Jumat, 18 April 2014

Idol's Scandal with Love & Friendship II

Title        : Idol’s Scandal with Love & Friendship
Cast         : Xi Lu Han
                Ryu Hyoyoung
                Yoo Seung Ho
                Park Shin Hye
                Kim Myung Soo
                Park Jiyeon
Genre       : Romance
                Friendship
Chapter     : 2 of 3



NO SILENT READER :D



Chapter sebelumnya :
Seung Ho berdiri dari tempatnya dan keluar meninggalkan ruangan. Kurasa, dia benar-benar seorang lelaki. Aku tersenyum kecil dan tak sengaja melihat Jiyeon memperhatikan langkah Seung Ho. Asal kalian tau, satu cinta lagi masuk ke dalam jaring-jaring.

Hyoyoung POV

Aku tengah mendengarkan cerita Shin Hye tentang syuting filmnya di Jepang, sesekali kami juga membicarakan setelah ini akan mengadakan pesta penyambutan Shin Hye dirumahnya. Bukan pesta besar, hanya sejenis pesta barbeque antara kami berenam. Kulihat Seung Ho keluar dari ruangan dan kembali lagi ketika pelatih dan beberapa trainee lainnya memasuki ruangan. Pelatih menunjuk Seung Ho untuk menyanyikan sebuah lagu. Ruangan ini dalam sejenak dipenuhi alunan nada-nada dari bibir Seung Ho. Suaranya berat, namun tetap lembut. Setelahnya, kami semua memulai latihan vocal masing-masing. Karena dalam ruangan ini ada Luhan, beberapa orang termasuk aku dilatih langsung oleh Luhan. Trainee wanita justru lebih memperhatikan Luhan dibanding materi yg ia sampaikan. Latihan dimulai dari tangga nada hingga Luhan mencontohkan lagu Lucky milik EXO untuk diikuti kami semua.

4 jam berlalu dan setiap orang satu persatu meninggalkan ruangan, tersisa aku, Luhan, Shin Hye, Myung Soo, Seung Ho, dan Jiyeon. Kami mengemasi barang dan berjalan bersama menyusuri koridor menuju parkiran mobil. Luhan meminta kunci dari manajernya dan memilih untuk mengemudikan sendiri. Luhan masuk ke dalam mobil yg diikuti Shin Hye disebelahnya, lalu Myung Soo dan Seung Ho mengisi bangku belakang, sedang aku dan Jiyeon di bangku tengah.
"Sudah lama kita tidak melakukan triple date semacam ini. Selama kau pergi, kami tak pernah bermain bersama, noona." Myung Soo membuka percakapan.
"Benarkah? Tapi, triple date? Siapa dengan siapa?" tanya Shin Hye.
"Hyoyoung - aku, Luhan hyung - Shin Hye noona, Seung Ho - Jiyeon." jawabnya.
"Ya! Myung Soo oppa, kau memasang-masangkan tanpa meminta ijin? Seenakmu saja! Kau menyukai Hyoyoung, kan?" goda Jiyeon.
"Ya! Apa maksudmu? Aku hanya melihat berdasarkan apa yg kulihat?"
"Yg kau lihat? Apa? Apa yg kau lihat? Memangnya apa?!"
"YA! BENAR-BENAR MEMBUATKU KESAL!”
Kami semua tertawa kecil mendengar perkelahian antara Jiyeon dan Myung Soo. Sepanjang jalan, mobil ini dipenuhi teriakan Myung Soo dan Jiyeon, serta celetukan-celetukan dari Shin Hye. Aku, Luhan, dan Seung Ho hanya sebagai pendengar. Seperti inilah kami terbagi.

Tak terasa, tibalah kami di rumah Shin Hye dan matahari mulai berganti dengan bulan. Kami bergegas menyiapkan makanan karena rasa lelah yg menimbulkan kelaparan. Luhan, Shin Hye, dan Myung Soo dibagian daging, aku, Seung Ho dan Jiyeon dibagian sayuran. Aku membersihkan sayuran yg dibantu oleh Seung Ho, Jiyeon memotong sayuran dalam bentuk dadu. Seung Ho meraih tanganku seakan menyuruhku untuk berhenti melakukannya.
"Ah!" teriak Jiyeon.
"Ada apa?" tanyaku dan Seung Ho segera menghampirinya.
Kulihat telunjuk Jiyeon teriris dan darah segar telah mengalir. Seung Ho mencari plester, sedang aku berusaha membersihkan lukanya dengan air mengalir. Seung Ho meminta Jiyeon duduk dikursi depan dapur dan memasangkan plester ditangannya, namun kulihat Jiyeon justru menitikkan air mata.
"Kau kenapa? Ini tidak sesakit itu kan? Jangan menangis.." ujar Seung Ho memberikan sapu tangan padanya.

Aku beranjak meninggalkan mereka dan mengerjakan apa yg seharusnya Jiyeon kerjakan. Kemudian membawa potongan sayur ini ke taman belakang untuk dibakar bersama yg lain. Aku mencoba mendekati bara api untuk membantu, tapi Myung Soo mendorongku untuk menjauh. Lalu Luhan memegang pundakku dari belakang dan membawaku kedekat meja panjang untuk membantu Shin Hye yg menyiapkan peralatan makan. Shin Hye tertawa kecil melihat aku dan Luhan. Tak lama Jiyeon dan Seung Ho turut berkumpul dan kami mulai menata makanan di atas meja. Kami mulai duduk dan menikmati makanan yg telah tersaji diatas meja. Luhan mengambil selada dan menaruh daging serta beberapa sayuran ke dalamnya. Ia yg duduk di depanku, memintaku untuk membuka mulut. Namun, tiba-tiba saja Myung Soo yg lewat di belakang Luhan mengambil makanan dari tangan Luhan dan melahapnya. Tampak wajah canggung antara aku dan Luhan. Tak hanya kami berdua, Seung Ho, Jiyeon, dan Shin Hye turut menutup mulutnya. Lalu Myung Soo mengambil kursi dan meletakkannya disebelah kanan tempatku duduk. Kami menutup rapat mulut kami, dan hanya terdengar suara alunan musik yg baru saja Shin Hye putar. Entah apa yg terjadi, tapi suasana ini sangat canggung. Tak mau kami berlama-lama dalam situasi ini, kami memutuskan untuk kembali ke rumah.

Saat kami hendak keluar, didepan rumah Shin Hye tampak kerumunan orang yg sepertinya menanti Luhan dan Shin Hye keluar dari rumah, diikuti oleh kami berempat.
"Park Shin Hye-ssi, Xi Luhan-ssi. Apa yg kalian lakukan bersama dimalam hari seperti ini? Apa benar rumor yg beredar bahwa kalian sedang menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih? Kenapa kau pergi tanpa manajermu, Luhan-ssi? Dan mengapa kalian melakukan kencan di rumah Shin Hye-ssi? Apakah untuk memperkenalkan Luhan-ssi pada keluarga Shin Hye-ssi?" lontaran pertanyaan muncul dari berbagai arah dan kamera-kamera yg mengambil gambar Luhan dan Shin Hye.
"Ahjussi! Kau tak menganggap kami berempat ada? Mereka tidak berdua, mereka bersama kami!" jawab Jiyeon.
"Ya Ahjussi! Kehidupanmu sangatlah tak berguna sehingga mengurus masalah orang lain selarut ini. Luhan hyung meninggalkan manajernya karena mobil ini akan lebih luas jika berkurang satu orang. Kau mengerti?" tambah Myung Soo.
"Kalian ini siapa?" tanya para wartawan.
"Tak perlu tau siapa kami. Yg jelas kami semua berteman sangat dekat. Kami kesini untuk merayakan kedatangan Shin Hye unnie." sahut Jiyeon.
"Ah! Artikel tentang Luhan hyung menjemput Shin Hye noona tadi pagi, mereka juga tidak berdua. Ada dua temanku ini bersama mereka." Myung Soo menunjuk ke arahku dan Seung Ho.
"Ahjussi, kumohon lain kali lebih berhati-hati dalam membuat artikel. Aku dan temanku bersama dengan Luhan oppa dan Shin Hye unnie tadi pagi. Tak ada yg harus dikabarkan berkencan, kami hanya berteman. Bukankah seorang idol tetap memiliki hak untuk pergi bersama teman-temannya? Mohon pengertiannya." aku membungkukkan badanku.

Para wartawan itu berbisik satu sama lain dan meminta maaf padi kami sebelum mereka pergi. Luhan oppa menyalakan mesin mobilnya dan berniat mengantar kami semua pulang. Tapi kami memilih untuk pulang dengan bus karena tidak akan merepotkan Luhan. Kami naik satu bus yg sama sebelum Jiyeon dan Myung Soo turun lebih dahulu, sehingga tersisa aku dan Seung Ho. Seung Ho akan ke rumahku untuk mengambil motor miliknya. Dari halte pemberhentian bus, kami berjalan sekitar 100m untuk sampai di rumah.
Drrrtt~ Luhan oppa memanggil
"Hallo?"
"Hyoyoung, kau sudah sampai rumah?"
"Depan gerbang, ada apa?"
"Tidak, terimakasih tadi sudah membantuku menjawab pertanyaan wartawan. Jadwalmu besok bagaimana?"
"Kosong, oppa butuh sesuatu?"
"Mmm.. Mau pergi menonton bersamaku? Jam 9 di depan theater."
"Baiklah, aku mengerti."
Aku menutup ponselku.
"Siapa?" tanya Seung Ho.
"Luhan oppa mengajaku menonton besok jam 9 di depan theater."
"Date? Kau sudah dewasa sekarang, haha" ujar Seung Ho mengusap rambutku.
"Apa maksudmu?!" aku turut tertawa dan kami berdua pun memecah kesunyian dengan suara tawa kami.

Seung Ho mengambil kendaraannya setelah berpamitan dengan umma appa. Aku mengantar Seung Ho sampai depan gerbang.
"Hati-hati dijalan, ini sudah sangat larut. Kau tidak mengantuk, kan?" tanyaku khawatir.
"Bagaimana lagi? Aku tak dapat tidur dikamarmu bukan? Haha. Baiklah, aku mengerti. Kau mimpi indah agar kencanmu besok berjalan lancar. Sampai jumpa.."
Kami melempar senyum satu sama lain sebelum Seung Ho melaju dengan motornya.

~~~~

Pagi hari aku menyiapkan diriku untuk pergi dengan Luhan oppa. Aku tidak pernah pergi hanya berdua dengan Luhan. Biasanya kami pergi bersama yg lain.
Drrrttt~ Myung Soo memanggil
"Hallo?"
"Hyoyoung, pergilah denganku hari ini ke cafe tempat biasa."
"Oppa, maafkan aku. Aku ada janji dengan Luhan oppa di theater jam 9." kataku.
"A..mmm.. Baiklah, sampai jumpa!" Ia menutup ponselnya.

Pukul 08:30 aku keluar dari rumah dan berjalan untuk tiba di halte. Hanya lima menit, bus yg kutunggu pun datang. Aku masuk dan memilih kursi paling depan, agar aku tidak kesusahan ketika hendak turun. Halte dekat theater adalah tempat pemberhentianku. Aku melangkah masuk dalam theater dan menunggu di sofa panjang sampai seorang pria berkacamata hitam, bertopi coklat, dan kemeja kotak-kotak merah meraih tanganku. Luhan oppa. Ia melakukan penyamaran agar publik tak mengenali siapa dia. Kami memesan dua tiket dan saat hendak memilih menu, aku melihat dua pria yg tak asing bagiku.
"Myung Soo oppa, Seung Ho!" panggilku.
"Apa yg kalian lakukan disini?" tanya Luhan.
Myung Soo dan Seung Ho tampak terkejut dan menggaruk kepala mereka, namun mereka berhenti menggaruk ketika melihat ke arah tanganku dan Luhan yg saling terkait. Aku pun tak menyadarinya dan langsung melepaskannya, tetapi Luhan meraih tanganku kembali dan menggenggamnya lebih erat.
"Hyung!" teriak Myung Soo.
Luhan menaikkan satu alis dan kedua bahunya. Seung Ho mencoba membalikan badannya ke arah lain dan dapat kudengar ia menghembuskan nafas panjang.
"Kami hanya ingin menonton berdua." ujar Myung Soo.
"Kau dan aku?! Tidak, kami tak sengaja bertemu di depan." sanggah Seung Ho.
"YA! Yoo Seung Ho, kupikir kau hilang ingatan! Kau sudah tidak waras?!"
"Tidak, kau berbohong. Kenapa tak kau katakan yg sesungguhnya. Tapi aku sungguh tak mengerti kenapa kau datang kemari."
"Lalu, kau sendiri kenapa kemari? Kau mau mematai-matai Luhan hyung dan Hyoyoung kan?"
"Benar! Tapi kau juga kan?"
"Tidak! Aku bersungguh-sungguh!"
"Kau berbohong!"

Luhan menarikku dan membawaku meninggalkan mereka. Luhan tak melepaskan genggaman tanganya dan memesan dua nachos serta dua iced chocolate. Kami menuju studio 1. Luhan beberapa kali menoleh ke belakang melihat dua orang yg masih saling adu argumen tadi. Kulihat Myung Soo masih meneriaki Seung Ho tanpa mendapat respon apapun. Mereka ini sungguh membuatku bingung harus bagaimana.

Kami masuk ketika ruangan sudah gelap, jadi identitas Luhan semakin aman. Kami duduk di kursi paling belakang. Diikuti Myung Soo dan Seung Ho di sebelah kami. Sebenarnya yg mereka lakukan? Di tengah film, Luhan keluar yg kemudian diikuti oleh Myung Soo. Seung Ho dan aku nampak kebingungan, lalu Seung Ho bergeser ke tempat yg tadi diduduki Luhan.


 Luhan POV

Myung Soo mengirim pesan padaku untuk keluar meninggalkan studio tanpa mengatakan apapun pada Hyoyoung. Aku menunggunya di samping studio yg tampak sepi. Tak lama Myung Soo datang dengan muka kesalnya. Sempat terjadi keheningan diantara kami.
"Hyung, kau benar-benar gila?! Kau mengajak Hyoyoung pergi ke tempat umum hanya berdua denganmu? Kau tak takut lagi dengan wartawan? Kau baru saja menyelesaikan rumormu dengan Shin Hye noona, sekarang kau ingin menyeret Hyoyoung dalam rumormu?" Myung Soo mulai mengatakan yg mungkin memang ingin ia katakan.
"Myung Soo, semua idol diluar sana pun pernah melakukan hal yg sama denganku. Bahkan setiap orang pun pernah jatuh cinta dan ingin selalu menggenggam tangan orang yg ia cintai. Kau pun.. saat ini merasakannya dengan Hyoyoung, kan?"
"Kau benar! Kau memang lebih segalanya dariku, tapi kau tak akan bisa menyatakan Hyoyoung kekasihmu di depan publik. Kalau kau mencintainya, bawa dia ke media sebagai kekasihmu."
Aku diam.
"Kau tak bisa kan? Maka kau akan kalah dariku yg bisa mengungkapkan hubunganku, bahkan dengan dunia sekalipun. Lupakan tentang Hyoyoung!"
"Aku tidak mau melakukannya!"

Aku meninggalkan Myung Soo dan kembali ke dalam studio, langkahku terhenti saat kulihat Seung Ho dan Hyoyoung tengah tersenyum bersama. Kupikir, kalimat Myung Soo adalah benar. Seorang wanita akan senang jika prianya berani mengakui hubungan mereka pada siapapun, jika tidak maka ia akan merasa seperti tak dianggap. Aku tau, tapi aku pun tak dapat menolak dan mencerna rasa ini dengan pasti. Saat Hyoyoung dan Seung Ho tersenyum bersama seperti ini, ada sikap aku ingin menggantikan posisi Seung Ho. Saat Hyoyoung dan Seung Ho selalu berangkat dan pulang bersama, aku ingin menarik tangan Hyoyoung untuk tetap bersamaku. Bahkan aku merasa berada di sekitar  orang-orang yg membenciku saat Myung Soo mengingatkanku seperti tadi. Lamunanku buyar ketika Myung Soo menabrak tangan kiriku. Tanpa melihat ke belakang, ia menuju tempatnya tadi duduk. Dengan langkah gontai, aku pun duduk disamping Seung Ho, bukannya Hyoyoung. Kami menyelesaikan film dan bergegas keluar sebelum lampu menyala kembali. Aku berniat mengajak mereka mengobrol di sebuah cafe, tapi Myung Soo pergi begitu saja.

"Myung Soo, oppa!" panggil Hyoyoung dan tak memperoleh respon apapun.
Hyoyoung dan Seung Ho menatap penuh tanya ke arahku, tapi aku pun tak mengerti mengapa Myung Soo seperti itu.

Merasa tak memperoleh jawaban apapun dariku, Hyoyoung mengejar Myung Soo, aku dan Seung Ho refleks mengikutinya. Kulihat Hyoyoung berusaha menarik tangan Myung Soo dan membuatnya berhenti berjalan. Tanpa menoleh sedikitpun, Myung Soo tak melepaskan tangan Hyoyoung.
"Oppa, apa yg terjadi denganmu?"
"Hyoyoung~ah, akankah kau memegang tanganku seperti ini di waktu lain?"
"Ya?"
Myung Soo membalikkan badannya untuk menatap Hyoyoung, namun ia mendapati mataku yg melihat ke arahnya. Aku bahkan ragu dengan tatapan mataku saat ini. Aku bahkan tak membuka mataku lebar-lebar, tetapi itu membuat Myung Soo melepaskan tangan Hyoyoung dan melanjutkan langkahnya lebih cepat. Walaupun Hyoyoung mencoba memanggilnya, itu tak menghentikan langkahnya. Apa yg salah dengannya? Apa ini karena pembicaraan kami tadi?

Seung Ho melirik ke arahku dan meraih pundakku sekilas, lalu pergi menghampiri Hyoyoung. Ia menanyakan keadaan Myung Soo, namun Hyoyoung hanya menaikkan kedua bahunya sebagai jawaban. Saat mereka berada dalam jarak satu meter denganku, beberapa wanita mengelilingiku dengan ponsel di tangan mereka. Sepertinya mereka mengetahui identitasku. Hyoyoung yg melihat ke arahku, menyentuh lengan Seung Ho untuk memberi taukan apa yg terjadi. Tanpa berpikir panjang, Seung Ho berlari kecil mendekatiku dan melingkarkan tangannya dipundakku untuk membawaku pergi dari tempat ini. Sedangkan Hyoyoung sibuk meminta maaf pada semua wanita tadi.

Kami berhasil menghindar dari keramaian dan saat ini sudah berada di samping mobilku. Aku menawarkan diri untuk mengantar mereka pulang, Hyoyoung hanya menatap Seung Ho yg lantas menolak tawaranku. Kali pertama Hyoyoung menolak tawaranku seperti ini, oleh karenanya aku mengikuti ia dan Seung Ho dengan taksi. Di depan rumah Hyoyoung, Seung Ho mematikan mesin motornya dan melepas helm yg menutupi wajahnya. Ia tersenyum simpul melihat Hyoyoung berdiri di sampingnya dan tentu senyumnya mendapat balasan dari Hyoyoung. Kubuka kaca taksi sekitar tiga cm untuk mendengarkan apa yg mereka bicarakan.
"Seung Ho, kenapa kau berada di theater tadi? Bukankah aku sudah mengatakan kalau aku akan pergi ke theater bersama Luhan oppa? Kalau ada sesuatu yg ingin kau lihat, kenapa tak pergi bersama?"
"Tidak. Aku hanya khwatir denganmu. Bagaimana jika ada orang yg melihat kau dan Luhan hyung berdua? Oleh karena itu, aku sengaja mengikutimu, agar jika ada wartawan, aku bisa langsung bergabung dengan kalian dan mengatakan bahwa Luhan hyung hanya pergi bersama teman-temannya. Tapi aku sungguh tak ada niat untuk mengganggu kalian, oleh karenanya sebisa mungkin jangan sampai terlihat oleh kalian. Myung Soo saja aku tak sengaja bertemu dengannya. Lalu ia juga yg membeli tiket untuk duduk di sebelah kalian. Kau percaya denganku, kan?"
"Anehnya, aku selalu percaya yg kau katakan." balasnya dengan senyum.
Aku tak pernah menyadari kalau mereka berdua sedekat ini. Bahkan, jika bersama yg lain pun mereka tak banyak bicara. Diantara Myung Soo dan Seung Ho, kurasa memang Seung Ho-lah yg paling mengerti Hyoyoung. Seung Ho juga yg selalu berada disampingnya.
"Aku tak ada apa-apanya dibanding Seung Ho." gumamku.
Aku menutup kaca rapat-rapat dan meminta supir taksi untuk mengantarku ke rumah.

~~~~

Esok hari..
drrrtt~ drrrtttt~
Aku terbangun dari tidurku dan mendengar ponselku bergetar.
Sembilan panggilan tak terjawab dari Hyoyoung dan Shin Hye. Aku merasa ini adalah keadaan genting. Aku mencoba memanggil Hyoyoung dan tak ada respon darinya, kemudian aku mencoba memanggil Shin Hye. Setelah apa yg kudengar darinya, tanpa mandi aku mengganti pakaianku dan mengendarai mobil sendiri. Aku tiba di sebuah rumah sakit besar dengan bau obat dimana-mana. Aku menuju ruang 427 dan mendapati Hyoyoung dan Jiyeon duduk lemas di samping kasur pasien, sedang Shin Hye duduk di kursi tengah sembari melempar wajah cemas kepadaku. Kulihat laki-laki yg saat ini terbaring di tempat tidur dengan lilitan perban di kepalanya, serta beberapa perban dibagian tangan dan kakinya. Hyoyoung dengan wajahnya yg berusaha tetap tenang menggenggam erat tangan laki-laki tak berdaya ini, Jiyeon dengan sapu tangan di wajahnya berkali-kali mencoba menghapus air matanya.

To be continued..

2 komentar:

  1. cieh udah keluar ya kelanjutannya :P
    baru baca setengah nih hehehe
    semangat"hyun.... kelanjutannya biar nanti kalo udah selese bacanya bisa lanngsung lanjut :D gan gan gan batte :D

    BalasHapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus