Title : Idol’s Scandal
with Love & Friendship
Cast : Xi Lu Han
Ryu Hyoyoung
Yoo Seung Ho
Park Shin Hye
Kim Myung Soo
Park Jiyeon
Genre : Romance
Friendship
Chapter : 1 of 3
Hyouyoung POV
"Kris! Chen! Luhan!
Xiumin! Lay! Tao! EXO M!!!!"
Sekiranya nama itulah yg saat ini menggema ditelingaku.
Sorot lampu yg jatuh menimpa sekujur tubuh mereka, membuat mereka bersinar di
tengah kegelapan. Aku berdiri diantara ribuan, mungkin jutaan orang dengan
teriakan, banner, dan lightstick di tangan mereka. Sejenak terlintas bayanganku yg turut berdiri di
atas panggung megah itu dan menghibur semua yg menghabiskan uang mereka demi
melihatku. Terbayang bagaimana aku menyapa orang-orang ini, bagaimana aku
membuat orang-orang ini memusatkan perhatiannya padaku, dan melupakan semua
keluh kesah masalah mereka, bahkan dapat menyatukan mereka yg tak mengenal satu
sama lain. Semakin dalam aku terbawa dalam bayanganku sendiri, sebuah telapak
tangan mengaitkan jari-jarinya pada jari-jariku.
"Hyoyoung, kau baik-baik
saja?"
Aku membalasnya dengan sebuah
senyum simpul.
Lantunan lagu-lagu kembali terdengar di telingaku. Gerakan
tubuh EXO kembali mencuri perhatianku. Mereka yg diatas sana, tentu tidak semudah
itu mencapai posisi saat ini. Mereka hampir mempertaruhkan seluruh hidup mereka
untuk dapat bersinar seperti saat ini. Aku pun, suatu saat akan layak
bersanding dengan mereka.
"Hyoyoung, cepat pergi!"
tanganya menarik pergelangan tangan kananku ketika ruangan ini kembali sunyi.
"Oppa, aku bisa berjalan
sendiri tanpa kau tarik seperti ini."
Ia melepaskan tangannya dari
pergelangan tanganku, namun seorang lelaki yg sedari tadi hanya memperhatikan
kami, menarik pergelangan tangan kiriku dan membawaku keluar dari ruangan ini.
Aku Ryu Hyoyoung, seorang mahasiswi di Sungkyunkwan University yg saat ini duduk
di tingkat dua. Sejak 2 tahun yg lalu, aku menjadi trainee di perusahaan yg
sama dengan EXO, SM Entertainment. Sudah menjadi cita-citaku
sejak kecil untuk menjadi seorang penyanyi. Appaku dulu adalah seorang musisi
jalanan, maka tak perlu ditanya kalau bakat menyanyiku ini bersumber darinya.
Dia yg kupanggil oppa ini adalah Kim Myung Soo. Teman
dekatku yg kukenal sejak menjadi trainee di SMEnt. Dia menjadi trainee sudah 4
tahun lamanya. Ia melanjutkan studinya di Pusan
National
University dan berada di satu tingkat lebih tinggi dariku. Dan dia yg
membawaku keluar dari ruangan tadi adalah Yoo Seung Ho. Teman satu kelas dan
teman traineeku. Kami sudah berteman sejak kami berusia 8 tahun. Dia adalah
alasan kenapa aku bisa menjadi trainee di SMEnt ini. Sebagian saham di SMEnt
ini adalah milik appanya, dan dia memberiku keyakinan untuk masuk
menjadi trainee SMEnt.
"YA, Seung Hoo!! Kau
meninggalkanku begitu saja? Dimana rasa hormatmu pada hyung dan sunbaemu ini?
Dan kau tak dengar Hyoyoung berkata dia bisa berjalan sendiri? Hah?!"
teriak Myung Soo setelah tiba di pelataran.
Seung Ho
melepaskan tanganku dan tetap berjalan seakan tak mendengar Myung Soo.
"YA, YOO SEUNG HOO!"
"Kim Myung Soo! Apa yg
terjadi? Tak bisa kau pelankan suaramu ditempat umum seperti ini?" suara
yg sangat akrab ditelingaku muncul dari sebuah mobil van hitam yg berhenti tepat
dibelakangku.
Aku membalikkan badanku untuk melihat siapa pemilik suara
itu. Yang kudapati adalah tubuh jenjang yg berdiri tepat dibelakangku dan
menutup indahnya sinar bulan dari pandanganku. Namun, senyumnya.. Aku kenal
dengan senyum polos ini.
"Luhan oppa?"
Ia tersenyum dan menepuk
pundakku. Melangkahlah ia mendekat pada Myung Soo dan seakan menanti jawaban
dari pertanyaannya tadi.
"Hyung, kenapa kau ingin
masuk ke dalam masalah kami bertiga? Kami bahkan tak mengusik hidupmu
sedikitpun."
"Myung Soo hyung!"
Seung Hoo berusaha mengingatkan Myung Soo agar bersikap lebih sopan pada Luhan.
"Tidak masalah, Seung Ho.
Baik, ini bukan urusanku. Tapi alangkah baiknya untuk tidak berteriak di depan
publik seperti ini. Selesaikan masalah kalian di tempat yg lebih sunyi.
Bukankah itu yg seharusnya dilakukan oleh ‘real man’?"
"Real man? My butt!"
gumam Myung Soo.
"Myung Soo oppa! Luhan
oppa cepat pergi. Aku tau tak ada waktu untukmu berdebat dengan
hal semacam ini. Maafkan aku.." aku
membungkukan badanku 45°.
"Baiklah, sepertinya aku
memperburuk suasana disini. Hyoyoung, akan kuantar kau pulang, masuklah ke
mobilku."
Luhan masuk ke mobilnya dan meninggalkan kami bertiga. Aku
melihat ke arah Seung Hoo dan Myung Soo yg sepertinya memang harus ditinggalkan
berdua untuk mengurus masalah mereka sendiri. Langkah ragu kakiku mulai menuju mobil
Luhan. Sesekali aku melihat ke arah Myung Soo yg dengan wajah kesalnya dan Seung
Hoo dengan wajah tak pedulinya. Di depan pintu mobil van hitam, aku melihat ke
dalam dan mendapati manajer EXO yg sedang berada di bangku pengemudi, Luhan
oppa yg berada di bangku belakang pengemudi, lalu Lay dan Xiumin yg berada di
bangku paling belakang. Tersisa dua bangku, yaitu disamping pengemudi dan
disamping Luhan. Luhan menepuk kursi disampingnya sembari tersenyum ke
arahku, yg menandakan aku dipersilakan duduk disampingnya. Aku membungkukan
badanku 45° sebelum masuk ke dalam mobil. Lay
dan Xiumin yg berada di kursi belakang terkekeh kecil ketika aku sempurna
duduk.
Rasa canggung dan malu
bercampur di benakku. Walaupun ini bukan kali pertama aku berada di mobil yg
sama dengan Luhan, tapi berbeda situasi jika ada Lay. Diantara member EXO yg
lain, aku menyukai Lay. Kerap kali aku bertemu dengannya di gedung SMEnt.
Lekukan dipipinya ketika tersenyum memang tak mudah dilupakan. Logat mandarin
yg kental selalu membuatku tersenyum kecil ketika mendengarnya mengucapkan sesuatu
dengan bahasa Korea.
Ditambah dengan sifat polos Lay yg kurasa dia selalu berbicara fakta. Namun,
memang aku jauh lebih dekat dengan Luhan dibanding Lay. Aku sudah menganggap
Luhan seperti kakakku sendiri, sedangkan aku menganggap Lay sebagai sosok yg
kukagumi.
"Hyung manajer! Waaw,
apakah ada orang yg sedang jatuh cinta saat ini? Hyung, apa kau ingat ketika
seseorang merengek memintamu menghentikan mobilnya ketika melihat
Hyoyoung?" ujar Xiumin.
"Tentu saja aku
mengingatnya. Wah, kekuatan cinta membuatku merinding."
"Luhan hyung? Tadi dia
memukul pundakmu untuk menghentikan mobilnya kan, hyung? Itu artinya cinta?
Bukankah itu hanya sebuah kepedulian terhadap hobae?" sanggah Lay.
"Lay!" ekspresi datar
dan kesal terlihat di wajah Xiumin.
Aku tak mengerti, tapi aku
hanya melihat ekspresi Luhan yg tetap tenang sambil tersenyum kecil. Terkadang
senyumnya
merupakan tanda ia menyembunyikan sesuatu.
Tak lama kemudian mobil van ini berhenti di depan gerbang rumahku.
Aku berpamitan dengan semua orang yg berada di dalam mobil, kemudian membuka
pintu dan kembali membungkukkan tubuhku 45°. Luhan yg berada di sisi lain ikut turun dan mengantarku
sampai aku masuk melewati gerbang. Tak banyak yg kita lewati di halaman rumah,
sehingga tak butuh waktu lebih dari 5 menit, kami sudah berada di depan pintu
rumah. Kami menghentikan langkah kaki. Hendakku membungkukkan tubuhku 45°, Luhan memegang kedua pundakku dan membuatku kembali
berdiri tegak.
"Jangan lakukan ini lagi."
ujarnya disambut senyum di bibirnya.
Luhan berpamitan dan berjalan
menuju gerbang, di depan gerbang ia berbalik ke arahku dan melambaikan tangan
kanannya, aku pun membalasnya.
Tak lama setelah Luhan menutup gerbang, suara mesin dari
mobil terdengar samar-samar menjauh. Aku mengetuk pintu rumah dan masuk
disambut oleh tawaran makan malam umma dan appa. Seusainya, aku menuju kamarku
dan membersihkan tubuhku sebelum tidur.
Drrrttt, Myung Soo oppa
memanggil
"Hallo?"
"Hyoyoung, kau sudah tiba
dirumah kan? Apa yg kau dan Luhan hyung lakukan? Ya! Aku sungguh tak menyukai
sikap Luhan hyung yg sok pahlawan seperti tadi. Dia pikir dia siapa? Bahkan
kita tak membawanya dalam masalah kita, akar permasalahannya saja dia tidak
tau. Kau setuju denganku kan?"
Aku tak bergeming.
"Ryu Hyoyoung?"
"Oppa, kurasa ini sudah
terlalu malam untuk kita bercakap-cakap melalui telefon."
"A-a.. Baiklah, tidurlah!"
Dia mematikan telefonnya begitu saja.
Aku mengembalikan ponsel di meja samping
tempat tidurku dan membaringkan tubuh di kasur kesayanganku. Mencoba memejamkan
mata dan hanya denting suara jam dinding yg berusaha menjadi serenade untukku.
~~~~
Sinar
matahari pagi masuk melalui sela-sela jendela kamar dan membuatku mengernyitkan
dahiku. Aku mengambil ponsel di meja dan melihat waktu yg sudah menunjukan
pukul 06:45am. Kuliahku dimulai
sekitar pukul 08:00am, jadi
aku segera bangkit dari kasur dan menuju kamar mandi yg berada di dalam
kamarku. Hanya 15 menit waktu yang kubutuhkan untuk mandi. Seusainya, kembali
kumenata diri di depan cermin dan memilih celana jeans hitam panjang dipadu
kemeja putih yg aku tambah dengan lapisan jas merah selutut. Udara di luar saat ini mencapai 12°C. Setelah aku meneguk segelas susu dan
menyantap roti yg telah dipersiapkan umma, aku pun meninggalkan rumah. Biasanya
aku berangkat dengan bus atau...
"Hyoyoung!" panggil Luhan yg
sudah berdiri di samping mobilnya.
Luhan kerap kali menjemput dan mengantarku,
dan...
Ciitttt~ Seung Ho melepas helmnya dan
tersenyum kecil padaku. Dan terkadang aku juga dijemput oleh Seung Ho. Mereka
memang tak pernah menghubungiku sebelum datang kemari, sehingga aku selalu
diharuskan memilih antara keduanya.
Luhan selalu memberi solusi untuk Seung Ho
meninggalkan motornya dirumahku dan berangkat bersama Luhan, itulah yg kami
lakukan saat ini pula. Kami menuju mobil Luhan dan mendapati sesosok wanita
dengan rambut ikal panjangnya.
"Unnie?" sapaku.
"Hyoyoung, aku sangat merindukanmu!"
ia menarikku dan memelukku erat.
"Cepat masuk! Kalian bisa terlambat.
Seung Ho, kau semakin tampan saja haha"
Dia adalah Park Shin Hye, kalian pasti
mengenalnya. Seorang actress, model, dan sekarang mulai merambah dunia
menyanyi. Luhan dan Shin Hye memang sangat dekat, oleh karenanya kami pun mengenal Shin Hye
dengan baik.
Luhan POV
Aku
mengambil kursi paling belakang bersama Seung Ho dan mempersilakan Hyoyoung dan
Shin Hye duduk di tempat kedua. Setidaknya dari belakang sini, aku dapat terus
melihat Hyoyoung sepanjang perjalanan. Sesekali aku memperhatikan tatapan mata
Seung Ho yg memiliki objek yg sama denganku. Ini bukan kali pertama aku
menemukan Seung Ho diam-diam memperhatikan Hyoyoung. Kurasa, rasa cinta itu
wajar jika terjadi diantara pria dan wanita yg sudah lama saling mengenal.
Tak jauh kami berjalan, kami telah tiba di sebuah universitas,
dimana tempat Hyoyoung dan Seung Ho belajar. Hyoyoung turun terlebih dahulu dan
diikuti dengan Seung Ho dibelakangnya. Aku hanya pindah ke deretan kedua untuk melambaikan tangan pada mereka yg tengah
membungkukkan tubuh 45°. Sudah berkali-kali kukatakan pada mereka untuk tak
melakukannya, tapi mereka tetap melakukannya.
Dari dalam mobil aku memperhatikan
mereka semakin menghilang dari pandanganku.
"Xi Luhan, kau menyukainya? Kau selalu peduli sekali menjemput dan mengantarkannya
di tengah kepadatan jadwalmu." Shin Hye membuyarkan lamunanku.
"Aku juga tidak tau,
bagaimana menurutmu?"
"Kau tidak mengerti perasaanmu
sendiri? Bagaimana saat kau melihat Seung Ho bersama Hyoyoung seperti tadi? Aku
berani bertaruh bahwa Seung Ho menyukainya."
"Aku tau."
"Lalu?"
Aku menarik panjang nafasku, kemudian
menghembuskannya kembali. Kalian pasti pernah merasakan apa yg kurasakan.
Seakan aku tak tau makna sesungguhnya, namun ketika aku tak suka, aku tetap
melakukannya, ketika aku tak ada sisa waktu, aku tetap meluangkannya, ketika
aku segan berucap, aku tetap membalasnya, dan ketika aku lelah, aku tetap
tersenyum untuknya.
Kami meninggalkan Sungkyunkwan University dan menuju SMEnt’s building untukku berlatih disana. Semua
EXO member pasti telah menungguku. Mereka juga menunggu Shin Hye yg baru saja
kembali dari jadwal syutingnya di Jepang. Shin Hye adalah teman dekatku,
terkadang aku menganggap dia sebagai noonaku karena sikap dewasanya. Setiap
masalah, aku menanyakan apa yg dapat kuperbuat. Shin Hye menjadi akrab dengan
Hyoyoung dan Seung Ho karenaku.
Saat ini SMEnt’s building tampak sepi, mungkin karena
beberapa jadwal latihan sedang kosong. Aku dan Shin Hye langsung menuju ruang
latihan EXO. Mereka sudah lengkap berkumpul dan tengah melakukan pemanasan
sebelum memulai latihan. Kuletakkan tas ranselku pada kursi hitam di sudut
ruangan dan meninggalkan Shin Hye bercakap-cakap dengan member lain. Selang 5
menit, Chen menyalakan musik dan
spontan kami mengambil posisi. Paduan gerakan tangan, kaki, dan seluruh tubuh
terlihat memenuhi ruangan ini. Lantunan lagu dari bibir kami pun menggema.
Dengan beberapa perbaikan, kami menyelesaikan latihan sekitar 2,5 jam. Aku
beristirahat sebentar dengan berbagi minum dan pijatan dengan Xiumin. Lalu
menghapus keringatku dengan handuk, mengambil tasku dan mengajak Shin Hye ke
ruang latihan yg biasa digunakan oleh para trainee.
Dari luar, kami melihat Kim Myung Soo sedang
meliuk-liukkan badannya dan Park Jiyeon yg berlatih vocal. Belum terlihat di
pupil mataku sesosok Hyoyoung yg kucari. Namun, aku memutuskan untuk
menunggunya.
"Hyung! Apa yg kau lakukan
disini? Kau mencari Hyoyoung? Kau gila?! Sadarlah!!" ujar Myung Soo ketika aku memasuki ruangan, serta Jiyeon langsung melempar pandangannya
padaku dan menundukkan kepalanya sebagai tanda mengucapkan salam.
"Kim Myung Soo, kau tetap tak berubah.
Kau tak mau menyambutku yg baru saja pulang?" sahut Shin Hye.
"Noona, kau pura-pura tak tau atau benar-benar tak tau? Kalian ada di artikel teratas karena
Luhan hyung menjemputmu dibandara. Kalian
berkencanlah!"
Aku mengeluarkan ponsel dari sakuku dan
mendapati 8 panggilan dari manajer, aku tak melihat ponselku sedari tadi.
Kemudian aku membuka situs artikel dan mendapat foto serta rumor tentangku dan
Shin Hye di sebuah cafe di bandara. Wartawan cepat sekali memproses suatu
berita. Aku menunjukkan artikel tersebut pada Shin Hye dan kami hanya tersenyum
geli. Aku menutup ponselku dan hendak mengembalikannya ke sakuku saat Hyoyoung
dan Seung Ho membuka pintu. Mereka tidak terlihat terkejut dan membungkukkan
kembali tubuh mereka. Aku menyambutnya dengan senyum.
"Hyung! Sekarang apalagi? Kau
memberikan senyuman kepada Hyoyoung? Urus dulu artikelmu dan Shin Hye
noona." tegur Myung Soo.
"Myung Soo oppa! Kau ini berisik sekali sejak tadi.
Terserah Luhan oppa mau berbuat apa pada Shin Hye unnie dan Hyoyoung. Apa
pedulimu? Bahkan mereka pun tak mempedulikanmu." timpal Jiyeon.
Aku mengalihkan pandangan yg semula
memperhatikan Jiyeon dan Myung
Soo menuju Hyoyoung yg tampak bingung karena baru saja dia hadir sudah terjadi
keributan. Lalu aku tak sengaja meluruskan pandanganku dan mendapati Seung Ho
yg entah sejak kapan memperhatikanku, sehingga saat ini pandangan kami bertemu,
dan dia segera beranjak menutup pintu lalu menaruh tasnya. Kim Myung Soo, Yoo
Seung Ho.. Seakan aku bisa melihat dua pria dengan sikap dan cara yg berbeda
untuk mendapatkan hati seorang wanita. Lalu, sikap dan cara mana yg harus contoh untuk kulakukan?
Aku duduk melantai dan bersandar pada
dinding kaca sembari memperhatikan Shin Hye, Hyoyoung, dan Jiyeon yg sedang
bercakap, Myung Soo yg memainkan ponselnya dengan raut wajah kesal, Seung Ho yg
melangkah menuju tempatku duduk saat ini.
"Hyung, kau menyukai Hyoyoung?"
"Kau mengagetkanku saja, kau
menanyakan hal sepribadi ini di tempat umum?"
"Mereka tak melihat, apalagi
mendengar."
"Kalau aku menjawabnya, apa yg akan
kau lakukan?"
"Tidak, jangan,
hentikan. Aku juga menyukai
Hyoyoung. Hyung, ini bukan masalah sunbae-hobae untuk mengalah, jadi bermainlah
yg sehat."
Seung Ho berdiri dari tempatnya dan keluar
meninggalkan ruangan. Kurasa, dia benar-benar seorang lelaki. Aku tersenyum
kecil dan tak sengaja melihat Jiyeon memperhatikan langkah Seung Ho. Asal
kalian tau, satu cinta lagi masuk ke dalam jaring-jaring.
To be continued…

ini yakin sepanjang ini dan baru chapter 1?.? wau!.!
BalasHapusbagus sih... tp capek bacanya wkwkwk :D
ditunggu kelanjutannya yak
nggak pernah baca sih, jadinya pemalas kan hahha
Hapusgreat job! seru buat di baca :D ngga sabar nunggu kelanjutannyaaa
BalasHapusthank you ;)
Hapus