku sudah cukup bisa meyakinkan public, maka aku akan kembali mendekati Hyun SunYoo, aktris cantik dan sangat kaya yang sudah aku incar selama ini *Reader : “apa’an nih? authornya curang!” Author : “suka-suka author doonk…”*. Aku juga yakin, SunYoo pasti akan memandangku sebagai actor yang baik dan tidak sombong. Dengan begitu, aku akan dengan mudah mendapatkan hatinya. Nice idea!!!
“Hyung!!” teriak mahkluk norak ini di dalam mobilku.
“Wae?” aku berusaha sok manis di depan Jiyeon. Untung saja aku ini seorang actor, jadi aktingku sangat hebat.
“Setelah aku berpikir cukup dalam, kenapa aku terlalu bodoh yaa? Daripada aku susah-susah mencari mystery guest, bagaimana kalau hyung saja yang menjadi mystery guest?”
Menjadi mystery guest di acara kampungan seperti itu? Hmmm… aku yakin mereka tak akan mampu membayarku, tapi dipikir-pikir, ini melancarkan rencanaku.
“Jinca? Aku merasa sangat terhormat bisa menjadi mystery guest di acara itu. Baiklah…”
“Jinca? Aaaa~ akhirnya kita mendapatkan mystery guest.” Teriak Jiyeon dan lelaki norak itu bersamaan. Aku hanya membalasnya dengan killer smile yang aku punya.
Aku mengantarkan 2 orang bodoh ini menuju sebuah pusat perbelanjaan di tengah kota Seoul. Mereka meninggalkanku di dalam mobil dan pergi berdua untuk mencari perlengkapan yang mereka butuhkan. Hari ini aku seperti supir bagi mereka. Aku mengantar mereka ke tempat yang mereka tuju, dan aku di tinggalkan begitu saja. Dasar tak tau diri! Akhirnya aku juga meninggalkan mobil dan mengunjungi sebuah café sembari memesan secangkir kopi. Orang-orang di sekelilingku mengamatiku dengan seksama. Mereka seakan tak mau berkedip demi untuk melihatku.
Now put your hands up! Put your hands up!~
Suara ponselku membuat sekelilingku semakin memeperhatikanku. Tapi aku hanya tersenyum pada mereka dan meninggalkan café. Aku mencari tempat yang aman untuk mengangkat telephone.
“Wae?” tanyaku pada manajer yang menghubungiku.
“Nichkhun, kau kenapa tidak datang ke lokasi syuting? Kau di mana?”
“Aku malas! Aku sedang jalan-jalan.”
“Cepat kembali ke sini, kau harus datang sekarang juga! Sutradara sudah mulai marah-marah.”
“Ya sudah! Pecat saja aku, aku juga tak rugi jika tak menjadi cast dalam drama itu. Masih banyak drama yang membutuhkanku.”
“Nichkhun!”
“Wae? Kau mau memarahiku? Kau mau aku pecat sebagai menajerku juga? Diam kau!! Kau tak berhak mengatur-ngaturku! Kau hanya menajerku! Kau harusnya berterimakasih padaku! Keluargamu tak akan bisa hidup jika aku tidak mempekerjakanmu sebagai manajerku.”
“Oppa…”
Aku membalik badanku dan kulihat Jiyeon telah berdiri di belakangku dengan wajah yang sedikit ditekuk. Apa dia mendengar semua yang aku katakan?
: Please give a comment. Because, your comment can make me much better :
THANK YOU :)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar