Title : Idol’s Scandal
with Love & Friendship
Cast : Xi Lu Han
Ryu Hyoyoung
Yoo Seung Ho
Park Shin Hye
Kim Myung Soo
Park Jiyeon
Genre : Romance
Friendship
Chapter : 2 of 3
NO
SILENT READER :D
Chapter sebelumnya :
“Seung Ho berdiri dari tempatnya dan keluar
meninggalkan ruangan. Kurasa, dia benar-benar seorang lelaki. Aku tersenyum
kecil dan tak sengaja melihat Jiyeon memperhatikan langkah Seung Ho. Asal
kalian tau, satu cinta lagi masuk ke dalam jaring-jaring.”
Hyoyoung POV
Aku tengah mendengarkan cerita Shin Hye
tentang syuting filmnya di Jepang, sesekali kami juga membicarakan setelah ini
akan mengadakan pesta penyambutan Shin Hye dirumahnya. Bukan pesta besar, hanya
sejenis pesta barbeque antara kami
berenam. Kulihat Seung Ho keluar dari ruangan dan kembali lagi ketika pelatih
dan beberapa trainee lainnya memasuki ruangan. Pelatih menunjuk Seung Ho untuk
menyanyikan sebuah lagu. Ruangan ini dalam sejenak dipenuhi alunan nada-nada
dari bibir Seung Ho. Suaranya berat, namun tetap lembut. Setelahnya, kami semua
memulai latihan vocal masing-masing. Karena dalam ruangan ini ada Luhan,
beberapa orang termasuk aku dilatih langsung oleh Luhan. Trainee wanita justru
lebih memperhatikan Luhan dibanding materi yg ia sampaikan. Latihan dimulai
dari tangga nada hingga Luhan mencontohkan lagu Lucky milik EXO untuk diikuti
kami semua.
4 jam berlalu dan setiap orang satu persatu
meninggalkan ruangan, tersisa aku, Luhan, Shin Hye, Myung Soo, Seung Ho, dan
Jiyeon. Kami mengemasi barang dan berjalan bersama menyusuri koridor menuju
parkiran mobil. Luhan meminta kunci dari manajernya dan memilih untuk
mengemudikan sendiri. Luhan masuk ke dalam mobil yg diikuti Shin Hye
disebelahnya, lalu Myung Soo dan Seung Ho mengisi bangku belakang, sedang aku
dan Jiyeon di bangku tengah.
"Sudah lama kita tidak melakukan
triple date semacam ini. Selama kau pergi, kami tak pernah bermain bersama,
noona." Myung Soo membuka percakapan.
"Benarkah? Tapi, triple date? Siapa dengan
siapa?" tanya Shin Hye.
"Hyoyoung - aku, Luhan hyung - Shin
Hye noona, Seung Ho - Jiyeon." jawabnya.
"Ya! Myung Soo oppa, kau
memasang-masangkan tanpa meminta ijin? Seenakmu saja! Kau menyukai Hyoyoung, kan?" goda Jiyeon.
"Ya! Apa maksudmu? Aku hanya melihat
berdasarkan apa yg kulihat?"
"Yg kau lihat? Apa? Apa yg kau lihat? Memangnya apa?!"
"YA! BENAR-BENAR MEMBUATKU
KESAL!”
Kami semua tertawa kecil mendengar
perkelahian antara Jiyeon dan Myung Soo. Sepanjang jalan, mobil ini dipenuhi
teriakan Myung Soo dan Jiyeon, serta celetukan-celetukan dari Shin Hye. Aku,
Luhan, dan Seung Ho hanya sebagai pendengar. Seperti inilah kami terbagi.
Tak terasa, tibalah kami di rumah Shin Hye
dan matahari mulai berganti dengan bulan. Kami bergegas menyiapkan makanan
karena rasa lelah yg menimbulkan kelaparan. Luhan, Shin Hye, dan Myung Soo
dibagian daging, aku, Seung Ho dan Jiyeon dibagian sayuran. Aku membersihkan
sayuran yg dibantu oleh Seung Ho, Jiyeon memotong sayuran dalam bentuk dadu.
Seung Ho meraih tanganku seakan menyuruhku untuk berhenti melakukannya.
"Ah!" teriak Jiyeon.
"Ada apa?" tanyaku dan Seung Ho segera
menghampirinya.
Kulihat telunjuk Jiyeon teriris dan darah
segar telah mengalir. Seung Ho mencari plester, sedang aku berusaha
membersihkan lukanya dengan air mengalir. Seung Ho meminta Jiyeon duduk dikursi
depan dapur dan memasangkan plester ditangannya, namun kulihat Jiyeon justru
menitikkan air mata.
"Kau kenapa? Ini tidak sesakit itu kan? Jangan
menangis.." ujar Seung Ho
memberikan sapu tangan padanya.
Aku beranjak meninggalkan mereka dan mengerjakan apa yg seharusnya Jiyeon kerjakan.
Kemudian membawa potongan sayur ini ke taman belakang untuk dibakar bersama yg
lain. Aku mencoba mendekati bara api untuk membantu, tapi Myung Soo mendorongku
untuk menjauh. Lalu Luhan memegang pundakku dari belakang dan membawaku kedekat meja panjang untuk membantu Shin
Hye yg menyiapkan peralatan makan. Shin Hye tertawa kecil melihat aku dan
Luhan. Tak lama Jiyeon dan Seung Ho turut berkumpul dan kami mulai menata
makanan di atas meja. Kami mulai duduk dan menikmati makanan yg telah tersaji
diatas meja. Luhan mengambil selada dan menaruh daging serta beberapa sayuran
ke dalamnya. Ia yg duduk di depanku, memintaku untuk membuka mulut. Namun,
tiba-tiba saja Myung Soo yg lewat di belakang Luhan mengambil makanan dari
tangan Luhan dan melahapnya. Tampak wajah canggung antara aku dan Luhan. Tak
hanya kami berdua, Seung Ho, Jiyeon, dan Shin Hye turut menutup mulutnya. Lalu
Myung Soo mengambil kursi dan meletakkannya disebelah kanan tempatku duduk.
Kami menutup rapat mulut kami, dan hanya terdengar suara alunan musik yg baru
saja Shin Hye putar. Entah apa yg terjadi, tapi suasana ini sangat canggung.
Tak mau kami berlama-lama dalam situasi ini, kami memutuskan untuk kembali ke
rumah.
Saat kami
hendak keluar, didepan rumah
Shin Hye tampak kerumunan orang yg sepertinya menanti Luhan dan Shin Hye keluar
dari rumah, diikuti oleh kami berempat.
"Park Shin Hye-ssi, Xi Luhan-ssi. Apa
yg kalian lakukan bersama dimalam hari seperti ini? Apa benar rumor yg beredar
bahwa kalian sedang menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih? Kenapa kau pergi tanpa manajermu,
Luhan-ssi? Dan mengapa kalian melakukan kencan di rumah Shin Hye-ssi? Apakah
untuk memperkenalkan Luhan-ssi pada keluarga Shin Hye-ssi?" lontaran
pertanyaan muncul dari berbagai arah dan kamera-kamera yg mengambil gambar
Luhan dan Shin Hye.
"Ahjussi! Kau tak menganggap kami
berempat ada? Mereka tidak berdua, mereka bersama kami!" jawab Jiyeon.
"Ya Ahjussi! Kehidupanmu sangatlah tak
berguna sehingga mengurus masalah orang lain selarut ini. Luhan hyung
meninggalkan manajernya karena mobil ini akan lebih luas jika berkurang satu orang. Kau mengerti?" tambah Myung Soo.
"Kalian ini siapa?" tanya para
wartawan.
"Tak perlu tau siapa kami. Yg jelas
kami semua berteman sangat dekat. Kami kesini untuk merayakan kedatangan Shin
Hye unnie." sahut Jiyeon.
"Ah! Artikel tentang Luhan hyung
menjemput Shin Hye noona tadi pagi, mereka juga tidak berdua. Ada dua temanku
ini bersama mereka." Myung Soo menunjuk ke arahku dan Seung Ho.
"Ahjussi, kumohon lain kali lebih
berhati-hati dalam membuat artikel. Aku dan temanku bersama dengan Luhan oppa
dan Shin Hye unnie tadi pagi. Tak ada yg harus dikabarkan berkencan, kami hanya
berteman. Bukankah seorang idol tetap memiliki hak untuk pergi bersama teman-temannya?
Mohon pengertiannya." aku membungkukkan badanku.
Para wartawan itu berbisik satu sama lain
dan meminta maaf padi kami sebelum mereka pergi. Luhan oppa menyalakan mesin
mobilnya dan berniat mengantar kami semua pulang. Tapi kami memilih untuk pulang
dengan bus karena tidak akan merepotkan Luhan. Kami naik satu bus yg sama
sebelum Jiyeon dan Myung Soo turun lebih dahulu, sehingga tersisa aku dan Seung
Ho. Seung Ho akan ke rumahku untuk mengambil motor miliknya. Dari halte pemberhentian bus,
kami berjalan sekitar 100m untuk sampai di rumah.
Drrrtt~ Luhan oppa memanggil
"Hallo?"
"Hyoyoung, kau sudah sampai
rumah?"
"Depan gerbang, ada apa?"
"Tidak, terimakasih tadi sudah membantuku
menjawab pertanyaan wartawan. Jadwalmu besok bagaimana?"
"Kosong, oppa butuh sesuatu?"
"Mmm.. Mau pergi menonton bersamaku?
Jam 9 di depan theater."
"Baiklah, aku mengerti."
Aku menutup ponselku.
"Siapa?" tanya Seung Ho.
"Luhan oppa mengajaku menonton besok
jam 9 di depan theater."
"Date? Kau sudah dewasa sekarang,
haha" ujar Seung Ho mengusap
rambutku.
"Apa maksudmu?!" aku turut tertawa dan kami berdua
pun memecah kesunyian dengan suara tawa kami.
Seung Ho mengambil kendaraannya setelah
berpamitan dengan umma appa. Aku mengantar Seung Ho sampai depan gerbang.
"Hati-hati dijalan, ini sudah sangat
larut. Kau tidak mengantuk, kan?" tanyaku khawatir.
"Bagaimana lagi? Aku tak dapat tidur
dikamarmu bukan? Haha. Baiklah, aku mengerti. Kau mimpi indah agar kencanmu besok berjalan lancar. Sampai
jumpa.."
Kami melempar senyum satu sama lain sebelum
Seung Ho melaju dengan motornya.
~~~~
Pagi hari aku menyiapkan diriku untuk pergi
dengan Luhan oppa. Aku tidak pernah pergi hanya berdua dengan Luhan. Biasanya
kami pergi bersama yg lain.
Drrrttt~ Myung Soo memanggil
"Hallo?"
"Hyoyoung, pergilah denganku hari ini
ke cafe tempat biasa."
"Oppa, maafkan aku. Aku ada janji dengan Luhan oppa di
theater jam 9." kataku.
"A..mmm.. Baiklah, sampai jumpa!" Ia menutup ponselnya.
Pukul 08:30 aku keluar dari rumah dan berjalan
untuk tiba di halte. Hanya lima menit,
bus yg kutunggu pun datang. Aku masuk dan memilih kursi paling depan, agar aku
tidak kesusahan ketika hendak turun. Halte dekat theater adalah tempat
pemberhentianku. Aku melangkah masuk dalam theater dan menunggu di sofa panjang
sampai seorang pria berkacamata hitam, bertopi coklat, dan kemeja kotak-kotak
merah meraih tanganku. Luhan oppa. Ia melakukan penyamaran agar publik tak mengenali
siapa dia. Kami memesan dua
tiket dan saat hendak memilih menu, aku melihat dua pria yg tak asing bagiku.
"Myung Soo oppa, Seung Ho!"
panggilku.
"Apa yg kalian lakukan disini?"
tanya Luhan.
Myung Soo dan Seung Ho tampak terkejut dan
menggaruk kepala mereka, namun mereka berhenti menggaruk ketika melihat ke arah tanganku dan Luhan
yg saling terkait. Aku pun tak menyadarinya dan langsung melepaskannya, tetapi
Luhan meraih tanganku kembali dan menggenggamnya lebih erat.
"Hyung!" teriak Myung Soo.
Luhan menaikkan satu alis dan kedua bahunya. Seung Ho mencoba membalikan badannya ke
arah lain dan dapat kudengar ia menghembuskan nafas panjang.
"Kami hanya ingin menonton
berdua." ujar Myung Soo.
"Kau dan aku?! Tidak, kami tak sengaja bertemu di depan." sanggah Seung Ho.
"YA! Yoo Seung Ho, kupikir kau hilang
ingatan! Kau sudah tidak waras?!"
"Tidak, kau berbohong. Kenapa tak kau katakan yg
sesungguhnya. Tapi aku sungguh tak mengerti kenapa kau datang kemari."
"Lalu, kau sendiri kenapa kemari? Kau
mau mematai-matai Luhan hyung dan Hyoyoung kan?"
"Benar! Tapi kau juga kan?"
"Tidak! Aku bersungguh-sungguh!"
"Kau berbohong!"
Luhan menarikku dan membawaku meninggalkan
mereka. Luhan tak melepaskan genggaman tanganya dan memesan dua nachos serta dua iced chocolate. Kami menuju studio 1.
Luhan beberapa kali menoleh ke belakang melihat dua orang yg masih saling adu argumen tadi. Kulihat
Myung Soo masih meneriaki Seung Ho tanpa mendapat respon apapun. Mereka ini
sungguh membuatku bingung harus bagaimana.
Kami masuk ketika ruangan sudah gelap, jadi
identitas Luhan semakin aman. Kami duduk di kursi paling belakang. Diikuti
Myung Soo dan Seung Ho di sebelah kami. Sebenarnya yg mereka lakukan?
Di tengah film, Luhan keluar yg kemudian diikuti oleh Myung Soo. Seung Ho dan
aku nampak kebingungan, lalu Seung Ho bergeser ke tempat yg tadi diduduki
Luhan.
Luhan POV
Myung Soo mengirim pesan padaku untuk
keluar meninggalkan studio tanpa mengatakan apapun pada Hyoyoung. Aku
menunggunya di samping studio yg tampak sepi. Tak lama Myung Soo datang dengan
muka kesalnya. Sempat terjadi keheningan diantara kami.
"Hyung, kau benar-benar gila?! Kau mengajak Hyoyoung pergi ke tempat
umum hanya berdua denganmu? Kau tak takut lagi dengan wartawan? Kau baru saja
menyelesaikan rumormu dengan Shin Hye noona, sekarang kau ingin menyeret
Hyoyoung dalam rumormu?" Myung Soo mulai mengatakan yg mungkin memang ingin
ia katakan.
"Myung Soo, semua idol diluar sana pun
pernah melakukan hal yg sama denganku. Bahkan setiap orang pun pernah jatuh
cinta dan ingin selalu menggenggam tangan orang yg ia cintai. Kau pun.. saat ini
merasakannya dengan Hyoyoung, kan?"
"Kau benar! Kau memang lebih segalanya dariku, tapi
kau tak akan bisa menyatakan Hyoyoung kekasihmu di depan publik. Kalau kau mencintainya, bawa dia ke media
sebagai kekasihmu."
Aku diam.
"Kau tak bisa kan? Maka kau akan kalah
dariku yg bisa mengungkapkan hubunganku, bahkan dengan dunia sekalipun. Lupakan
tentang Hyoyoung!"
"Aku tidak mau
melakukannya!"
Aku meninggalkan Myung Soo dan kembali ke
dalam studio, langkahku terhenti saat kulihat Seung Ho dan Hyoyoung tengah
tersenyum bersama. Kupikir, kalimat Myung Soo adalah benar. Seorang wanita akan
senang jika prianya berani mengakui hubungan mereka pada siapapun, jika tidak
maka ia akan merasa seperti tak dianggap. Aku tau, tapi aku pun tak dapat
menolak dan mencerna rasa ini dengan pasti. Saat Hyoyoung dan Seung Ho
tersenyum bersama seperti ini, ada sikap aku ingin menggantikan posisi Seung
Ho. Saat Hyoyoung dan Seung Ho selalu berangkat dan pulang bersama, aku ingin
menarik tangan Hyoyoung untuk tetap bersamaku. Bahkan aku merasa berada di
sekitar orang-orang yg membenciku saat
Myung Soo mengingatkanku seperti tadi. Lamunanku buyar ketika Myung Soo
menabrak tangan kiriku. Tanpa melihat ke belakang, ia menuju tempatnya tadi
duduk. Dengan langkah gontai, aku pun duduk disamping Seung Ho, bukannya
Hyoyoung. Kami menyelesaikan film
dan bergegas keluar sebelum lampu menyala kembali. Aku berniat mengajak mereka
mengobrol di sebuah cafe, tapi Myung Soo pergi begitu saja.
"Myung Soo, oppa!" panggil
Hyoyoung dan tak memperoleh respon apapun.
Hyoyoung dan Seung Ho menatap penuh tanya
ke arahku, tapi aku pun tak mengerti mengapa Myung Soo seperti itu.
Merasa tak memperoleh jawaban apapun
dariku, Hyoyoung mengejar Myung Soo, aku dan Seung Ho refleks mengikutinya.
Kulihat Hyoyoung berusaha menarik tangan Myung Soo dan membuatnya berhenti
berjalan. Tanpa menoleh sedikitpun, Myung Soo tak melepaskan tangan Hyoyoung.
"Oppa, apa yg terjadi
denganmu?"
"Hyoyoung~ah, akankah kau memegang
tanganku seperti ini di waktu lain?"
"Ya?"
Myung Soo membalikkan badannya untuk
menatap Hyoyoung, namun ia mendapati mataku yg melihat ke arahnya. Aku bahkan
ragu dengan tatapan mataku saat ini. Aku bahkan tak membuka mataku lebar-lebar,
tetapi itu membuat Myung Soo melepaskan tangan Hyoyoung dan melanjutkan
langkahnya lebih cepat. Walaupun Hyoyoung mencoba memanggilnya, itu tak menghentikan
langkahnya. Apa yg salah dengannya?
Apa ini karena pembicaraan kami tadi?
Seung Ho melirik ke arahku dan meraih
pundakku sekilas, lalu pergi menghampiri Hyoyoung. Ia menanyakan keadaan Myung
Soo, namun Hyoyoung hanya menaikkan kedua bahunya sebagai jawaban. Saat mereka
berada dalam jarak satu meter denganku, beberapa wanita mengelilingiku dengan ponsel di tangan
mereka. Sepertinya mereka mengetahui identitasku. Hyoyoung yg melihat ke
arahku, menyentuh lengan Seung Ho untuk memberi taukan apa yg terjadi. Tanpa
berpikir panjang, Seung Ho berlari kecil mendekatiku dan melingkarkan
tangannya dipundakku untuk
membawaku pergi dari tempat ini. Sedangkan Hyoyoung sibuk meminta maaf pada
semua wanita tadi.
Kami berhasil menghindar dari keramaian dan
saat ini sudah berada di samping mobilku. Aku menawarkan diri untuk mengantar
mereka pulang, Hyoyoung hanya menatap Seung Ho yg lantas menolak tawaranku.
Kali pertama Hyoyoung menolak tawaranku seperti ini, oleh karenanya aku mengikuti
ia dan Seung Ho dengan taksi. Di depan rumah Hyoyoung, Seung Ho mematikan mesin
motornya dan melepas helm yg menutupi wajahnya. Ia tersenyum simpul melihat
Hyoyoung berdiri di sampingnya dan tentu senyumnya mendapat balasan dari
Hyoyoung. Kubuka kaca taksi sekitar tiga cm untuk mendengarkan apa yg mereka
bicarakan.
"Seung Ho, kenapa kau berada di
theater tadi? Bukankah aku sudah mengatakan kalau aku akan pergi ke theater bersama Luhan oppa? Kalau ada
sesuatu yg ingin kau lihat, kenapa tak pergi bersama?"
"Tidak. Aku hanya khwatir denganmu. Bagaimana
jika ada orang yg melihat kau dan Luhan hyung berdua? Oleh karena itu, aku
sengaja mengikutimu, agar jika ada wartawan, aku bisa langsung bergabung dengan
kalian dan mengatakan
bahwa Luhan hyung hanya pergi bersama teman-temannya. Tapi aku sungguh tak ada
niat untuk mengganggu kalian, oleh karenanya
sebisa mungkin jangan sampai terlihat oleh kalian. Myung Soo saja aku tak
sengaja bertemu dengannya. Lalu ia juga yg membeli tiket untuk duduk di sebelah kalian. Kau percaya denganku, kan?"
"Anehnya, aku selalu percaya yg kau katakan."
balasnya dengan senyum.
Aku tak pernah menyadari kalau mereka
berdua sedekat ini. Bahkan, jika bersama yg lain pun mereka tak banyak bicara.
Diantara Myung Soo dan Seung Ho, kurasa memang Seung Ho-lah yg paling mengerti
Hyoyoung. Seung Ho juga yg selalu berada disampingnya.
"Aku tak ada apa-apanya dibanding
Seung Ho." gumamku.
Aku menutup kaca rapat-rapat dan meminta
supir taksi untuk mengantarku ke rumah.
~~~~
Esok hari..
drrrtt~ drrrtttt~
Aku terbangun dari tidurku dan mendengar
ponselku bergetar.
Sembilan panggilan tak terjawab dari Hyoyoung dan
Shin Hye. Aku merasa ini adalah keadaan genting. Aku mencoba memanggil Hyoyoung
dan tak ada respon darinya, kemudian aku mencoba memanggil Shin Hye. Setelah
apa yg kudengar darinya, tanpa mandi aku mengganti pakaianku dan mengendarai
mobil sendiri. Aku tiba di sebuah rumah sakit besar dengan bau obat
dimana-mana. Aku menuju ruang 427 dan mendapati Hyoyoung dan Jiyeon duduk lemas
di samping kasur pasien, sedang Shin Hye duduk di kursi tengah sembari melempar
wajah cemas kepadaku.
Kulihat laki-laki yg saat ini terbaring di tempat tidur dengan lilitan perban
di kepalanya, serta beberapa
perban dibagian tangan dan kakinya. Hyoyoung dengan wajahnya yg berusaha tetap
tenang menggenggam erat tangan laki-laki tak berdaya ini, Jiyeon dengan sapu
tangan di wajahnya berkali-kali mencoba menghapus air matanya.
To be continued..
To be continued..

cieh udah keluar ya kelanjutannya :P
BalasHapusbaru baca setengah nih hehehe
semangat"hyun.... kelanjutannya biar nanti kalo udah selese bacanya bisa lanngsung lanjut :D gan gan gan batte :D
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapus