Sabtu, 19 April 2014

Idol's Scandal with Love & Friendship III

Title        : Idol’s Scandal with Love & Friendship
Cast         : Xi Lu Han
                Ryu Hyoyoung
                Yoo Seung Ho
                Park Shin Hye
                Kim Myung Soo
                Park Jiyeon
Genre       : Romance
                Friendship
Chapter     : 3 of 3


NO SILENT READER :D


Chapter sebelumnya
Kulihat laki-laki yg saat ini terbaring di tempat tidur dengan lilitan perban di kepalanya, serta beberapa perban dibagian tangan dan kakinya. Hyoyoung dengan wajahnya yg berusaha tetap tenang menggenggam erat tangan laki-laki tak berdaya ini, Jiyeon dengan sapu tangan di wajahnya berkali-kali mencoba menghapus air matanya.”

Luhan POV

Braakk!!
Suara pintu yg dibanting memecah keheningan. Kim Myung Soo yg nampak lelah setelah berlari langsung menuju kasur untuk melihat laki-laki ini, Yoo Seung Ho. Dari apa yg kudengar, Seung Ho mengalami kecelakaan sekitar pukul 10:00pm. Kemarin Seung Ho berada di rumah Hyoyoung hingga pukul 09:45pm. Ia ditabrak oleh mobil yg pengendaranya sedang mabuk, dan ia langsung tersungkur ke tanah. Luka di kepalanya disebabkan kerasnya benturan saat ia terjatuh di tanah. Syukurlah hasil dokter mengatakan bahwa ia akan segera sadar, akan tetapi ia akan mengalami pusing yg hebat. Kami menunggu Seung Ho terbangun dalam keadaan yg sunyi. Myung Soo keluar dari ruangan dan kulihat ia duduk di kursi panjang yg berada di koridor. Belum sempat aku menghampirinya, melihat wajahku, ia pergi entah kemana. Aku pun memutuskan untuk pergi ke kantin rumah sakit dan membelikan makanan untuk semua. Tanganku penuh dengan makanan, karena kupikir tiga wanita itu sudah sangat lapar karena berjaga sejak tadi malam, terutama Hyoyoung.

Aku masuk ruangan menyuruh mereka untuk makan dan tetap memperhatikan kesehatan masing-masing. Shin Hye tanpa semangat mengambil semangkuk bubur. Berbeda dengan Hyoyoung dan Jiyeon yg tak bergerak dari tempat mereka. Akhirnya aku yg menggerakan dua mangkuk bubur ini pada mereka. Usahaku tidak berhasil karena memperoleh tolakan dari keduanya. Tanpa melakukan paksaan, aku meninggalkan ruangan dan duduk di kursi yg tadi sempat dipakai Myung Soo. Tak lama, Hyoyoung keluar dan duduk disampingku. Aku menegakkan kembali posisi dudukku.
"Oppa tak ada jadwal hari ini?" tanyanya tanpa ada energi sedikitpun.
"Aku sudah ijin dengan manajer untuk tidak melakukan latihan hari ini. Hyoyoung, kurasa kau harus makan, kau sangat pucat."
"Aku baik-baik saja."
"Bagaimana bisa baik-baik saja? Mau kuambilkan bubur?"

Saat aku hendak berdiri, Hyoyoung menarikku untuk duduk kembali. Ia menyandarkan kepalanya pada bahuku. Saat ini, kudengar isak tangis darinya, namun dengan posisi seperti ini aku tidak dapat melihat ke wajahnya.
"Hyoyoung~ah." tak ada respon darinya.
Aku meraih tangannya yg ia pangku sedari tadi. Aku tak pernah melihat dan mendengar Hyoyoung menangis seperti ini. Saat kucoba menenangkan Hyoyoung, Myung Soo yg hendak masuk ke dalam ruangan pun memperhatikan kami dengan tatapan matanya yg tajam dan menghentikan langkahnya sejenak sebelum melanjutkannya lagi.

Tak lama setelah Myung Soo masuk, seorang pria dan wanita separuh baya dengan pakaiannya yg elegan menghampiri kami. Hyoyoung bangkit dari duduknya dan wanita itu langsung memeluknya.
"Tidak apa-apa, Hyoyoung. Ini bukan salahmu, dokter sudah mengatakan bahwa Seung Ho akan baik-baik saja, kan? Jangan buang air matamu, Seung Ho pasti tak mau melihatmu seperti ini." ujar wanita itu, dan pria disampingnya pun menepuk pelan punggungku. Aku hanya membalasnya dengan senyum.
"Maafkan aku, omonim." balas Hyoyoung.
Wanita itu memegang wajah Hyoyoung yg menghapus air matanya. Tapi, omonim?

Mereka bertiga pun masuk ke dalam ruangan dan langsung melihat kondisi Seung Ho. Setelah beberapa waktu, Shin Hye mengatakan bahwa mereka adalah orangtua Seung Ho. Sedekat itukah hubungan Hyoyoung dan Seung Ho, hingga Hyoyoung memanggilnya "omonim"?

Sekitar satu jam kami berada diruangan ini dalam suasana hening, hanya beberapa pertanyaan singkat yg dilontarkan Seung Ho appa pada kami semua. Ia mengetahuiku dan Shin Hye melalui televisi, ia juga mengatakan beberapa kali bertemu denganku di SMEnt’s building. Namun, wajah Jiyeon dan Myung Soo adalah baru bagi orangtua Seung Ho. Orangtua Seung Ho baru penerbangan pertama tadi pagi dari Jepang setelah mendengar kabar dari Hyoyoung.

Seung Ho umma membuka matanya lebar-lebar dan melihat kearah kami semua untuk memberikan tanda bahwa Seung Ho tersadar.
"Umma" rintih Seung Ho.
Ummanya hanya tersenyum senang dengan mata yg berkaca-kaca.
"Appa, umma. Aku bermimpi kalian mencariku dan meneriakan namaku." lanjut Seung Ho dengan senyum yg berat.
Kami semua mulai mendekat pada ranjang, namun tetap memberi jarak untuknya bernafas. Kulihat Jiyeon tersenyum lega, Myung Soo tetap dengan wajah tenangnya, Shin Hye melihatkan deretan giginya pada Seung Ho, dan Hyoyoung berusaha menghapus air matanya. Beberapa saat kami semua melempar pandangan pada Seung Ho, yg kutau dia sebisa mungkin menahan rasa sakitnya, sambil sesekali memegangi kepalanya.

"Hyoyoung! Kau mengkhawatirkanku, kan?" ia tersenyum simpul pada Hyoyoung dengan memberikan kedua tangannya seolah memanggil Hyoyoung untuk memeluknya. Hyoyoung yg tadi berada di belakang umma appanya pun berpindah posisi ke depan dan memeluk Seung Ho, lalu Seung Ho mengusap rambut Hyoyoung. Entah kenapa, aku sontak menjatuhkan kedua tanganku yg tadinya kulipat, mencoba membuang pandangan mataku dari mereka.
"Ya! Yoo Seung Ho, memang aku tak mengkhawatirkanmu?" Myung Soo menarik Hyoyoung dari pelukan Seung Ho.
"Aku juga! Aku menunggu semalaman disini. Mana pelukan untukku?" sahut Jiyeon.
"Ya! Kalian beri sedikit ruang untuk Seung Ho beristirahat dan berbicara dengan umma appanya. Cepat keluar!" Shin Hye menuntun kami semua keluar dari ruangan yg meninggalkan Seung Ho dan umma appanya di dalam.

"Kim Myung Soo, apa yg terjadi denganmu?" tanyaku selagi mendapat kesempatan berbicara dengannya.
Dia tak merespon bahkan tak menoleh sedikit pun. Semua mata ketiga wanita ini pun berlari ke arahku.
"Kim Myung Soo!" panggil Shin Hye.
"APA?! Bisakah kalian tak memanggil namaku sesuka kalian?"
"Lalu apa? Aku harus memanggilmu 'Hei'? Oh! Atau 'YA!'? Seperti itu? Tanpa nama." balas Shin Hye.
"Cukup, Shin Hye. Ini masalahku dengannya." aku mengambil alih.
"Ya Xi Luhan! Masalah antara kau dan Myung Soo pun menghambat kami semua. Kau lihat suasana yg kita hadapi sejak tadi, kalian hanya saling membuang pandangan. Apa kau pikir tak mengganggu yg lain? Kalau memang kau menganggap ini masalah pribadi kalian, bersikaplah biasa di depan orang lain. Itu sangat mengganggu!" Shin Hye duduk dan melipat kedua tangannya diikuti oleh Jiyeon dan Hyoyoung.

"Ryu Hyoyoung! Apa kau sudah terbiasa memeluk Seung Ho? Kau melakukannya tanpa rasa bersalah apapun." Myung Soo membuat suasana semakin panas.
"YA! Kim Myung Soo!" ujarku, Jiyeon, dan Shin Hye bersamaan.
Kulihat Hyoyoung menatap Myung Soo dengan wajah bingung dan mulutnya yg ia gerakan seakan mengunyah permen, lalu pergi begitu saja. Suasana semakin hening dan canggung. Aku pun memilih berpamitan pulang untuk membersihkan badan dan pikiranku. Shin Hye memintaku untuk mengantarnya juga, terlebih dia aja jadwal pada sore hari. Hyoyoung dan Jiyeon tetap tinggal di rumah sakit.



Hyoyoung POV

4 hari sudah Seung Ho berada di rumah sakit, hari ini dokter mengijinkannya untuk pulang, namun tetap harus memperhatikan kondisinya. Aku dan Jiyeon empat hari berturut-turut merawat Seung Ho, kami terpaksa ijin kuliah dan latihan. Aku mengemasi barang-barang Seung Ho dalam satu koper selagi Jiyeon mengurus administrasi. Orangtua Seung Ho sudah kembali ke Jepang kemarin siang. Seung Ho berkali-kali mencoba bangkit dari duduknya untuk membantuku, tapi aku berkali-kali pula mengingatkannya. Setelah semuanya beres, termasuk kunjungan dokter untuk yg terakhir, kami bertiga memilih untuk segera meninggalkan ruangan. Aku melingkarkan tangan kiriku di punggung Seung Ho dan dibalas dengan lingkaran tangannya di pundakku untuk membantunya berjalan, sedang tanganku yg lain menarik koper.

Diluar, Luhan dan Myung Soo dalam jarak yg lebar sudah menanti kami. Myung Soo menatap tajam ke arah kami dan Luhan hanya melempar senyum setengah bibirnya. Myung Soo berjalan cepat ke arah kami, menarikku dan menggantikan posisiku membantu Seung Ho berjalan. Luhan juga mengambil alih koper yg kubawa, jadi aku berjalan di belakang bersama Jiyeon. Jiyeon begitu peduli dengan Seung Ho, selalu berusaha untuk hadir disetiap kesulitan Seung Ho. Cara dia menangis saat Seung Ho belum sadarkan diri juga berbeda dengan cara menangis seorang teman. Saat ini pun dia tengah membukakan pintu mobil untuk Seung Ho masuk. Karena mobil yg dipakai oleh driver Seung Ho adalah mobil kecil, maka hanya aku dan Jiyeon yg bisa mengantarnya sampai rumah. Aku duduk di sebelah Seung Ho yg menyandarkan kepalanya yg masih sering terasa sakit. Jiyeon yg duduk di depan sesekali kulihat menatap ke kaca tengah untuk melihat kondisi Seung Ho.

Setibanya dirumah Seung Ho, kami membawa Seung Ho masuk ke ruang tengah. Beberapa ahjumma telah menyiapkan makanan untuk Seung Ho. Meja makan Seung Ho selalu dipenuhi makanan seperti ini, tak lupa dengan ttokpoki kesukaan Seung Ho. Ahjumma juga mempersilakanku dan Jiyeon makan bersama. Setelah makan kami pun memutuskan untuk memberikan waktu pada Seung Ho beristirahat.

"Hyoyoung, sebenarnya sedekat apa kau dan Seung Ho?" tanya Jiyeon ketika kami jalan berdua.
"Sangat dekat, aku sudah menceritakan kalau Seung Ho adalah temanku sejak kecil kan?"
"Aku mengerti. Tapi tak kupikir kalian sedekat itu, seperti sepasang kekasih. Haha"
"Kalau iya kenapa? Kau cemburu? Park Jiyeon, kau tak akan memendam ini terlalu lama, kan?" ledekku.
"YA! Ryu Hyoyoung!"
Aku tak mempedulikannya dan pergi meninggalkannya.

~~~~

Esok harinya aku pergi ke kampus dan berniat untuk mengendarai bus, karena ku yakin hari ini Seung Ho tak akan menghampiriku. Luhan juga tidak akan mendadak muncul dihadapanku karena ia akan ada off air di siang hari. Namun ketika aku menunggu bus, sebuah mobil sedan hitam berhenti di depanku. Di dalamnya seorang lelaki menggunakan kacamata hitam. Ia menurunkan kacanya.
"Ryu Hyoyoung! Ya aku memang sedang berbaik hati hari ini, cepat naik sebelum aku berubah pikiran." ujar lelaki itu.
"Tidak, Myung Soo oppa, aku akan merepotkanmu."
"Ya! Kau lebih merepotkanku jika tak segera masuk, karena kau akan menghabiskan tenagaku untuk menyeretmu."
Dia membuka kedua pupil matanya lebar-lebar. Aku pun menelan ludah sebelum masuk ke mobilnya.

Setibanya di kampus, ia ikut turun bersamaku dan mengikuti semua mata kuliah yg kudapat. Seusainya, ia membawaku ke suatu tempat dan mencoba mengendarai speedboat. Aku melihat sisi lembut Myung Soo hari ini. Mulai saat di mobil ia memasangkan sabuk pengamanku ketika aku lupa memakainya, membantuku naik ke speedboat dengan mengulurkan tangannya, menggenggam tanganku serta berteriak kepada pengendara untuk menghentikkan speednya saat melihatku sedikit ketakutan. Setidaknya, semua sikap Myung Soo tidaklah sekasar yg kupikirkan. Setelah turun dari speed, Myung Soo membawaku ke tempat makan tradisional. Katanya makanan disini jauh lebih enak dari restoran bintang lima sekalipun. Ia memintaku mencoba setiap makanan yg telah ia pesan dengan menyuapkannya padaku. Aku hanya menerima semua suapannya.

Drrrttt~ Luhan oppa memanggil.
"Hallo?"
"Hyoyoung, kau di mana?"
"Aku bersama Myung Soo oppa."
"Benarkah? Datanglah pukul 07:00pm ke cafe biasa."
Aku hanya menjawabnya tanda mengerti. Aku sangat menghargai Luhan sebagai sunbae, itulah kenapa aku tak pernah bisa menolak ajakannya. Ia juga sudah terlalu baik denganku.

Aku dan Myung Soo menghabiskan makanan dihadapan kami, lalu Myung Soo mengajakku kembali ke Seoul dan berjalan-jalan di tepi sungai Han sambil menunggu sore hari untuk janjiku dengan Luhan. Myung Soo mengajakku ke toko souvenir dan membelikanku topi koala. Berkali-kali ia berkata "kyeopta" dengan senyum lebar diwajahnya. Jujur, aku tak pernah melihatnya tersenyum sebanyak hari ini. Tak sadar waktupun sudah menunjukkan pukul 06:45pm, aku dan Myung Soo menuju cafe yg diminta oleh Luhan. Cafe ini terletak di seberang sungai Han dan merupakan cafe dengan sentuhan nuansa yg elegan. Kulihat didalam penuh dengan pelanggan dan para pelayan yg sibuk melayani. Di depan sebuah panggung kecil yg sedang menampilkan perform akustik, kulihat Luhan, Shin Hye, Jiyeon, dan Seung Ho tengah bercakap-cakap. Aku terkejut ketika melihat Seung Ho, kupikir ia benar-benar istirahat untuk beberapa hari, namun ia tetap diantar menuju kemari. Aku dan Myung Soo langsung duduk di kursi yg masih kosong diantara Luhan dan Jiyeon. Luhan bilang, ia ingin merayakan kesembuhan Seung Ho.

Setelah memesan menu makanan, Luhan meminta kami menunggu dan ia menuju panggung tadi sambil membisikkan sesuatu ditelinga gitaris. Ia mengambil gitar dari sang gitaris, serta mengambil kursi dan meletaknnya didepan microphone.
"Selamat malam, saya Luhan dari EXO akan mempersembahkan sebuah lagu pada kalian."
Ia mulai memetik gitarnya, kami semua bahkan tak tau ia bisa bermain gitar.
"Lagu ini mengisahkan tentang seorang Idol yg tidak dapat menjalin hubungan dengan kekasihnya karena dia adalah Idol, yg mana selalu disibukkan dengan jadwalnya, yg mana ia tak dapat mengatakan pada dunia bahwa orang ini adalah kekasihnya, dan berjanji ketika ia sudah menjadi lebih senior, ia akan mengenalkan kekasihnya pada dunia. Don't Want to be an Idol by VIXX"

Luhan mulai menyanyi, semua orang pasti tau suara lembut ini. Wajah seriusnya ketika bernyanyi dan urat-urat dilehernya yg nampak saat ia bernyanyi. Suaranya mampu membawa setiap orang yg mendengarnya terbawa dalam suasana. Ditambah setiap orang disini mengenal Luhan, jadi banyak dari mereka yg mengabadikan momen ini.
"Bad boy." geming Myung Soo.
Setelah Luhan menyelesaikan lagu tersebut, suara tepuk tangan dari setiap sudut pun mulai terdengar. Kami melempar senyum padanya dan ia balas semua senyuman ini, tak lupa mengucapkan terimakasih.
"Oppa, sungguh daebak!!" ujar Jiyeon memberikan dua jempolnya.
"Hyung, dalam rangka apa kau bernyanyi seperti tadi?! tanya Myung Soo.
"Kau tau, kan. Maafkan aku Myung Soo."
"Aku juga minta maaf, hyung. Aku bahkan tak tau bahwa kau mengalami kesulitan yg lebih dalam dariku."
"Ya! Kalian ini aneh sekali, kesal sendiri, minta maaf sendiri." sindir Shin Hye.
Mereka hanya tersenyum dengan satu sama lain.

Tak lama, makanan pun tersaji di meja kami, kami menikmatinya sembari bercakap-cakap. Sesekali Jiyeon dan Myung Soo bertengkar lagi dan Shin Hye selalu memarahi mereka. Saat seperti inilah yg akan terus kuingat dan kusimpan dalam hati.

Pukul 09:30, kami menyelesaikan obrolan kami. Myung Soo hendak menghantarkanku pulang, namun Seung Ho memintaku untuk pulang bersamanya. Kupikir hari ini aku sudah terlalu banyak merepotkan Myung Soo, jadi aku memilih pulang bersama Seung Ho.


Luhan POV

Hyoyoung memutuskan untuk pulang bersama Seung Ho. Merasa ada yg janggal diantara mereka, aku pun ingin tau dan mengikuti. Setibanya di persimpangan menuju rumah Hyoyoung, aku turun dari mobilku dan berjalan. Kulihat Seung Ho dan Hyoyoung bercakap-cakap di depan gerbang rumah.
"Kupikir kau tidak akan keluar beberapa hari ini." ujar Hyoyoung.
"Aku sangat merindukanmu, itu sebabnya. Haha"
"Merindukanku? Pfftt"
"Kenapa? Kau sudah tak percaya lagi denganku?"
"Bukan begitu.."
"Haha, yasudah kau cepat masuk, ini sudah malam. Saranghae"
"Ya."
"Saranghae?"
"YA! Nado saranghae."
Mereka tersenyum satu sama lain dan Seung Ho mengusap rambut Hyoyoung sebelum meninggalkannya. Jantungku rasanya berdegup lebih kencang, seperti aku mungkin tak mampu lagi menjaga keseimbanganku.

"Apa-apaan ini?!! Hyung, ternyata kau juga serendah aku, menguping!" ujar Myung Soo yg tiba-tiba muncul dan membuatku hampir saja terjatuh karena kaget.
Aku membawa Myung Soo menjauh dari tempat ini. Aku menyuruhnya untuk pulang dan aku pun juga harus segera pulang. Semalaman aku hanya berguling-guling dikasurku karena terus terbayang wajah Seung Ho dan Hyoyoung. Hingga Xiumin yg sekamar denganku berkali-kali terbangun dan memarahiku.

~~~~

Esok harinya aku mengumpulkan semua keberanianku untuk mengirim sebuah pesan "Malam ini pukul 07:00pm kita berkumpul dirumah Myung Soo, ada yg perlu kita bicarakan."
Aku dan Myung Soo merencanakan sesuatu sembari menata hati kami masing-masing. Aku bahkan tak dapat berpikir jernih dan terus mencoba menghubungi Myung Soo yg tak memberi respon apapun. Berkali-kali aku menanyakan perasaan ini pada Xiumin, namun jawabannya tak membuatku lega sedikitpun. Aku terus menggetarkan kakiku hingga suara ponselku memecah lamunan. Myung Soo menyuruhku menuju rumahnya saat ini, ia butuh teman untuk menghiburnya. Aku langsung menuju rumahnya dan ia hanya duduk sendiri di ruang tamu sambil memegang remote TV.

Malam harinya, Jiyeon datang awal dan memperhatikan sikap kaku dan canggung antara aku dan Myung Soo. Shin Hye pun menyusul dan langsung berbisik pada Jiyeon, sepertinya membicarakanku dan Myung Soo. Aku hanya memberi senyuman simpul padanya. Terakhir, dua orang yg datang bersamaan dan langsung membuatku dan Myung Soo semakin tak bergeming. Semua berkumpul di ruang tengah dan menungguku membuka pembicaraan.
"A... Mmmm.. Tidak." ujarku gelagapan.
"Kenapa?!" teriak Shin Hye.
"Itu.. Ini soal.." lanjut Myung Soo sepatah.
"YA OPPA! Kami sudah menunggu satu jam disini tanpa memperoleh bahasan apapun!" protes Jiyeon.
"Baiklah! Yoo Seung Ho, Ryu Hyoyoung, apa kalian sepasang kekasih?" tegas Myung Soo.
"Apa?!" Hyoyoung nampak terkejut, tapi Seung Ho memegang tangannya, seolah menahanya untuk mengatakan sesuatu.
"Kalau memang benar apa yg Myung Soo katakan, lalu?" tanya Seung Ho masih dengan wajah tenangnya.
"Ya! Yoo Seung Ho, kau tau apa yg aku dan Luhan hyung rasakan bukan?! Kenapa kau tak mengatakan sejak awal hal semacam ini?! Kau gila?! Kau ingin mempermainkanku dan Luhan hyung?!" Myung Soo bangkit dari duduknya sambil memberikan telunjuknya pada Seung Ho.
"Tunggu, aku tau apa yg kau dan Luhan hyung rasakan? Memang apa yg kalian rasakan?" tanya Seung Ho seolah tak tau apa-apa.
"Kau tau kan kalau aku menyukai Hyoyoung?!" tegas Myung Soo.
"Aa.. Ya aku tau. Lalu apa hubungannya dengan Luhan hyung?"
"Aku... juga menyukainya."

Hyoyoung menatap kearahku, Luhan, dan Myung Soo secara bergantian. Aku tau, dia seperti sedang dipermainkan saat ini. Sedang Shin Hye hanya tersenyum mendengar perdebatan kami, Jiyeon justru menatap tajam pada kami. Dan disaat seperti ini, Seung Ho tersenyum, apa maksudnya?
"Aa.. Seperti itu? Jadi kalian terlibat cinta segitiga? Tapi kumohon, keluarkan aku dari urusan percintaan kalian. Aku dan Hyoyoung, sampai kapanpun akan menjadi sahabat sejati seperti ini." lanjutnya.
"Apa?! Kau jangan mengatakan sesuatu yg tidak masuk akal! Aku, bahkan kita semua melihatmu memeluk Hyoyoung, Hyoyoung memanggil ummamu dengan sebutan omonim, dan.." kalimat Myung Soo terpotong.
"Dan yg membuat aku dan Myung Soo mengumpulkan kalian adalah karena kemarin aku dan Myung Soo mengikuti kalian sampai rumah Hyoyoung." lanjutku tetap tenang.
"Saranghae? Nado saranghae?" tanya Seung Ho.
"O!" jawab Myung Soo yg kembali ke posisi duduknya.
"Aku tau kalian mengikutiku dan Hyoyoung, aku tau kalian mendengar pembicaraan antara kami berdua. Oleh karenanya, aku sengaja melakukan itu. Lagipula aku biasa mengatakan “saranghae” pada Hyoyoung untuk menjailinya. Masalah pelukan, mungkin karena kami sudah menjadi teman yg sagat dekat, jadi itu hal biasa. Bukankah saat sahabatmu menangis, kau akan menenangkannya dengan sebuah pelukan? Hal itu pun akan menjadi biasa bagi keduanya. Omonim.. Hyoyoung melakukannya karena ummaku sudah menganggap Hyoyoung seperti anak sendiri."
"Lalu, kau ketika latihan saat itu, kau melarangku untuk menyukai Hyoyoung karena kau juga menyukainya, apa maksudmu?" tanyaku.
"Maafkan aku telah membuatmu salah paham, hyung. Tapi aku selalu menyeleksi setiap pria yg mendekati Hyoyoung. Hyoyoung pun akan membuka hatinya untuk seorang pria jika aku merekomendasikannya. Aku saat itu tidak setuju dengan hyung karena hyung adalah seorang Idol. Aku takut jika fans hyung menyerang Hyoyoung saat kalian mempublikasikan hubungan kalian, tapi aku lebih khawatir dengan perasaan Hyoyoung jika kau tidak mengakui pada setiap orang bahwa ia adalah kekasihmu. Selain itu, aku juga tidak terlalu senang dengan sikap Myung Soo hyung yg kasar, aku takut Hyoyoung akan sering terluka dengan itu. Tapi sekarang aku tau, Luhan hyung dan Myung Soo hyung mempunyai rasa yg tulus pada Hyoyoung. Jadi, sekarang pun terserah Hyoyoung." jelas Seung Ho.
"Luhan oppa, Myung Soo oppa..Maaf.." ujar Hyoyoung pelan.
"Oh, aku ingat! Dulu ketika aku berada di 7th Grade, aku menyatakan perasaan sukaku pada Hyoyoung, perasaan suka lebih dari teman. Namun, Hyoyoung menolakku dengan alasan bahwa kami adalah sahabat dan selamanya pun akan menjadi sahabat. Jika kami mempunyai hubungan sebagai kekasih, dan jika suatu saat kami memutuskan hubungan sebagai kekasih, maka kami tak dapat kembali sebagai sahabat lagi. Dan kurasa Hyoyoung akan menggunakan alasan yg sama pada kalian." lanjut Seung Ho.
"Tidak masalah, aku juga takut menyakiti Hyoyoung karena statusku sebagai Idol."
"Ya! Aku merasa dibuang, bahkan sebelum aku menyatakan perasaanku." keluh Myung Soo.

Kami semua pun tertawa dan meneguk segelas air dihadapan kami untuk meredakan emosi yg tadi sempat melintas.
"Mmm.. Masalah antara aku, Seung Ho, Myung Soo oppa dan Luhan oppa sudah terjawab. Lalu, bagaimana denganmu Jiyeon?" pertanyaan Hyoyoung yg tiba-tiba membuat Jiyeon tersedak.
"Kurasa benar feelingku selama ini, hanya aku yg tidak terlibat skandal apapun." sahut Shin Hye.
"Park Jiyeon, cepat katakan!" dorong Myung Soo.
Aku pun tersenyum pada Jiyeon.
"Tunggu! Memangnya begitu terlihat ya?" tanya Jiyeon.
"Ah berisik sekali kau ini, cepat katakan!" paksa Myung Soo.
"Baiklah! Ya Yoo Seung Ho! Saranghae!!" ujarnya sembari mengembalikan gelas pada meja.
"DAEBAK!" ujar Myung Soo dan Shin Hye bersamaan.

Seung Ho melihat mata Jiyeon dalam. Kami semua pun menunggu jawaban dari Seung Ho.
"Park Jiyeon, berkencanlah denganku sebanyak 8 kali, maka akan kupertimbangkan perasaanmu." ujar Seung Ho dengan senyum lebar di wajahnya.
"COOOOOOLLLLLLL!!!!" jawab kami bersama.



END


That’s all, thank you for reading all of the chapter.. Today is Luhan’s Birthday, so everything about this Fanfiction are belong to Luhan and me ;)
NO COPYRIGHT hahahha

Tidak ada komentar:

Posting Komentar